Blog

  • Media Digital Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Aktivitas Mahasiswa

    suaraislam.id

    Lhokseumawe – Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan mahasiswa. Mulai dari mencari referensi kuliah, berkomunikasi dengan teman, hingga mengakses hiburan, media digital kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.

    Beragam platform media sosial, aplikasi produktivitas, serta layanan hiburan digital digunakan mahasiswa untuk mendukung kebutuhan akademik maupun aktivitas pribadi. Kehadiran teknologi tersebut dinilai mampu mempermudah akses informasi dan mempercepat komunikasi dalam lingkungan perkuliahan.

    Salah satu mahasiswa Universitas Malikussaleh, Alia Salsabila, mengungkapkan bahwa media digital memiliki peran penting dalam menunjang kegiatan perkuliahannya. Menurutnya, hampir seluruh aktivitas akademik saat ini bergantung pada pemanfaatan teknologi digital.

    “Menurutku media digital sangat membantu saya ya kak, apalagi dalam mencari referensi, mengerjakan tugas, berkomunikasi dengan teman. Apalagi kan sekarang hari Jumat itu WPH, jadi hampir semua aktivitas perkuliahan sekarang itu enggak lepas dari yang namanya penggunaan teknologi digital,” ujar Alia Salsabila.

    Selain untuk kebutuhan akademik, mahasiswa juga memanfaatkan media digital sebagai sarana hiburan dan mengisi waktu luang. Platform seperti media sosial, layanan streaming, hingga aplikasi musik menjadi pilihan untuk melepas penat setelah menjalani kegiatan perkuliahan.

    Namun, penggunaan media digital yang semakin intens juga menuntut mahasiswa untuk mampu mengelola waktu dengan baik. Kemudahan mengakses berbagai platform dapat meningkatkan produktivitas, tetapi di sisi lain juga berpotensi menimbulkan distraksi apabila digunakan secara berlebihan.

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan memanfaatkan media digital secara bijak menjadi keterampilan yang penting bagi mahasiswa. Dengan penggunaan yang tepat, media digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi alat pendukung pembelajaran, komunikasi, dan pengembangan diri di era digital saat ini.

    Jurnalis: Fitri Yani Napitupulu

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Kisah Rijal Arrasyid Membangun Bisnis Rijal Photograph

    Lhokseumawe, (06/06/2026) — Bagi mayoritas mahasiswa tingkat akhir, semester delapan adalah fase krusial yang dipenuhi kecemasan, tumpukan revisi, dan tekanan masa depan. Namun, di sela-sela helaan napas berat sebagai mahasiswa akhir Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal), Rijal Arrasyid (22) memilih jalan yang berbeda.

    Ia menolak membiarkan waktu luangnya menguap sia-sia. Di ruang tajam antara idealisme kuliah dan realita hidup, ia melangkah berani menghidupkan mimpi lamanya, sebuah bisnis fotografi yang ia beri nama Rijal Photograph.

    Jika ditarik benang merahnya, rahim dari bisnis ini bukanlah modal instan yang turun dari langit, melainkan aroma minyak goreng dan gurihnya tusukan sempol di masa SMA.

    Ya, jauh sebelum jemarinya akrab dengan tombol shutter kamera, Rijal adalah seorang petarung. Demi sebuah mimpi bernama fotografi, ia rela berjualan sempol saat masih berseragam sekolah. Uang-uang receh hasil keringatnya itu ia selipkan satu demi satu ke dalam tabungan.

    Saat itu, ketertarikannya pada dunia visual terbentur dinding tebal, ia tidak memiliki alat yang memadai. Kamera adalah kemewahan yang belum mampu ia jangkau. Namun, Rijal menolak menyerah pada keadaan.

    Penantian Panjang yang Pecah di Semester 7

    Waktu bergulir, dari bangku sekolah hingga menembus bangku kuliah. Konsistensi menabung itu akhirnya berbuah manis saat Rijal menginjak semester 7. Celengan mimpi yang ia rawat bertahun-tahun akhirnya pecah, menyisakan dana yang cukup untuk membeli sebuah kamera impian.

    Di sinilah letak keberanian sesungguhnya. Begitu fisik kamera berada di genggaman, Rijal tidak menunggu sampai dirinya menjadi “ahli”. Ia langsung melempar diri ke pasar, berani menerima pesanan bookingan jasa fotografi dari luar.

    Sambil menyelam minum air, sembari mencari nafkah lewat statusnya sebagai fotografer freelance, ia terus memutar otak untuk meningkatkan keterampilan (skill) fotografinya dan perlahan melakukan upgrade pada alat-alat tempurnya. Baginya, status mahasiswa akhir bukanlah alasan untuk berdiam diri, melainkan momentum emas untuk pandai membagi waktu antara kewajiban akademis dan hasrat berbisnis.

    Menjinakkan Monster Internal dan Drama Ghosting

    Namun, layar berekspresi tidak selamanya menampilkan gambar yang indah. Rijal harus bertarung di dua medan perang yang menguras energi.

    Secara internal, ia kerap kali dihantam badai insecurity. Monster di dalam kepalanya sering berbisik, meragukan apakah kemampuannya sudah cukup layak disandingkan dengan fotografer lain.

    Sementara dari luar, ia harus menelan pil pahit dunia bisnis, menghadapi calon konsumen yang tidak jelas. Ujian mental terberatnya adalah saat drama di “ghosting” terjadi ketika calon klien sudah berkata sepakat untuk melakukan booking, namun tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi tanpa kepastian.

    Dari seluruh asam garam yang ia telan di usia muda, Rijal menitipkan sebuah pesan mendalam. Sebuah refleksi tamparan bagi siapa saja yang baru ingin melangkah.

    “Siapkan mental gagal. Kadang seseorang memulai bisnis hanya membayangkan profit atau bisnis yang terus berkembang, padahal ada kegagalan yang kadang enggak siap diterima. Semua pebisnis siap berhasil, tapi tidak siap untuk gagal.” Ujar Rijal Arrasyid

    Kisah Rijal Arrasyid adalah sebuah romansa tentang perjuangan seorang mahasiswa. Ia mengajarkan kita bahwa dari sebungkus sempol dan kamera pertama di semester tujuh, sebuah keberanian bisa mengubah ketidakpastian mahasiswa tingkat akhir menjadi sebuah karya yang abadi.

    Reporter: Salsabila Ayu

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Korupsi dan Hak Anak: Ketika Program Makan Bergizi Kehilangan Kepercayaan Publik

    source by jakartamu.com

    Lhokseumawe, 6 Juni 2026 I Penetapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebagai tersangka dugaan korupsi dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengejutkan banyak pihak. Program yang sejak awal digadang-gadang sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia kini justru menghadapi krisis kepercayaan publik. Kasus ini bukan hanya persoalan hukum atau kerugian negara, tetapi juga menyangkut hak anak yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan publik.

    Program Makan Bergizi Gratis lahir dengan tujuan yang mulia. Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang cukup guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. Di tengah masih tingginya persoalan gizi dan stunting di berbagai daerah, kehadiran program tersebut sempat memberikan harapan besar bagi masyarakat.

    Namun, harapan itu mulai memudar ketika dugaan penyimpangan anggaran menyeret nama pejabat yang berada di pucuk pelaksana program. Kejaksaan Agung menetapkan Dadan Hindayana dan sejumlah mantan pejabat BGN sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG periode 2025–2026. Dugaan tersebut mencakup penyimpangan dalam pengelolaan program dan penunjukan mitra yang tidak sesuai ketentuan.

    Menurut penulis, korupsi dalam program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan anak-anak merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanat publik. Ketika dana yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak disalahgunakan, yang dirugikan bukan hanya negara, tetapi juga jutaan anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

    Dampak korupsi tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, penyimpangan anggaran dapat memengaruhi kualitas layanan yang diterima masyarakat. Dalam konteks MBG, hal itu dapat berdampak pada kualitas makanan, distribusi program, maupun efektivitas pelaksanaannya. Pada akhirnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menanggung akibatnya.

    Selain merugikan hak anak, kasus ini juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Program yang semula mendapat dukungan luas kini mulai dipertanyakan efektivitas dan pengawasannya. Padahal, kepercayaan publik merupakan modal penting bagi keberhasilan setiap kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.

    Kasus yang menyeret Dadan Hindayana seharusnya menjadi pelajaran bahwa program sebesar apa pun tidak akan berjalan baik tanpa transparansi dan pengawasan yang kuat. Pengelolaan anggaran publik harus dilakukan secara terbuka agar masyarakat dapat ikut mengawasi pelaksanaannya. Di sisi lain, penegakan hukum yang tegas juga diperlukan untuk memastikan tidak ada pihak yang kebal terhadap hukum.

    Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis tetap merupakan kebijakan yang memiliki tujuan baik. Namun, tujuan tersebut hanya dapat tercapai apabila pelaksanaannya bersih dari praktik korupsi. Sebab ketika dana yang diperuntukkan bagi anak-anak disalahgunakan, yang hilang bukan hanya uang negara, melainkan juga kesempatan mereka untuk tumbuh sehat dan memperoleh masa depan yang lebih baik. Karena itu, menjaga integritas program yang menyangkut hak anak adalah tanggung jawab bersama demi mengembalikan kepercayaan publik yang telah tercoreng.

    Penulis: Roito Simanjuntak
    Editor: Adilah Syahputri

  • Peusijuek Aneuk Agam, Warisan Adat Aceh yang Mengiringi Khitanan Anak Laki-Laki

    Source: acehTrend.com

    Lhokseumawe, 6 Juni 2026 – Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti sebuah keluarga saat prosesi Peusijuek Aneuk Agam (tepung tawar anak laki-laki) dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian adat khitanan. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Aceh ini menjadi simbol doa, rasa syukur, serta harapan agar anak yang dikhitan tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan berguna bagi agama, keluarga, serta masyarakat.

    Dalam prosesi tersebut, Muhammad Haris, yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), duduk dengan tenang di hadapan keluarga dan para tetua adat. Secara bergantian, mereka memercikkan air peusijuek sambil melantunkan doa-doa keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi Haris yang tengah memasuki salah satu tahapan penting dalam kehidupannya.

    Peralatan adat yang digunakan dalam peusijuek tampak lengkap, di antaranya daun seuneujuk, daun cocor bebek, naleung samboe, dan daun manek manoe yang dirangkai menjadi satu ikatan sebagai alat pemercik air peusijuek. Selain itu, turut disediakan beras padi, air tepung tawar, serta ketan kuning yang melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, dan harapan akan masa depan yang baik.

    Muhammad Haris mengaku senang dapat menjalani prosesi adat yang menjadi bagian dari budaya Aceh tersebut. Ia juga merasa bangga karena dapat melaksanakan khitanan yang disertai dengan doa dan restu dari keluarga besar, dan acara ini sudah lama ditunggu – tunggu.

    “Saya senang karena keluarga dan saudara saya yang jauh maupun yang dekat datang memberikan doa. Semoga saya menjadi anak yang baik, rajin belajar, dan bisa membanggakan orang tua,” ujar Muhammad Haris.

    Masyarakat yang hadir menilai bahwa tradisi peusijuek bukan sekadar ritual adat, melainkan sarana untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Kehadiran keluarga besar dan para tetangga dalam acara tersebut menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

    Di tengah perkembangan zaman, tradisi peusijuek masih terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Aceh yang kaya akan nilai religius dan sosial. Prosesi khitanan yang dipadukan dengan peusijuek menjadi bukti bahwa adat istiadat dan ajaran agama tetap berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

    Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan jamuan makan yang dihadiri keluarga serta para tamu undangan, menambah kehangatan suasana dan memperkuat semangat kebersamaan yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat Aceh.

    Reporter : Nana Afriani

    Editor : Zulfiana

  • Air Terjun Rayap, Destinasi Wisata Alam Favorit Dekat Lhokseumawe

    Sumber: Tamiangtraveller

    Aceh Utara, 6 Juni 2026– Air Terjun Rayap menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi di Aceh Utara. Berlokasi tidak jauh dari Kota Lhokseumawe, tempat ini menawarkan suasana yang sejuk, asri, dan cocok bagi wisatawan yang ingin melepas penat dari aktivitas sehari-hari.

    Air Terjun Rayap dapat ditemukan di kawasan Desa Panton Rayeuk Sa, Kecamatan Kuta Makmur, serta Desa Alue Papuen, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Dari Kota Lhokseumawe, perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar satu jam dengan jarak tempuh kurang lebih 25 kilometer.

    Keindahan alam yang masih terjaga menjadi daya tarik utama destinasi ini. Air yang mengalir jernih di antara bebatuan serta pepohonan hijau yang mengelilingi kawasan air terjun menciptakan suasana tenang dan menyegarkan.

    Selain menikmati pemandangan, pengunjung juga dapat bermain air, bersantai bersama keluarga, atau sekadar menikmati udara segar khas pegunungan. Tidak sedikit wisatawan yang memanfaatkan aliran air di lokasi ini untuk relaksasi karena terasa sejuk dan menyegarkan.

    Sejak mulai dikenal luas beberapa tahun terakhir, Air Terjun Rayap terus menjadi pilihan wisata favorit masyarakat Aceh Utara dan Lhokseumawe. Lokasinya yang relatif dekat dari pusat kota membuat tempat ini sering dikunjungi saat akhir pekan maupun hari libur.

    Untuk menikmati keindahan alam di kawasan ini, pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir yang terjangkau, sekitar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil.

    Dengan panorama alam yang masih alami, udara yang sejuk, serta akses yang cukup mudah dijangkau dari Lhokseumawe, Air Terjun Rayap menjadi salah satu destinasi wisata alam yang layak masuk dalam daftar kunjungan saat berada di Aceh Utara.

    Reporter : Amanda Nuri S. A

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Antara Ekspresi Diri dan Kepatuhan: Mahasiswa Unimal Menyesuaikan Gaya Berpakaian Di Kampus

    Lhokseumawe – Gaya berpakaian menjadi salah satu bentuk ekspresi diri yang banyak dilakukan mahasiswa di lingkungan kampus. Namun, di tengah kebebasan berekspresi, mahasiswa tetap dituntut untuk mematuhi aturan berpakaian yang berlaku. Bagi sebagian mahasiswa, menyesuaikan identitas diri dengan regulasi kampus menjadi tantangan tersendiri dalam kehidupan akademik sehari-hari. (05/06/26)

    Mahasiswa Universitas Malikussaleh, Adilah Syahputri, mengungkapkan bahwa kenyamanan menjadi faktor utama yang ia pertimbangkan dalam memilih pakaian untuk dikenakan ke kampus. Menurutnya, aktivitas perkuliahan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari membuat pakaian yang nyaman menjadi kebutuhan penting.

    “Kalau aku, yang paling utama itu kenyamanan. Di kampus kan bisa seharian, jadi aku lebih memilih pakaian yang nyaman dipakai dan tidak membuat gerah. Selain itu, aku juga mempertimbangkan apakah pakaian tersebut sopan dan sesuai dengan aturan kampus,” ujarnya.

    Dalam menentukan gaya berpakaian, Adillah mengaku cukup terpengaruh oleh media sosial, terutama platform TikTok dan Pinterest. Berbagai referensi outfit kampus yang sederhana namun tetap menarik menjadi inspirasinya. Meski demikian, ia tidak selalu mengikuti tren yang sedang populer.

    “Biasanya aku memilih yang sesuai dengan selera dan kepribadian aku sendiri. Jadi tidak semua tren aku ikuti,” katanya.

    Adillah juga pernah mengalami pengalaman ditegur karena pakaian yang dikenakannya dianggap kurang sesuai dengan ketentuan kampus. Hal tersebut terjadi pada masa awal perkuliahannya ketika ia masih belum memahami aturan berpakaian yang berlaku.

    “Waktu itu aku memakai celana yang dianggap terlalu kasual. Aku ditegur secara baik-baik oleh pihak kampus, dan dari situ aku jadi lebih memahami aturan yang ada,” jelasnya.

    Menurut Adillah, kebebasan berekspresi melalui pakaian tetap memiliki batas yang harus dihormati. Ia menilai bahwa mahasiswa masih dapat menunjukkan identitas diri melalui gaya berpakaian tanpa harus melanggar regulasi kampus.

    “Batasnya ketika cara kita berekspresi mulai bertentangan dengan aturan yang sudah ditetapkan kampus. Kita tetap bisa menunjukkan gaya dan identitas diri, tetapi harus menghormati lingkungan kampus sebagai tempat pendidikan,” tuturnya.

    Ia juga menegaskan bahwa pakaian merupakan salah satu cara seseorang menampilkan karakter dan kepribadiannya. Melalui cara berpakaian, seseorang dapat menunjukkan minat, gaya hidup, hingga tingkat kepercayaan dirinya.

    Untuk menyeimbangkan antara identitas diri dan kepatuhan terhadap aturan kampus, Adillah memilih mencari jalan tengah. Ia tetap mengenakan pakaian yang mencerminkan gaya pribadinya, namun dengan menyesuaikan model dan penggunaannya sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan kampus.

    “Menurut aku, kita tetap bisa tampil sesuai diri sendiri tanpa harus melanggar aturan. Yang penting, kita tahu bagaimana menyesuaikan gaya berpakaian dengan norma dan aturan kampus,” pungkasnya.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi mahasiswa, fashion bukan hanya soal penampilan, tetapi juga sarana untuk mengekspresikan identitas diri. Di sisi lain, kesadaran untuk mematuhi aturan kampus tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang tertib dan profesional.

    Jurnalis: Nazwa Fitri Andini

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Warga Panton Labu Keluhkan Debu Pascabanjir yang Tak Kunjung Teratasi

    Panton Labu, 05 Juni 2026 — Beberapa bulan setelah banjir melanda Panton Labu dan sejumlah wilayah sekitarnya, warga masih menghadapi dampak lanjutan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Debu yang beterbangan di jalan dan pemukiman menjadi keluhan utama masyarakat karena tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga.

    Debu berasal dari endapan lumpur sisa banjir yang mengering akibat cuaca panas dalam beberapa bulan terakhir. Setiap kali kendaraan melintas, debu beterbangan dan menyelimuti jalan serta rumah-rumah warga di sekitar kawasan terdampak.

    Kondisi tersebut membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah dan menutup pintu maupun jendela untuk mengurangi masuknya debu. Selain mengganggu kenyamanan, debu juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.

    “Kalau siang hari debunya sangat parah. Baru beberapa menit menyapu rumah, debu sudah masuk lagi. Anak-anak juga sering batuk dan pilek,” keluh seorang warga setempat.

    Menurut warga, hingga kini upaya pembersihan dan penyiraman jalan belum dilakukan secara rutin. Sementara itu, kondisi jalan yang padat dilalui kendaraan turut memperparah penyebaran debu ke berbagai sudut permukiman.

    Meski banjir telah berlalu berbulan-bulan, masyarakat masih harus menghadapi dampak lanjutan yang tidak kalah mengganggu. Bahkan pada momen Iduladha yang biasanya identik dengan suasana nyaman dan penuh kebersamaan, sebagian warga masih memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

    Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan, seperti penyiraman jalan secara berkala, pembersihan endapan lumpur yang masih tersisa, serta perbaikan infrastruktur pascabanjir. Warga menilai upaya tersebut penting untuk mengurangi dampak debu yang terus dirasakan dan mengembalikan kenyamanan lingkungan.

    Reporter: Raisa Salsabila

    Editor : Zulfiana

  • Di Antara Pencapaian Orang Lain, Zahra Belajar Menghargai Prosesnya Sendiri

    Source Doc: JawaPost.com

    Lhokseumawe, (05/06/2026). Malam itu, Zahra (22) masih duduk di warung tempat ia bekerja sambil menunggu pembeli datang. Di sela-sela waktunya, ia membuka media sosial dan melihat berbagai unggahan teman-temannya. Ada yang baru wisuda, mendapat pekerjaan, hingga membagikan pencapaian yang membuatnya merasa tertinggal.

    “Kadang saya merasa insecure kalau melihat teman-teman sudah wisuda atau punya pekerjaan yang lebih baik. Sementara saya masih bekerja di sini dan belum tahu kapan bisa sampai seperti mereka,” ujar Zahra. Perempuan 22 tahun itu kini bekerja menjaga warung untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

    Perasaan yang dialami Zahra ternyata juga dirasakan banyak anak muda. Media sosial membuat seseorang dapat dengan mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari. Tanpa disadari, hal tersebut sering memunculkan kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan kehidupan yang terlihat di layar ponsel.

    Namun, apa yang tampak di media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan sepenuhnya. Di balik setiap pencapaian, ada proses panjang yang jarang diketahui banyak orang. Perjuangan, kegagalan, dan berbagai kesulitan sering kali tidak ikut terlihat dalam sebuah unggahan.

    Seiring berjalannya waktu, Zahra mulai belajar menghargai proses yang sedang ia jalani. Baginya, bekerja dengan jujur dan membantu keluarga juga merupakan sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan hidup yang berbeda.

    Kini, Zahra memilih untuk lebih fokus pada dirinya sendiri daripada terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Meski belum berada di titik yang diimpikan, ia percaya setiap usaha akan membawa hasil pada waktunya. Baginya, tidak masalah jika berjalan lebih lambat, selama ia terus melangkah dan tidak berhenti berproses.

    Reporter: Rahma Annisa Siregar

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Dolar Tembus Rp18.000: Ancaman Nyata bagi Daya Beli Masyarakat Indonesia

    search by TAGAR.CO

    Lhokseumawe, 5 Juni 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian setelah sempat menembus angka Rp18.000 per dolar. Bagi sebagian orang, kenaikan dolar mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam berita ekonomi. Namun, menurut penulis, kondisi ini memiliki dampak yang nyata terhadap kehidupan masyarakat karena berpotensi memengaruhi harga barang, biaya hidup, dan daya beli.

    Dolar Amerika Serikat masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional. Ketika dolar naik dan rupiah melemah, biaya impor barang dari luar negeri menjadi lebih mahal. Indonesia yang masih mengimpor berbagai kebutuhan, seperti bahan baku industri, alat elektronik, dan beberapa komoditas pangan, tentu akan merasakan dampaknya. Kenaikan biaya impor tersebut dapat mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.

    Ada beberapa penyebab yang membuat rupiah melemah hingga mendekati atau bahkan tembus Rp18.000 per dolar. Salah satunya adalah kondisi ekonomi global yang belum stabil. Konflik geopolitik, ketidakpastian ekonomi dunia, dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat sering membuat investor lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar. Akibatnya, permintaan dolar meningkat sementara nilai tukar rupiah mengalami tekanan.

    Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi dalam negeri juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Ketergantungan terhadap impor dan keluarnya arus modal asing dapat memperlemah posisi rupiah. Menurut penulis, kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu memperkuat sektor produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada pasar global.

    Dampak yang paling dirasakan masyarakat dari menguatnya dolar adalah menurunnya daya beli. Ketika biaya produksi meningkat, harga barang dan jasa ikut naik. Sementara itu, pendapatan masyarakat tidak selalu mengalami kenaikan yang sebanding. Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada barang impor. Banyak produk dalam negeri juga bergantung pada bahan baku atau mesin dari luar negeri. Oleh karena itu, pelemahan rupiah dapat memengaruhi harga berbagai kebutuhan, mulai dari perangkat elektronik hingga beberapa kebutuhan pokok. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia berpotensi mengalami perlambatan.

    Mahasiswa dan generasi muda juga tidak luput dari dampak tersebut. Harga laptop, telepon genggam, perangkat lunak, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang menggunakan komponen impor dapat menjadi lebih mahal. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan biaya.

    Bagi pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah, kenaikan dolar juga dapat meningkatkan biaya operasional. Banyak pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor. Akibatnya, keuntungan usaha dapat berkurang atau bahkan memaksa mereka menaikkan harga produk. Pada akhirnya, kondisi tersebut kembali berdampak kepada masyarakat sebagai konsumen.

    Meskipun demikian, pelemahan rupiah tidak selalu membawa dampak negatif. Beberapa sektor yang berorientasi ekspor justru dapat memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, menurut penulis, manfaat tersebut belum tentu langsung dirasakan oleh sebagian besar masyarakat sehingga dampak terhadap daya beli tetap menjadi perhatian utama.

    Pada akhirnya, dolar yang tembus Rp18.000 bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Kondisi ini memiliki dampak langsung bagi masyarakat melalui kenaikan harga barang dan menurunnya daya beli. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi serta meningkatkan ketahanan sektor produksi dalam negeri agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin membebani masyarakat.

    Penulis: Roito Simanjuntak
    Editor: Adilah Syahputri

  • Mie Gacoan Hadir di Lhokseumawe, Tawarkan Menu Mie Pedas dengan Harga Terjangkau

    SteemAtlas@wuland

    Lhokseumawe, 5 Juni 2026- Kehadiran Mie Gacoan di Kota Lhokseumawe menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan anak muda. Gerai yang dikenal dengan menu mie pedas dan harga terjangkau ini menjadi salah satu pilihan kuliner baru bagi warga setempat.

    Sejak mulai beroperasi, Mie Gacoan kerap dipadati pengunjung yang ingin mencoba berbagai varian mie serta menu pendamping yang tersedia. Konsep tempat makan yang santai juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk berkumpul bersama teman maupun keluarga.

    Selain menawarkan cita rasa khas, Mie Gacoan dikenal dengan harga menu yang relatif terjangkau. Berbagai promo dan voucher yang tersedia melalui platform digital turut menjadi alasan banyak pelanggan tertarik berkunjung.

    Kehadiran Mie Gacoan menambah pilihan kuliner di Lhokseumawe, khususnya bagi pecinta mie. Meski demikian, masyarakat tetap memiliki beragam alternatif kuliner mie lainnya yang telah lama dikenal dengan harga yang bervariasi.

    Dengan hadirnya gerai ini, pilihan tempat makan di Lhokseumawe semakin beragam. Mie Gacoan menjadi salah satu destinasi kuliner yang menawarkan menu mie pedas dengan harga yang ramah di kantong, terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.

    Reporter : Amanda Nuri S.A

    Editor : Cut Dinda Risna Muly