
Source : INFOACEH.net
Lhokseumawe, 06/07,2026 – Ranup atau sirih masih menjadi simbol penghormatan dalam tradisi Peumulia Jamee atau memuliakan tamu yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Aceh. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari adat istiadat Aceh sebagai bentuk penghormatan, keramahan, dan penerimaan kepada tamu yang berkunjung.
Ranup tidak hanya dipandang sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga memiliki makna sosial yang mencerminkan nilai saling menghargai dan mempererat hubungan antarsesama. Penyajian ranup telah dilakukan secara turun-temurun dan masih dijumpai dalam berbagai kegiatan adat maupun penyambutan tamu di Aceh.
Salah seorang warga Lhokseumawe, Dinda, mengatakan bahwa ranup memiliki makna yang lebih dari sekadar tradisi.
“Menurut saya, ranup atau sirih memiliki makna yang sangat penting dalam budaya Aceh. Ranup bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga menjadi simbol penghormatan, keramahan, dan penerimaan kepada orang lain. Dalam tradisi Peumulia Jamee, penyajian ranup menjadi salah satu cara masyarakat Aceh menunjukkan rasa hormat kepada tamu yang datang,” ujar Dinda.
Menurut Dinda, tradisi penyajian ranup juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga sopan santun, mempererat hubungan sosial, dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Ia berharap generasi muda dapat terus mengenal dan melestarikan tradisi ranup agar tetap menjadi identitas budaya Aceh di masa mendatang.
Reporter: Nasa Aulia
Editor : Zulfiana
Leave a Reply