Author: ruanglensaa@gmail.com

  • Relawan Muda, Cara Mahasiswa Batang Toru Berbagi untuk Korban Banj

    Lhokseumawe – Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, sebagian mahasiswa memilih mengisi waktu luang dengan menjadi relawan kemanusiaan. Sejumlah mahasiswa Universitas Malikussaleh asal Batang Toru bersama rekan-rekan relawan lainnya menunjukkan kepedulian tersebut dengan terlibat dalam kegiatan membantu masyarakat yang terdampak banjir di Batang Toru.

    Bersama Palang Merah Indonesia (PMI), mereka mengikuti kegiatan trauma healing bagi anak-anak serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan selama masa pemulihan pascabanjir.

    Selama kegiatan berlangsung, para relawan mahasiswa mengajak anak-anak bermain, menggambar, bernyanyi, dan mengikuti berbagai permainan edukatif untuk membantu mengurangi trauma akibat bencana. Mereka juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengelola sampah dengan baik untuk mencegah munculnya penyakit setelah banjir.

    Salah seorang relawan, Rahmat Ariyadi, mahasiswa Universitas Malikussaleh asal Batang Toru, mengatakan bahwa pengalaman menjadi relawan memberikan banyak pelajaran berharga. Selain dapat membantu masyarakat, kegiatan tersebut juga menumbuhkan rasa empati, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama dengan berbagai pihak.

    “Melalui kegiatan ini kami belajar bahwa membantu masyarakat tidak selalu dalam bentuk materi. Kehadiran, perhatian, dan edukasi sederhana juga bisa memberikan manfaat, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan setelah mengalami bencana,” ujar Rahmat.

    Menurutnya, menjadi relawan merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Meski harus membagi waktu antara kuliah dan kegiatan sosial, pengalaman yang diperoleh menjadi bekal berharga bagi kehidupan di masa depan.

    Semangat yang ditunjukkan para mahasiswa ini membuktikan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Di tengah kesibukan akademik, mereka tetap menyisihkan waktu untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat melalui aksi kemanusiaan.

    Penulis: Fitri Yani Napitupulu

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Mengapa Orang Mudah Percaya Hoaks? Tantangan Literasi Digital di Era Disinformasi

    Source by Mafindo.com

    Lhokseumawe, 15/6/2026 | Kemajuan teknologi informasi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai berita dan informasi. Hanya melalui telepon genggam, seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan baru yang semakin mengkhawatirkan, yaitu maraknya penyebaran hoaks atau berita bohong. Ironisnya, masih banyak orang yang dengan mudah mempercayai bahkan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
    Hoaks bukan lagi sekadar informasi palsu yang dibuat untuk hiburan. Saat ini, hoaks sering digunakan untuk menggiring opini publik, memengaruhi cara pandang masyarakat, hingga memicu konflik sosial. Berbagai isu, mulai dari kesehatan, politik, ekonomi, hingga bencana alam, kerap menjadi sasaran penyebaran disinformasi. Akibatnya, masyarakat menjadi bingung dalam membedakan mana informasi yang benar dan mana yang merupakan hasil manipulasi.
    Menurut pandangan penulis, salah satu alasan mengapa orang mudah percaya hoaks adalah karena informasi tersebut sering kali disajikan dengan cara yang meyakinkan. Judul yang provokatif, penggunaan foto atau video yang tampak nyata, serta narasi yang menyentuh emosi membuat banyak orang langsung mempercayainya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Tidak sedikit pula masyarakat yang lebih memilih mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan atau pendapat pribadinya, meskipun belum tentu benar.
    Faktor emosional juga berperan besar dalam penyebaran hoaks. Informasi yang memancing rasa takut, marah, sedih, atau terkejut cenderung lebih cepat mendapatkan perhatian dan dibagikan kepada orang lain. Sayangnya, ketika emosi lebih dominan daripada logika, kemampuan berpikir kritis menjadi berkurang. Akibatnya, seseorang dapat menjadi bagian dari rantai penyebaran disinformasi tanpa menyadari dampak yang ditimbulkannya.
    Rendahnya tingkat literasi digital menjadi tantangan serius di era disinformasi. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi yang diterima. Banyak masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan media sosial, tetapi belum memiliki keterampilan untuk menilai kredibilitas suatu sumber informasi.
    Fenomena ini dapat dilihat dari kebiasaan membagikan berita hanya berdasarkan judul tanpa membaca isi secara utuh. Ada pula yang langsung meneruskan pesan dari grup percakapan keluarga atau teman karena menganggap informasi tersebut berasal dari orang yang dipercaya. Padahal, kedekatan hubungan tidak menjamin bahwa informasi yang dibagikan telah melalui proses verifikasi.
    Bahaya hoaks tidak boleh dianggap sepele. Disinformasi dapat menimbulkan kepanikan, memecah belah masyarakat, merusak reputasi seseorang, bahkan memengaruhi pengambilan keputusan publik. Dalam konteks kesehatan, misalnya, hoaks dapat membuat masyarakat mengabaikan anjuran medis yang benar. Dalam konteks politik, berita palsu dapat memicu kebencian dan memperuncing perbedaan pendapat di tengah masyarakat.
    Perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan teknik manipulasi digital juga semakin memperumit persoalan ini. Foto, video, maupun rekaman suara kini dapat dimodifikasi sedemikian rupa hingga tampak asli. Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang beredar di ruang digital.
    Oleh karena itu, peningkatan literasi digital perlu menjadi perhatian bersama. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, media massa, hingga pemerintah memiliki peran penting dalam membangun budaya berpikir kritis di masyarakat. Edukasi mengenai cara memeriksa fakta, mengenali sumber informasi yang kredibel, serta memahami etika bermedia sosial perlu dilakukan secara berkelanjutan.
    Sebagai pengguna media digital, kita juga memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadi penyebar hoaks. Langkah sederhana seperti membaca informasi secara lengkap, memeriksa sumber berita, membandingkan dengan media terpercaya, dan berpikir sebelum membagikan informasi dapat membantu memutus rantai penyebaran disinformasi.
    Pada akhirnya, hoaks akan terus bermunculan seiring dengan perkembangan teknologi. Namun, masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik tidak akan mudah terjebak dalam manipulasi informasi. Kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan memverifikasi fakta menjadi kunci utama untuk menghadapi tantangan di era disinformasi.
    Sebagai generasi yang hidup di tengah derasnya arus informasi, kita tidak hanya dituntut untuk cepat menerima berita, tetapi juga bijak dalam menyikapinya. Jangan sampai kemudahan mengakses informasi justru membuat kita kehilangan kemampuan untuk membedakan kebenaran. Sebab, di era digital saat ini, melawan hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau media, melainkan tanggung jawab bersama demi terciptanya masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan tidak mudah dimanipulasi.

    Penulis: Roito Simanjuntak
    Editor: Adilah Syahputri

  • Menapak Usia, Nazwa Menebar Kasih Lewat Bungkusan Kecil dan Doa

    Source Doc: antarafoto.com

    Lhokseumawe, (20/06/2026). Di usia yang terus beranjak, perayaan ulang tahun sering kali identik dengan pesta, kado mewah, atau sekadar tiup lilin bersama teman sebaya. Namun, bagi Nazwa atau kerap di sapa Wawa , angka yang bertambah di kalender justru menjadi pengingat untuk menengok ke luar jendela, melihat yang mungkin tidak pernah merayakan hari lahirnya sama sekali.

    Alih-alih mencari keriaan, wawa justru turun ke jalanan, membawa bungkusan kecil berisi nasi kotak, masker, atau sekadar berbagi pulsa bagi yang membutuhkan. Ini adalah kisah tentang Wawa yang memilih untuk merayakan usia dengan cara yang berbeda, menebar kebahagiaan melalui berbagi.

    Rutinitas Sederhana, Makna Mendalam

    Persiapan hari itu tidak melibatkan reservasi tempat atau undangan digital. Sehari sebelumnya, biasanya wawa sibuk menata bungkusan. Bagi Wawa, proses ini adalah bagian dari meditasi diri. Ada kepuasan batin saat memastikan setiap porsi makanan layak untuk diberikan.

    “Awalnya cuma iseng, tapi pas lihat senyum mereka, rasanya lebih plong dibanding dirayain meriah,” ujar Wawa.

    Bagi Wawa, ini adalah rutinitas yang menenangkan. Tidak ada ekspektasi muluk, hanya keinginan untuk bersyukur atas umur yang masih diberikan oleh Tuhan.

    Reaksi di Balik Trotoar

    Di sepanjang trotoar kota yang bising, reaksi yang diterima pun beragam. Ada tunawisma yang matanya berkaca-kaca saat menerima seporsi makanan, ada pula pengendara ojek daring yang tersenyum lebar saat menerima bantuan kecil.

    Setiap momen pertemuan di jalanan menjadi cermin. Bagi Wawa, menerima rasa syukur dari orang asing memberikan perspektif baru. Wawa menyadari bahwa bersyukur bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang menular. Reaksi sederhana dari penerima, sebuah doa singkat atau anggukan kepala menjadi kado ulang tahun terindah yang tidak bisa dibeli di toko mana pun.

    Dengan berbagi, Wawa merasa hidupnya lebih bermakna. Wawa tidak hanya merayakan diri sendiri, tetapi juga merayakan kehidupan itu sendiri. Bahwa di usia yang baru, ada harapan untuk menjadi manusia yang lebih peduli dan peka terhadap kesulitan orang lain.

    Di hari ulang tahunnya, mahasiswa ini tidak hanya bertambah usia secara angka, tetapi juga bertambah kedewasaannya. Wawa belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam apa yang kita kumpulkan, melainkan dalam apa yang kita lepaskan untuk orang lain.

    Reporter: Salsabila Ayu

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Pasar Tradisional Kian Sepi di Tengah Gempuran Pasar Modern dan Perubahan Gaya Belanja

    Source : CNBC Indonesia

    Lhokseumawe, 20/06/2026 – Aktivitas jual beli di Pasar Batuphat, Kota Lhokseumawe, tidak lagi seramai beberapa tahun lalu. Sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli terus menurun seiring perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih banyak beralih ke pasar modern dan layanan belanja daring.

    Sejak pagi, para pedagang tetap menata dagangan mereka seperti biasa. Namun, kondisi pasar dinilai berbeda dibandingkan sebelumnya ketika pembeli datang silih berganti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Salah seorang pedagang sayur mengaku penurunan jumlah pembeli mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, banyak masyarakat kini memilih berbelanja di supermarket atau melalui aplikasi karena dianggap lebih praktis.

    “Dulu pembeli datang silih berganti sejak pagi. Sekarang sampai menjelang pasar tutup masih banyak dagangan yang belum terjual,” ujarnya.

    Meski menghadapi berbagai tantangan, pasar tradisional masih memiliki daya tarik tersendiri. Selain harga yang dapat ditawar, pasar juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan pedagang dan pembeli dalam suasana yang lebih akrab.

    Pengamat sosial menilai pasar tradisional masih memiliki peluang untuk bertahan apabila didukung dengan perbaikan fasilitas, kebersihan, dan kenyamanan. Dukungan pemerintah serta kesadaran masyarakat untuk tetap berbelanja di pasar tradisional juga dinilai penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi kerakyatan.

    Keberadaan pasar tradisional tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya yang perlu terus dijaga di tengah perkembangan zaman.

    Reporter : Nana afriani

    Editor : Zulfiana

  • Pesona Air Terjun 7 Bidadari, Wisata Alam Tersembunyi di Bener Meriah

    TempatWisata.pro

    Bener Meriah, 20 Juni 2026– Air Terjun 7 Bidadari yang terletak di Hutan Syiah Utama Selatan, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Tempat ini menawarkan pemandangan alam yang masih asri dan mampu memberikan ketenangan bagi para pengunjung yang ingin melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

    Dikelilingi oleh pepohonan hijau dan udara yang sejuk, Air Terjun 7 Bidadari menghadirkan suasana yang nyaman bagi siapa saja yang datang. Keindahan air terjun ini terletak pada aliran airnya yang jernih serta lingkungan alam yang masih terjaga keasliannya.

    Suara gemericik air yang mengalir dari bebatuan menciptakan suasana yang menenangkan. Tak heran jika banyak pengunjung menghabiskan waktu di sekitar area air terjun untuk beristirahat, berfoto, maupun menikmati keindahan alam bersama teman dan keluarga.

    Untuk mencapai lokasi, wisatawan harus menempuh perjalanan darat menuju Kecamatan Syiah Utama. Setelah tiba di titik tertentu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang dikelilingi hutan. Meski rute menuju lokasi cukup menantang, pemandangan alam yang tersaji sepanjang perjalanan menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pecinta wisata alam dan petualangan.

    Air Terjun 7 Bidadari menjadi bukti potensi wisata alam yang dimiliki Kabupaten Bener Meriah. Dengan panorama yang indah dan lingkungan yang masih alami, destinasi ini layak menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati pesona alam Aceh sekaligus merasakan pengalaman berpetualang di tengah hutan.

    Reporter : Amanda Nuri S.A

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Mie Aceh, Cita Rasa Rempah yang Menyatukan Budaya

    Source : pizzateja.com

    Lhokseumawe, 19 / 06/ 2026 – Mie Aceh tidak hanya dikenal sebagai kuliner khas dengan cita rasa rempah yang kuat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh. Di balik kelezatannya, hidangan ini menyimpan cerita panjang tentang sejarah, pertemuan budaya, dan kehidupan sosial masyarakat di Tanah Rencong.

    Sebagai daerah yang sejak dahulu menjadi jalur perdagangan internasional, Aceh menerima berbagai pengaruh budaya dari Arab, India, dan Tiongkok. Kehadiran mi yang diyakini berasal dari pengaruh Tiongkok kemudian dipadukan dengan kekayaan rempah lokal seperti cabai, bawang, kunyit, jintan, dan lada, sehingga melahirkan cita rasa khas yang membedakan Mie Aceh dari hidangan mi lainnya di Indonesia.

    Bagi masyarakat Aceh, Mie Aceh bukan sekadar makanan. Hidangan ini kerap disajikan dalam berbagai momen kebersamaan, mulai dari pertemuan keluarga hingga jamuan untuk tamu. Kehadirannya mencerminkan nilai keramahan dan kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh.

    Budaya merantau yang kuat juga turut memperkenalkan Mie Aceh ke berbagai daerah di Indonesia. Melalui usaha kuliner yang dibuka para perantau, Mie Aceh kini mudah ditemukan di berbagai kota besar tanpa kehilangan ciri khasnya, baik dalam bentuk goreng, tumis, maupun kuah.

    Di tengah arus modernisasi dan hadirnya berbagai makanan cepat saji, Mie Aceh tetap bertahan sebagai kuliner tradisional yang dicintai masyarakat. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan dikenal lintas generasi.

    Lebih dari sekadar makanan, Mie Aceh merupakan simbol perjalanan sejarah, kekayaan budaya, dan identitas masyarakat Aceh yang terus terjaga hingga saat ini.

    Reporter: Raisa Salsabila

    Editor : Zulfiana

  • Ketika Privasi Menjadi Konten: Fenomena Oversharing yang Kian Mengkhawatirkan

    Source by Unsplash.com

    Lhokseumawe, 14/6/2026 | Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, hingga Threads dimanfaatkan untuk berbagi cerita, mengekspresikan diri, membangun relasi, bahkan mencari penghasilan. Kehadiran media sosial memang memberikan banyak manfaat, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga memperluas akses informasi. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dijumpai, yaitu oversharing atau kebiasaan membagikan terlalu banyak informasi pribadi kepada publik.
    Fenomena oversharing kini tidak hanya dilakukan oleh figur publik atau influencer, tetapi juga oleh masyarakat biasa, termasuk mahasiswa dan generasi muda. Banyak orang tanpa ragu mengunggah aktivitas sehari-hari secara rinci, mulai dari lokasi yang sedang dikunjungi, kondisi rumah, permasalahan keluarga, hubungan percintaan, hingga keluhan mengenai pekerjaan atau pendidikan. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan pengalaman pribadi yang bersifat sensitif sebagai konsumsi publik demi mendapatkan perhatian, validasi, atau sekadar mengikuti tren yang sedang berkembang.
    Menurut pandangan penulis, kebebasan berekspresi di media sosial memang merupakan hak setiap individu. Namun, kebebasan tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran mengenai batas antara ruang privat dan ruang publik. Tidak semua hal yang terjadi dalam kehidupan pribadi harus dibagikan kepada banyak orang. Ketika privasi mulai dianggap sebagai konten yang dapat dikonsumsi siapa saja, maka risiko yang muncul pun semakin besar.
    Salah satu dampak dari oversharing adalah ancaman terhadap keamanan diri. Informasi yang tampaknya sederhana, seperti lokasi terkini, jadwal aktivitas, atau data pribadi, dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan, pencurian identitas, hingga tindak kejahatan lainnya. Banyak kasus menunjukkan bahwa jejak digital yang dibagikan secara berlebihan justru menjadi celah yang membahayakan pemilik akun.
    Selain itu, oversharing juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Ketika seseorang terbiasa membagikan setiap aspek kehidupannya di media sosial, muncul kecenderungan untuk bergantung pada respons dari orang lain. Jumlah suka, komentar, dan perhatian publik seolah menjadi tolok ukur kebahagiaan maupun penerimaan sosial. Jika respons yang diterima tidak sesuai harapan, seseorang dapat merasa kecewa, cemas, bahkan mengalami penurunan rasa percaya diri.
    Fenomena ini juga berdampak pada hubungan sosial di dunia nyata. Konflik keluarga, pertengkaran dengan pasangan, atau masalah pertemanan yang seharusnya dapat diselesaikan secara pribadi justru dipublikasikan di media sosial. Akibatnya, persoalan yang semula bersifat pribadi berkembang menjadi konsumsi publik dan berpotensi memperkeruh keadaan. Tidak jarang, unggahan yang dibuat saat emosi justru menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
    Perkembangan budaya digital turut mendorong meningkatnya perilaku oversharing. Banyak pengguna media sosial merasa terdorong untuk selalu tampil terbuka agar dianggap autentik dan menarik. Di sisi lain, konten yang bersifat personal sering kali mendapatkan perhatian lebih besar dari warganet. Kondisi ini secara tidak langsung membentuk anggapan bahwa semakin banyak seseorang membuka kehidupan pribadinya, semakin besar pula peluang untuk memperoleh eksistensi di dunia maya.
    Padahal, menjaga privasi bukan berarti menjadi pribadi yang tertutup atau antisosial. Bijak dalam menggunakan media sosial justru menunjukkan kemampuan seseorang dalam melindungi dirinya sendiri. Pengguna perlu mempertimbangkan terlebih dahulu manfaat dan risiko sebelum membagikan sesuatu kepada publik. Pertanyaan sederhana seperti “Apakah informasi ini aman untuk diketahui banyak orang?” dapat membantu seseorang lebih berhati-hati sebelum mengunggah konten.
    Pendidikan literasi digital juga perlu diperkuat, terutama di kalangan generasi muda. Mahasiswa sebagai kelompok yang aktif menggunakan media sosial perlu memahami pentingnya menjaga jejak digital. Apa yang diunggah hari ini dapat tersimpan dalam waktu yang sangat lama dan berpotensi memengaruhi kehidupan di masa depan, termasuk dalam dunia pendidikan maupun karier profesional.
    Pada akhirnya, media sosial merupakan alat yang dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bijaksana. Oversharing bukanlah sekadar tren yang tampak sepele, tetapi fenomena yang perlu diwaspadai karena dapat membawa berbagai dampak negatif, baik terhadap keamanan, kesehatan mental, maupun hubungan sosial. Kebebasan berekspresi memang penting, tetapi menjaga batas privasi juga tidak kalah penting.
    Sebagai generasi yang hidup di era digital, kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal harus dibagikan kepada publik. Menjaga privasi bukan berarti membatasi diri, melainkan bentuk kepedulian terhadap keamanan dan kesejahteraan diri sendiri. Dengan menggunakan media sosial secara lebih bijak, kita dapat memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif tanpa harus mengorbankan ruang pribadi yang seharusnya tetap terjaga.

    Penulis: Roito Simanjuntak
    Editor: Adilah Syahputri

  • Nadira dan Perjuangan yang Bergema dalam Sunyi

    Source Doc: signsolutions.uk.com

    Lhokseumawe, (19/06/2026). Di tengah hiruk-pikuk kampus yang dipenuhi tawa dan percakapan mahasiswa, Nadira (21) hanya bisa menyaksikan semuanya dalam diam. Dunia yang didengar orang lain setiap hari tak pernah benar-benar sampai kepadanya. Dari kesunyian itulah lahir perjuangan yang kelak menginspirasi banyak orang.

    Menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa tuna rungu bukanlah perkara mudah bagi Nadira. Berbagai hambatan kerap menghadangnya, mulai dari sulit memahami penjelasan di kelas hingga terbatasnya komunikasi dengan lingkungan sekitar. Meski begitu, ia memilih bertahan ketika banyak alasan datang untuk menyerah.

    Ada hari-hari ketika Nadira merasa lelah dan tertinggal dari teman-temannya. Ia harus belajar lebih keras, membaca lebih banyak, dan berusaha memahami hal-hal yang bagi orang lain terasa sederhana. Namun setiap kesulitan justru membuatnya semakin kuat untuk melangkah.

    Di balik senyumnya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak semua orang lihat. Ia terus membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukan penghalang untuk meraih prestasi dan mimpi. Keteguhannya perlahan mengubah cara pandang banyak orang di sekitarnya.

    Seiring waktu, Nadira mulai mengajak teman-temannya mengenal bahasa isyarat dan memahami pentingnya akses yang setara bagi mahasiswa difabel. Langkah kecil itu menumbuhkan kepedulian di lingkungan kampus dan membuka ruang yang lebih inklusif bagi semua. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk dipisahkan.

    Kini, Nadira masih berjalan di koridor kampus yang sama dengan semangat yang tak pernah padam. Ia mungkin tidak dapat mendengar tepuk tangan yang diberikan untuknya. Namun jejak yang ditinggalkannya telah membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari suara yang keras, melainkan dari keberanian yang tetap bergema dalam sunyi.

    Reporter: Rahma Annisa Siregar

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Tekanan Akademik dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa

    Lhokseumawe, 19 Juni 2026 – Tekanan akademik yang tinggi masih menjadi tantangan utama yang dihadapi mahasiswa dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Berbagai tuntutan, mulai dari tugas kuliah, kegiatan organisasi, hingga target prestasi akademik, kerap memicu stres dan burnout yang berdampak pada kesehatan mental mahasiswa.

    Salah seorang mahasiswa Universitas Malikussaleh, Aulia Santika, mengungkapkan bahwa banyaknya tugas dan tenggat waktu yang datang secara bersamaan menjadi faktor utama yang menyebabkan dirinya mengalami stres. Menurutnya, tuntutan untuk memperoleh nilai yang baik serta kewajiban mengikuti berbagai kegiatan organisasi sering kali membuat mahasiswa merasa kelelahan secara fisik maupun mental.

    Aulia Santika menjelaskan bahwa ketika menghadapi tekanan akademik, ia biasanya mencari dukungan dari orang-orang terdekat. Teman dekat menjadi tempat pertama untuk berbagi cerita karena dianggap lebih memahami kondisi yang sedang dihadapi. Selain itu, keluarga, khususnya orang tua, juga berperan penting dalam memberikan motivasi dan semangat saat dirinya menghadapi berbagai kesulitan selama perkuliahan.

    Untuk mengurangi stres, Aulia Santika mengaku sering mencari suasana yang tenang, seperti berada di kamar kos, taman kampus, atau cafe yang nyaman untuk belajar. Menurutnya, lingkungan yang kondusif dapat membantu menenangkan pikiran dan mengembalikan fokus setelah menjalani aktivitas yang padat.

    Ia juga menuturkan bahwa gejala stres biasanya mulai dirasakan saat memasuki masa ujian atau ketika harus menyelesaikan beberapa tugas besar dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi tersebut sering menyebabkan dirinya sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan kehilangan semangat untuk melakukan aktivitas yang biasanya disukai.

    Lebih lanjut, Aulia Santika menilai bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena harus menghadapi berbagai tuntutan dalam waktu yang bersamaan. Selain kewajiban akademik, mahasiswa juga dituntut aktif dalam organisasi, menjaga hubungan sosial, serta mempersiapkan diri untuk dunia kerja setelah lulus. Perbedaan kemampuan dalam mengelola waktu dan tekanan juga menjadi faktor yang membuat tingkat stres setiap mahasiswa berbeda-beda.

    By: Nazwa Fitri Andini

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Bakso Koko, Kuliner Legendaris yang Tetap Digemari Warga Lhokseumawe

    Lhokseumawe, 19 Juni 2026– Bakso Koko yang berlokasi di Jalan Perdagangan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, terus menjadi salah satu pilihan kuliner favorit masyarakat. Menjelang waktu makan siang, warung bakso ini mulai dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati sajian bakso dengan cita rasa khas.

    Bakso Koko buka setiap hari mulai pukul 10.30 hingga 21.00 WIB. Tempat makan ini dikenal luas oleh masyarakat karena cita rasanya yang konsisten serta telah lama menjadi bagian dari perkembangan kuliner di Kota Lhokseumawe.Banyak pelanggan datang untuk menikmati bakso gurih dengan kuah hangat yang menjadi ciri khasnya.

    Kuliner yang telah lama menjadi favorit masyarakat Lhokseumawe ini juga sering dikunjungi oleh warga dari luar kota maupun masyarakat sekitar. Salah satu daya tarik utama Bakso Koko adalah porsinya yang mengenyangkan dengan beragam pilihan menu. Kuah kaldu yang kaya rasa serta tekstur bakso yang kenyal membuat pelanggan terus kembali. Selain bakso, tersedia pula mi, tahu, dan berbagai pelengkap lainnya yang menambah kenikmatan saat menyantap hidangan.

    Lokasinya yang berada di pusat kota membuat Bakso Koko mudah ditemukan. Saat jam makan siang maupun malam, hampir seluruh meja sering dipenuhi pelanggan yang datang bersama teman, keluarga, maupun rekan kerja. Di tengah menjamurnya berbagai usaha kuliner baru di Lhokseumawe, Bakso Koko tetap mampu mempertahankan eksistensinya. Banyak pelanggan masih memilih tempat ini karena rasa yang tetap terjaga serta pelayanan yang diberikan kepada pengunjung.

    Bagi pencinta kuliner, khususnya penggemar bakso, Bakso Koko menjadi salah satu tempat yang patut dikunjungi saat berada di Kota Lhokseumawe. Selain menyajikan makanan yang lezat, tempat ini juga menawarkan suasana nyaman untuk menikmati waktu makan bersama keluarga maupun orang terdekat.

    Reporter : Amanda Nuri S. A

    Editor : Cut Dinda Risna Muly