Blog

  • Di Balik Kesibukan Kampus, Mahasiswa Unimal Ungkap Pentingnya Self-Care untuk Menjaga Kesehatan Mental

    search by baladena.id

    Lhokseumawe, 4 Juni 2026 — Menjadi mahasiswa aktif di era saat ini tidak hanya dituntut untuk berprestasi di ruang kelas, tetapi juga mampu berkontribusi dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, isu kesehatan mental dan pentingnya self-care atau perawatan diri semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan mahasiswa yang rentan mengalami kelelahan akibat berbagai tuntutan akademik.

    Salah satu mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal), Joan Ayu Ramadhani, menilai bahwa menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Menurutnya, mahasiswa sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat hingga lupa memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.

    Joan mengaku selama ini berusaha mengatur waktunya dengan membuat jadwal mingguan agar setiap aktivitas dapat berjalan seimbang. Ia memprioritaskan perkuliahan dan tugas akademik pada hari kerja, sementara kegiatan organisasi dilakukan di luar jam kuliah.

    “Saya umumnya menyusun jadwal mingguan untuk menentukan kegiatan mana yang harus diprioritaskan. Pada hari kerja, saya lebih fokus pada perkuliahan dan tugas akademik, sementara kegiatan organisasi saya rencanakan di luar jam kuliah,” ujarnya, Kamis (4/6).

    Meski telah menerapkan manajemen waktu, Joan mengakui bahwa tekanan akademik tetap menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Kondisi tersebut biasanya terasa saat memasuki masa ujian atau ketika sejumlah tugas harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.

    “Terutama saat menghadapi ujian atau batas waktu tugas yang bertumpuk. Sering kali, keadaan tersebut mengurangi waktu tidur dan menimbulkan stres,” katanya.

    Fenomena ini bukan hanya dialami oleh Joan. Banyak mahasiswa menghadapi situasi serupa ketika tuntutan akademik, organisasi, dan tanggung jawab pribadi datang secara bersamaan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

    Karena itu, Joan menilai self-care menjadi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Baginya, meluangkan waktu untuk diri sendiri bukan berarti mengurangi produktivitas, melainkan upaya menjaga keseimbangan agar tetap mampu menjalankan berbagai aktivitas secara optimal.

    Untuk mengurangi stres, Joan rutin melakukan beberapa kegiatan sederhana seperti mendengarkan musik, menonton film, berolahraga ringan, hingga berjalan-jalan santai. Selain itu, ia juga berusaha menjaga pola tidur yang teratur agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.

    “Saya juga berusaha menjaga pola tidur yang konsisten karena istirahat yang memadai sangat membantu dalam mengurangi keletihan dan stres,” jelasnya.

    Menurut Joan, manfaat self-care tidak hanya dirasakan pada kondisi fisik, tetapi juga berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam menjalani aktivitas akademik. Dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lebih sehat, mahasiswa dapat belajar dengan lebih fokus dan terhindar dari risiko burnout.

    “Dengan merawat diri, mahasiswa bisa mempertahankan kesehatan fisik dan mental, meningkatkan konsentrasi dalam belajar, serta menurunkan kemungkinan mengalami kelelahan atau burnout,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Joan mengatakan bahwa tantangan terbesar yang sering dihadapi mahasiswa adalah menentukan prioritas ketika berbagai tanggung jawab hadir dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, kemampuan mengelola waktu dan mengenali batas kemampuan diri menjadi hal yang sangat penting.

    Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang menyadari bahwa kesehatan tidak boleh dikorbankan demi memenuhi seluruh tuntutan yang ada. Menurutnya, pencapaian akademik dan produktivitas akan lebih mudah diraih ketika kondisi fisik dan mental tetap terjaga.

    Di tengah budaya kampus yang sering mengidentikkan kesibukan dengan keberhasilan, pesan yang disampaikan Joan menjadi pengingat bahwa merawat diri bukanlah bentuk kemalasan. Sebaliknya, self-care merupakan langkah penting agar mahasiswa dapat terus berkembang, berprestasi, dan menjalani kehidupan kampus secara lebih sehat dan berkelanjutan.

    Reporter: Nia Amelia

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Makan Bergizi Gratis hingga Jeddah: Langkah Baik, tetapi Jangan Lupakan Tantangan di Dalam Negeri

    Source: setneg.go.id

    Lhokseumawe, 4 Juni 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji kemungkinan pelaksanaan program tersebut di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Arab Saudi. Jika terealisasi, sekolah tersebut akan menjadi lokasi pertama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis bagi siswa Indonesia di luar negeri.

    Rencana ini mendapat perhatian karena menunjukkan upaya pemerintah dalam memperluas akses pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal dan menempuh pendidikan di luar negeri. Siswa di Sekolah Indonesia Jeddah sebagian besar merupakan anak-anak pekerja migran Indonesia yang selama ini tetap menjadi bagian dari generasi penerus bangsa.

    Sebagai sebuah kebijakan, langkah ini tentu patut diapresiasi. Negara menunjukkan kepeduliannya kepada seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang batas wilayah. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis di Jeddah dapat menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah tidak hanya berfokus pada masyarakat di dalam negeri, tetapi juga menjangkau warga Indonesia yang berada di luar negeri.

    Namun, di balik apresiasi tersebut, terdapat sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian. Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia sendiri masih menghadapi berbagai tantangan. Di beberapa daerah, persoalan distribusi makanan, kesiapan fasilitas pendukung, hingga pengawasan kualitas makanan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperbaiki.

    Karena itu, muncul pertanyaan yang cukup relevan di tengah masyarakat. Apakah perluasan program ke luar negeri sudah menjadi prioritas yang tepat ketika pelaksanaan di dalam negeri masih membutuhkan banyak penyempurnaan?

    Menurut saya, rencana ini tidak perlu ditolak, tetapi harus dipersiapkan secara matang. Pemerintah perlu memastikan bahwa pelaksanaan program di Indonesia berjalan optimal terlebih dahulu. Jangan sampai perluasan program justru mengurangi fokus terhadap perbaikan layanan yang masih dibutuhkan oleh jutaan siswa di berbagai daerah.

    Selain itu, aspek transparansi anggaran dan pengawasan juga harus diperhatikan. Program yang baik bukan hanya program yang memiliki jangkauan luas, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi penerimanya. Dengan pengelolaan yang baik, program ini dapat menjadi investasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    Pada akhirnya, rencana pelaksanaan Makan Bergizi Gratis di Sekolah Indonesia Jeddah merupakan langkah yang menarik dan memiliki nilai positif. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara berupaya hadir bagi seluruh anak bangsa, di mana pun mereka berada. Namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesiapan pelaksanaan, pengawasan, dan kemampuan pemerintah menjaga kualitas program baik di dalam maupun di luar negeri.

    Jika dijalankan dengan tepat, program ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan.

    Penulis: Riska Saleha Tinambunan
    Editor : Adilah Syahputri

  • Meunasah Paya Bili Jaga Kelestarian Budaya Aceh di Tengah Arus Modernisasi

    Lhokseumawe, 4 Juni 2026 – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Meunasah Gampong Paya Bili, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, tetap berperan sebagai pusat kegiatan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya Aceh. Berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan adat yang berlangsung di meunasah menjadi sarana untuk mempertahankan nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi.

    Meunasah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat. Berbagai kegiatan seperti pengajian, musyawarah warga, peringatan hari besar Islam, hingga kegiatan gotong royong rutin dilaksanakan di tempat tersebut. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, masyarakat terus memperkuat hubungan sosial dan menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

    Bagi masyarakat Gampong Paya Bili, meunasah memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar mengaji, remaja mengikuti kegiatan keagamaan, sementara para orang tua berdiskusi mengenai berbagai persoalan gampong. Secara tidak langsung, nilai-nilai budaya Aceh terus diwariskan melalui berbagai aktivitas yang dilakukan bersama di lingkungan meunasah.

    Di era digital saat ini, ketika banyak generasi muda lebih sering menghabiskan waktu dengan telepon genggam dan media sosial, keberadaan meunasah menjadi semakin penting sebagai ruang interaksi sosial. Meunasah memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk tetap menjalin komunikasi secara langsung serta mempererat hubungan antarwarga.

    “Banyak pelajaran hidup yang diperoleh dari kegiatan di meunasah. Generasi muda tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga belajar menghormati orang yang lebih tua, bekerja sama, dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” ujar Zubir, salah seorang warga Gampong Paya Bili, Kamis (4/6).

    Suasana kebersamaan yang tercipta di meunasah membuat masyarakat merasa memiliki satu sama lain. Ketika terdapat kegiatan gampong, warga hadir dan berpartisipasi secara sukarela. Semangat gotong royong dan saling membantu yang terus dipraktikkan menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh yang masih terjaga hingga saat ini.

    Keberadaan Meunasah Gampong Paya Bili menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui acara besar atau pertunjukan seni. Budaya juga dapat dipertahankan melalui kebiasaan sehari-hari, seperti berkumpul, bermusyawarah, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.

    Selama meunasah tetap menjadi pusat aktivitas masyarakat, nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan semangat kebersamaan akan terus tumbuh di Gampong Paya Bili. Di tengah perubahan zaman, meunasah tetap menjadi tempat yang menjaga identitas budaya masyarakat Aceh serta memperkuat hubungan sosial antarwarga.

    Reporter : Risna Maulina

    Editor : Zulfiana

  • Pantai Jomblang Lhokseumawe Jadi Destinasi Wisata Sunset yang Ramai Dikunjungi

    Lhokseumawe, 4 Juni 2026– Pantai Jomblang menjadi salah satu destinasi wisata yang semakin diminati masyarakat Kota Lhokseumawe, terutama bagi pecinta pemandangan matahari terbenam (sunset). Berlokasi di kawasan yang mudah dijangkau dan berada di tepi jalan utama, pantai ini menawarkan panorama laut yang indah serta suasana santai yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman.

    Keindahan Pantai Jomblang terlihat semakin memikat saat sore hari. Pengunjung dapat menikmati semburat warna jingga yang menghiasi langit ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Pemandangan tersebut menjadi daya tarik utama yang membuat banyak warga maupun wisatawan datang untuk bersantai sambil mengabadikan momen melalui foto dan video.

    Selain menawarkan keindahan alam, lokasi pantai yang berada dekat dengan pusat kota menjadikannya pilihan wisata yang praktis bagi masyarakat. Akses yang mudah serta area yang berada di tepi jalan memudahkan pengunjung untuk singgah tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

    Salah seorang pengunjung, Dinda (22), mengaku sering datang ke Pantai Jomblang pada sore hari untuk menikmati suasana pantai. Menurutnya, pemandangan sunset di lokasi tersebut menjadi salah satu yang paling menarik di Lhokseumawe.

    “Tempatnya nyaman, mudah dijangkau, dan pemandangan matahari terbenamnya sangat indah. Cocok untuk melepas penat setelah beraktivitas,” ujarnya.Kamis(4/6/2026)

    Tidak hanya menjadi tempat rekreasi, Pantai Jomblang juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kehadiran pengunjung turut mendukung aktivitas ekonomi pelaku usaha kecil yang menjual makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan wisatawan di sekitar kawasan pantai.

    Keberadaan Pantai Jomblang menunjukkan bahwa Lhokseumawe memiliki potensi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Dengan keindahan sunset, lokasi yang strategis, dan suasana yang nyaman, pantai ini terus menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat yang ingin menikmati keindahan pesisir Kota Lhokseumawe.

    Reporter : Natasya Salsabila

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Memaknai Idul Adha Lewat Kisah Sansan Melalui Jarak dan Menempuh Ikhlas

    Lhokseumawe, (04/06/2026) – Bagi sebagian orang, Idul Adha adalah momen berkumpulnya keluarga besar di meja makan, menikmati aroma gulai kambing atau ketupat hangat buatan ibu. Namun, bagi Sauzan Salsabila Riad (21) atau yang akrab disapa Sansan , suasana riuh itu kini digantikan oleh heningnya kamar kos.

    Sudah 2,5 tahun gadis asal Bogor, Jawa Barat ini menjalani kehidupan sebagai anak rantau di Aceh. Tahun ini menjadi kali kedua bagi mahasiswa semester 6 Jurusan Ilmu Komunikasi tersebut merayakan lebaran haji jauh dari pelukan hangat orang tua.

    “Di rumah sebenarnya tidak ada tradisi yang muluk-muluk, hanya masak dan makan bersama keluarga seperti pada umumnya. Tapi justru hal sederhana itulah yang paling dirindukan selama di perantauan” ungkap Sansan, mengenang rumahnya di Bogor.

    Berbelok Arah Demi Harapan Keluarga

    Perjalanan Sansan menginjakkan kaki di Aceh sebenarnya bukanlah rencana awal yang ia susun. Setamat dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sansan yang sudah mengantongi sertifikasi profesi sebenarnya berniat langsung terjun ke dunia kerja. Namun, takdir dan restu orang tua membawanya ke arah yang berbeda.

    Keluarga besarnya meminta Sansan untuk tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Setelah melihat realita betapa ketat dan sulitnya persaingan mencari kerja tanpa gelar sarjana, Sansan akhirnya memantapkan hati.

    Atas saran keluarga, ia memilih Aceh sebagai tempat menimba ilmu, sementara jurusan komunikasi ia pilih sesuai minat pribadinya. Namun, kuliah di tanah orang tidak selamanya berjalan mulus. Badai keraguan sempat mengguncangnya ketika ia menginjak semester 3 dan 4.

    “Waktu itu rasanya ingin berhenti kuliah saja. Ada keinginan yang kuat untuk langsung kerja supaya bisa bantu ekonomi keluarga,” kenang Sansan.

    Keinginan itu terpaksa ia pendam dalam-dalam karena pihak keluarga melarangnya berhenti di tengah jalan. Orang tuanya meyakinkan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik.

    Hakikat Pengorbanan Sang Anak Sulung

    Sebagai anak pertama, Sansan memikul pundak yang cukup berat. Ia sadar, keberhasilannya di bangku kuliah akan menjadi kompas dan contoh bagi sang adik di masa depan. Namun, alih-alih merasa terbebani, Sansan justru melihat makna pengorbanan dari sudut pandang yang lebih dalam.

    Bagi Sansan, pengorbanan terbesar dalam hidupnya saat ini bukanlah rasa rindu atau rasa sunyi yang ia rasakan di kamar kosnya saat takbiran menggema. Pengorbanan terbesar adalah apa yang telah diberikan oleh orang tuanya.

    Meninggalkan zona nyaman di Bogor dan belajar beradaptasi dengan budaya baru di Aceh adalah kurban perasaan yang harus ia bayar. Sansan percaya penuh bahwa setiap peluh, air mata, dan rasa sepi yang ia lalui sebagai anak rantau tidak akan mengkhianati hasil akhir.

    Di akhir wawancara Sansan menutup ceritanya dengan keyakinan kuat bahwa setiap pengorbanan di tanah perantauan ini kelak akan membuahkan hasil yang memuaskan dan membanggakan orang-orang yang ia cintai di rumah.

    Reporter: Salsabila Ayu

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Menurunnya Penggunaan Bahasa Aceh di Kalangan Anak Muda Picu Kekhawatiran Akan Kepunahan

    Source: ANTARA News Aceh

    Lhokseumawe ,03 JUNI 2026 — Menurunnya penggunaan bahasa Aceh di kalangan anak muda mulai menjadi perhatian masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat mengancam kelestarian bahasa daerah yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Aceh jika tidak segera mendapat perhatian dari berbagai pihak.
    Perkembangan teknologi dan media digital disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi berkurangnya penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari.

    Anak muda kini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, baik dalam komunikasi langsung maupun di media sosial.Salah seorang pemuda Aceh, Teuku Rama, mengatakan bahwa pengaruh media digital sangat besar terhadap perubahan kebiasaan berbahasa generasi muda saat ini. Menurutnya, budaya luar yang banyak ditampilkan di media sosial sering kali dianggap lebih modern dan menarik dibandingkan budaya daerah sendiri, Karena pengaruh media digital seperti media sosial yang dimana budaya luar lebih dianggap keren.

    Akibatnya muncul rasa malu ketika ingin menggunakan bahasa daerah sendiri, terutama bagi anak muda yang tinggal di daerah perkotaan,” ujar Teuku Rama, Selasa (2/6).Ia menilai kondisi tersebut membuat banyak generasi muda semakin jauh dari bahasa Aceh. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang hanya memahami beberapa kosakata bahasa Aceh tetapi tidak mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
    “Bisa jadi karena sekarang banyak generasi muda yang bahkan tidak bisa berbahasa Aceh”. Ada yang paham, tetapi tidak bisa berbicara dalam bahasa Aceh karena sangat jarang mendengarnya. Sebagian juga merasa tidak masalah jika tidak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri,” katanya.

    Menurut Teuku Rama, faktor utama yang menyebabkan menurunnya penggunaan bahasa Aceh justru berasal dari lingkungan keluarga. Ia menjelaskan bahwa banyak orang tua yang tidak lagi memperkenalkan atau membiasakan penggunaan bahasa Aceh kepada anak-anak sejak usia dini.
    “Faktor yang paling utama yaitu dari orang tua yang memang tidak memperkenalkan bahasa Aceh sejak anak masih kecil. Seiring perkembangan zaman, kebiasaan berbicara menggunakan bahasa Aceh juga semakin berkurang. Banyak keluarga yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari,” jelasnya.

    Selain keluarga, lingkungan sosial juga dinilai memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan bahasa Aceh. Kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan teman, tetangga, maupun masyarakat sekitar perlahan menjadi budaya baru di kalangan masyarakat Aceh. Teuku Rama menambahkan bahwa fenomena tersebut kini terjadi secara turun-temurun. Banyak anak muda yang fasih berbahasa Aceh, tetapi tidak mengajarkan bahasa tersebut kepada anak-anak mereka. “Banyak kalangan muda yang ketika sudah memiliki anak, walaupun fasih berbicara bahasa Aceh, anak mereka tidak pernah diajak berbicara atau diajari bahasa Aceh. Jika kondisi ini terus terjadi dari generasi ke generasi, bahasa Aceh bisa terancam punah,” ujarnya.

    Sementara itu, sejumlah pemerhati budaya menilai pelestarian bahasa Aceh perlu dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari dianggap menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah tersebut.
    Berbagai upaya juga mulai dilakukan melalui kegiatan budaya, pembelajaran muatan lokal di sekolah, hingga pembuatan konten digital berbahasa Aceh.

    Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda untuk kembali menggunakan bahasa Aceh sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bahasa Aceh diharapkan tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Tanpa adanya kesadaran untuk menggunakan dan mengajarkannya sejak dini, bahasa Aceh dikhawatirkan akan semakin ditinggalkan dan berisiko kehilangan penuturnya di masa depan.
    “Bahasa Aceh adalah bagian dari identitas masyarakat Aceh. Jika generasi muda tidak ikut menjaga dan menggunakannya, maka ancaman kepunahan bukan lagi sekadar kekhawatiran, tetapi bisa menjadi kenyataan,” tutup Teuku Rama.

    Reporter: Nasa Aulia

    Editor : Zulfiana

  • Terjebak Antara Satpol PP dan Deadline, Aturan Jam Malam Bikin Mahasiswa Unimal Dilema

    search by acehbesarkab.go

    Lhokseumawe — Rabu, 3 Juni 2026 | Kalau kamu jalan-jalan di sekitaran Lhokseumawe, apalagi yang dekat dengan area kampus Universitas Malikussaleh (Unimal), pemandangan mahasiswa yang duduk di warkop sambil mantengin laptop sampai larut malam itu udah jadi hal yang biasa banget. Aroma kopi saring, suara ketikan keyboard, dan diskusi serius soal tugas kuliah udah jadi vibes harian kota ini.
    Bagi anak kosan di Lhokseumawe, warkop itu bukan cuma tempat buat nongkrong atau mabar game online. Warkop udah bergeser fungsi jadi “co-working space” sekaligus penyelamat IPK. Tapi belakangan ini, suasana tenang itu agak terusik. Aturan jam malam yang makin ketat ditambah gencarnya patroli dari Satpol PP bikin banyak mahasiswa ketar-ketir. Di sinilah dilema itu muncul, di satu sisi ada aturan daerah yang harus dihormati, di sisi lain ada tumpukan tugas kuliah yang deadline-nya subuh!

    Kenapa sih mahasiswa Unimal hobi banget ngerjain tugas di warkop sampai tengah malam? Jawabannya sederhana tapi nyata. Fasilitas Wi-Fi yang stabil, jujur aja, gak semua kos-kosan mahasiswa di Lhokseumawe punya fasilitas internet yang mumpuni buat download jurnal internasional atau submit tugas berukuran besar di portal kampus. Ruang kerja kelompok yang fleksibel, nyocokin jadwal kuliah yang padat itu susah banget. Alhasil, malam hari sering kali jadi satu-satunya waktu luang di mana semua anggota kelompok bisa ngumpul bareng tanpa keganggu jam kelas. Bayangin posisinya begini kamu lagi fokus-fokusnya coding, nyusun bab skripsi, atau bikin PPT buat presentasi besok pagi. Tiba-tiba, lampu sirene Satpol PP kelihatan dari kejauhan, siap menertibkan aturan jam malam. Suasana yang tadinya penuh konsentrasi langsung berubah jadi kepanikan. Laptop buru-buru ditutup, buku dimasukkan ke tas, dan mahasiswa terpaksa bubar sebelum tugasnya benar-benar selesai.
    “Kami bukannya mau hura-hura atau keluyuran gak jelas. Kami cuma butuh space dan internet buat kelarin tugas kuliah. Kalau di kosan, jaringannya kadang bikin nangis,” curhat salah satu mahasiswa Unimal.”
    Di sinilah letak dilemanya. Mahasiswa paham kalau Satpol PP cuma menjalankan tugas dan menegakkan aturan demi ketertiban serta keamanan Kota Lhokseumawe. Tapi di sisi lain, aturan ini terasa kurang fleksibel buat mereka yang beneran lagi berjuang demi akademis.
    Menegakkan aturan itu penting, tapi melihat kondisi lapangan secara bijak juga gak kalah penting. Mahasiswa Unimal yang lagi ngerjain tugas itu bukan kriminal atau remaja yang lagi balapan liar. Mereka lagi investasi waktu buat masa depan.
    Mungkin sudah saatnya ada jalan tengah atau solusi yang lebih solutif, misalnya pemberian dispensasi khusus, Satpol PP bisa melakukan pendekatan yang lebih humanis. Kalau pas patroli ngelihat mahasiswa yang beneran lagi buka laptop dan buku kuliah, mungkin bisa dikasih toleransi waktu atau teguran yang edukatif, bukan langsung didepak pulang. Penyediaan fasilitas publik 24 jam kalau memang warkop harus tutup cepat, mungkin pihak kampus atau Pemkot bisa menyediakan satu area khusus (seperti digital library atau student center) yang aman, punya Wi-Fi kencang, dan boleh diakses mahasiswa sampai larut malam dengan pengawasan keamanan yang ketat. Aturan jam malam dibikin pasti demi kebaikan kota ini. Tapi, jangan sampai aturan tersebut justru jadi batu sandungan buat mahasiswa yang lagi pusing dikejar deadline tugas kuliah. Semoga ke depannya ada titik temu yang enak buat Pemkot, Satpol PP, warkop, dan tentunya bagi para pejuang tugas di Lhokseumawe.

    Penulis : Riska Saleha Tinambunan

    Editor : Adilah Syahputri

    1. Gaya Hidup Berantakan, Nestapa Lambung Mahasiswa

      Lhokseumawe, (03/06/2026) — Jam dinding di sebuah warung kopi kawasan Bukit Indah sudah melewati pukul 01.00 WIB. Di saat sebagian besar warga Lhokseumawe telah terlelap, Zulfiana (21) masih terjaga. Sorot cahaya dari layar laptop menerangi wajahnya yang tampak lelah, berkejaran dengan tumpukan tugas analisis media yang belum usai.

      Bagi mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (UNIMAL) angkatan 2023 ini, sunyinya malam adalah waktu terbaik untuk produktif. Namun, malam juga menjadi saksi bisu bagaimana ia perlahan menyiksa tubuhnya sendiri.

      Di meja kayu itu, tidak ada sepiring nasi hangat atau makanan bergizi. Yang setia menemani hanyalah segelas es kopi saset yang mencair setengahnya dan bungkus camilan pedas yang sudah kosong.

      Tiba-tiba, jemarinya berhenti mengetik. Wajahnya meringis menahan sakit. Tangan kirinya bergerak spontan, menekan kuat-kuat ulu hatinya yang mendadak terasa nyeri dan bergejolak.

      Bagi anak muda seperti Zulfiana, mengejar mimpi di bangku kuliah sering kali menuntut pengorbanan yang tidak murah. Saat kepanikan akibat kejaran deadline melanda, sinyal lapar dari tubuhnya selalu menjadi hal pertama yang ia bungkam.

      “Kalau sudah panik, saya lupa makan. Tahu-tahu sudah larut malam, perut rasanya seperti diaduk-aduk dan dada terasa terbakar,” ungkapnya lirih.

      Sebagai calon sarjana komunikasi, dunianya tidak sebatas duduk manis di dalam ruang kelas. Hidupnya adalah rotasi tanpa henti antara produksi video, wawancara lapangan, hingga rapat organisasi yang kerap menyita waktu dari terbit fajar hingga larut malam.

      Sayangnya, semangat yang membara itu tidak sejalan dengan perhatiannya pada tubuh. Sarapan pagi berulang kali dikorbankan demi selembar absensi kuliah agar tidak terlambat. Tubuhnya dipaksa bekerja ekstra dalam keadaan kosong.

      “Seringnya baru makan siang atau sore sekaligus. Karena seharian kelaparan, saya langsung balas dendam makan porsi besar. Pilihannya pasti yang praktis dan merangsang lidah, seperti mi instan atau ayam geprek super pedas. Biar mata melek semalaman, langsung saya bilas dengan es kopi hitam,” ujar Zulfiana.

      Kombinasi antara lambung yang kosong, hantaman cabai, tingginya kafein, serta beban stres akademis menjadi bom waktu. Cairan asam lambungnya melonjak, mengirimkan rasa sakit yang mengabaikan usianya yang masih muda.

      Fenomena ini bukan lagi milik orang tua, melainkan potret pilu penyakit langganan mahasiswa masa kini. Di akhir malam itu, di tengah kepulan asap rokok pengunjung warung kopi dan dinginnya angin malam Bukit Indah, Zulfiana termenung.

      Mengejar prestasi di Universitas Malikussaleh adalah impian besarnya, tetapi ia kini sadar, tidak ada artinya sebuah toga sarjana jika masa muda harus habis dirayakan di atas ranjang rumah sakit, meratapi lambung yang terlanjur ambyar.

      Reporter: Shafa Zahwah

      Editor: Afifa Khairiyah

    2. Nongkrong Jadi Ajang Silaturahmi Mahasiswa Lintas Kampus di Bireuen

      Bireun, 3 Juni 2026 – Aktivitas nongkrong yang kerap menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa kembali terlihat di Kota Bireuen. Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berkumpul dalam suasana hangat di sebuah populer pada Senin (03/06/2026) sore.

      Pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB di Havana Garden tersebut menjadi ajang melepas rindu setelah lama tidak bertemu karena menempuh pendidikan di kampus dan jurusan yang berbeda.Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Malikussaleh (Unimal), Universitas Syiah Kuala (USK/Unsyiah), dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Mereka merupakan teman satu SMA yang kini menjalani kehidupan kampus masing-masing di berbagai daerah.

      Pertemuan tersebut diawali dengan obrolan santai sambil menikmati suasana sore di kafe yang dikenal sebagai salah satu tempat nongkrong favorit anak muda Bireuen. Gelak tawa sesekali terdengar ketika mereka mulai mengenang berbagai momen semasa SMA, mulai dari kegiatan belajar bersama, acara sekolah, hingga pengalaman-pengalaman yang masih mereka ingat hingga sekarang.

      Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa pertemuan itu menjadi momen yang sangat berharga karena kesibukan kuliah membuat mereka jarang memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung.”Sudah lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini. Dulu hampir setiap hari bertemu di sekolah, sekarang harus menyesuaikan dengan jadwal kuliah masing-masing,” ujar Nasywa Balqis mahasiswa USK Jurusan Hukum.

      Selain bernostalgia, pembahasan juga berlanjut pada perkembangan kehidupan perkuliahan masing-masing. Mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman belajar di kampus yang berbeda, kegiatan organisasi, tantangan akademik, hingga rencana setelah lulus. Menariknya, sebagian besar dari mereka saat ini sedang berada pada tahap akhir perkuliahan dan tengah menyusun skripsi.

      Diskusi mengenai skripsi menjadi salah satu topik yang paling banyak dibahas. Mereka saling berbagi pengalaman terkait proses penelitian, kesulitan mencari referensi, hingga cara mengatur waktu agar dapat menyelesaikan tugas akhir tepat waktu. Suasana akrab membuat mereka tidak sungkan untuk saling bertukar saran dan memberikan dukungan.

      Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya nongkrong di kalangan mahasiswa tidak hanya identik dengan aktivitas bersantai. Bagi banyak mahasiswa, kafe telah menjadi ruang interaksi sosial yang memungkinkan mereka membangun relasi, bertukar informasi, serta mendiskusikan berbagai persoalan akademik. Aktivitas nongkrong juga menjadi sarana untuk menjaga hubungan pertemanan di tengah kesibukan perkuliahan yang semakin padat.

      Di Kota Bireuen sendiri, sejumlah kafe kerap menjadi tempat berkumpul mahasiswa untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, maupun sekadar melepas penat setelah menjalani aktivitas akademik. Kehadiran tempat-tempat seperti Havana Garden memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperkuat komunikasi dan kebersamaan, meskipun berasal dari kampus maupun jurusan yang berbeda.

      Meski berasal dari lingkungan pendidikan yang beragam, para mahasiswa tersebut mengaku tidak pernah merasa minder atau canggung saat berkumpul. Perbedaan kampus justru menjadi bahan diskusi yang memperkaya wawasan dan pengalaman satu sama lain.

      Pada akhir pertemuan, salah seorang mahasiswa menyampaikan harapannya agar persahabatan yang telah terjalin sejak SMA dapat terus terjaga meskipun mereka nantinya akan menempuh jalan hidup yang berbeda.

      “Kita harus kompak terus yaa sampai tua dan saling bantu kalau ada kesusahan. Walaupun kita terpisah jarak namun kita selalu bisa berkumpul,” ucap Ananda Geubrina Rizky Mahasiswa USK Jurusan Ilmu Komunikasi.

      Pernyataan tersebut disambut anggukan dan senyuman dari teman-temannya. Pertemuan sederhana di Havana Garden sore itu menjadi bukti bahwa budaya nongkrong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, berbagi pengalaman akademik, dan membangun dukungan sosial di kalangan mahasiswa lintas kampus.

      Reporter : Diva zayana

      Editor : Joan Ayuramadhani

    3. Mie Ayam Jogja Hadir di Lhokseumawe, Tawarkan Cita Rasa Khas Yogyakarta

      sumber: tiktok@miayamjogja_0fficial

      Lhokseumawe, 3 Juni 2026, Pilihan wisata kuliner di Kota Lhokseumawe kembali bertambah dengan hadirnya Mie Ayam Jogja. Tempat makan yang baru beroperasi ini menawarkan cita rasa khas Yogyakarta yang dikenal gurih dan kaya rempah.

      Berlokasi di kawasan Kota Lhokseumawe, Mie Ayam Jogja mulai menarik perhatian masyarakat, khususnya mahasiswa dan pecinta kuliner yang ingin mencoba sensasi mie ayam dengan racikan bumbu khas daerah asalnya.

      Pemilik usaha mengatakan bahwa konsep yang diusung adalah menghadirkan cita rasa autentik mie ayam khas Yogyakarta dengan harga yang terjangkau bagi berbagai kalangan.

      Kami ingin memperkenalkan cita rasa mie ayam Jogja kepada masyarakat Lhokseumawe. Harapannya, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan kuliner baru bagi masyarakat,” ujarnya, Selasa (3/6/2026).

      Selain menu mie ayam original, pengunjung juga dapat menikmati berbagai pilihan pelengkap seperti bakso, pangsit, ceker ayam, serta aneka minuman. Harga yang relatif ramah di kantong menjadi salah satu daya tarik bagi pelajar dan mahasiswa.

      Salah seorang pelanggan, Rahma (21), mengaku tertarik berkunjung setelah mengetahui informasi pembukaan tempat makan tersebut melalui media sosial.

      Kuahnya gurih, ayamnya banyak, dan bumbunya khas. Menurut saya, ini bisa menjadi salah satu tempat makan favorit baru di Lhokseumawe,”

      Kehadiran Mie Ayam Jogja menambah ragam pilihan kuliner yang tersedia di Kota Lhokseumawe. Dengan menu khas dan suasana yang nyaman, tempat ini mulai ramai dikunjungi masyarakat, terutama pada sore hingga malam hari.

      Perkembangan usaha kuliner seperti ini menunjukkan semakin beragamnya pilihan makanan yang dapat dinikmati masyarakat, sekaligus memperkaya destinasi wisata kuliner di Kota Lhokseumawe.

      Reporter : Natasya Salsabila

      Editor : Cut Dinda Risna Muly