
Source Doc: Ekonomy.okezone.com
Lhokseumawe, (03/07/2026). Saat sebagian mahasiswa sudah kembali ke kos untuk beristirahat, Rian (21), mahasiswa perantau, justru mulai mengayuh sepeda tuanya mengantarkan pesanan makanan hingga larut malam.
Di balik setiap perjalanan, ia sedang berjuang mengumpulkan uang agar tetap bisa bertahan di bangku kuliah.
Tak ingin terus membebani orang tua, Rian memilih bekerja selepas kuliah meski tubuhnya sering kelelahan.
Tak jarang ia lebih dulu mengantarkan pesanan pelanggan daripada membeli makan untuk dirinya sendiri karena ingin uang yang didapat cukup untuk membayar kos dan kebutuhan kuliah.
“Kadang perut udah lapar dari sore, tapi saya tahan dulu. Yang penting order selesai, nanti kalau masih ada uang baru saya makan. Saya cuma nggak mau berhenti kuliah gara-gara nggak punya biaya,” katanya.
Hampir setiap malam ia baru tiba di kos saat jalanan sudah sepi.
Setelah tidur hanya beberapa jam, Rian kembali bangun pagi dan mengikuti perkuliahan seperti mahasiswa lainnya, seolah tidak terjadi apa-apa pada malam sebelumnya.
Bagi Rian, sepeda tua yang setiap hari menemaninya bukan sekadar alat mencari nafkah.
“Kalau capek, saya ingat orang tua di rumah. Saya pengin mereka bangga, jadi semua ini rasanya layak buat dijalanin,” ujarnya.
Sepeda itu menjadi saksi perjuangan seorang anak rantau yang rela menahan lelah, lapar, dan rindu agar suatu hari nanti bisa pulang membawa toga untuk kedua orang tuanya.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply