Blog

  • D’GROUND BEACH, DESTINASI INSTAGRAMABLE BARU DIPANTAI KRUENG GEUKUEH

    Krueng Geukueh , 02 Juni 2026– D’Ground, kafe yang berlokasi di kawasan Pantai Laut Bangka Jaya, Jalan Pabrik ASEAN, Krueng Geukueh, menjadi salah satu destinasi kuliner dan wisata yang menarik perhatian masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Mengusung konsep kafe tepi pantai dengan berbagai spot foto estetik, tempat ini ramai dikunjungi anak muda hingga keluarga.

    Berlokasi tepat di pinggir pantai, D’Ground menawarkan suasana santai dengan pemandangan laut terbuka yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Area duduk outdoor yang menghadap langsung ke laut memungkinkan pengunjung menikmati semilir angin pantai sambil bersantai bersama teman maupun keluarga.

    Selain menyuguhkan panorama alam, D’Ground juga menghadirkan desain yang mengutamakan estetika. Penataan meja dan kursi bergaya minimalis serta beberapa dekorasi modern membuat kafe ini menjadi salah satu lokasi favorit untuk berfoto dan mengabadikan momen.

    Memasuki waktu senja, suasana di D’Ground semakin ramai. Pemandangan matahari terbenam yang berpadu dengan lampu-lampu gantung di area kafe menciptakan suasana yang nyaman dan menarik bagi pengunjung.

    Salah seorang pengunjung, Juli Novita Sari, mengaku tertarik berkunjung karena konsep tempat yang dinilai estetik serta pelayanan yang cukup cepat meski kondisi kafe sedang ramai.

    Bagus, cafenya estetik. Pelayanannya juga cepat meski lagi ramai karena masih baru buka,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (1/6/2026).

    Menurutnya, harga makanan dan minuman yang ditawarkan masih sebanding dengan fasilitas dan pemandangan yang diperoleh pengunjung. Keberadaan D’Ground turut menambah pilihan destinasi wisata kuliner di kawasan Krueng Geukueh dan sekitarnya. Lokasinya yang mudah dijangkau membuat tempat ini berpotensi menjadi salah satu tujuan wisata baru bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara.

    Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana terbaik, waktu menjelang matahari terbenam menjadi momen yang direkomendasikan untuk datang ke D’Ground. Selain dapat menikmati panorama laut, pengunjung juga dapat mengabadikan pemandangan senja yang menjadi salah satu daya tarik utama tempat tersebut.

    Reporter : Nadyah Agustina

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Mahasiswa dan Tantangan Mengelola Keuangan di Tengah Kebutuhan yang Kian Beragam

    Search by : manajemen.umsida.ac.id

    Lhokseumawe, 2 Juni 2026 – Mengelola keuangan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa di tengah meningkatnya kebutuhan akademik, biaya hidup, dan gaya hidup yang terus berkembang. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran agar kebutuhan selama masa perkuliahan dapat terpenuhi dengan baik.

    Bagi sebagian mahasiswa, uang saku bulanan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makan dan transportasi, tetapi juga untuk membeli perlengkapan kuliah, paket internet, mengikuti kegiatan organisasi, hingga memenuhi kebutuhan hiburan. Beragamnya kebutuhan tersebut membuat kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki.

    Salah satu mahasiswa Universitas Malikussaleh, Dede Shafitri, mengatakan bahwa menyusun daftar kebutuhan menjadi langkah yang selalu ia lakukan setelah menerima kiriman uang dari orang tuanya. Cara tersebut membantunya menentukan kebutuhan yang harus diprioritaskan dan menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan.

    “Biasanya saya membuat daftar kebutuhan terlebih dahulu. Kebutuhan kuliah dan makan saya prioritaskan, kemudian jika masih ada sisa baru digunakan untuk kebutuhan lain atau ditabung,” ujar Dede.

    Menurut Dede, godaan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan sering kali menjadi tantangan bagi mahasiswa. Karena itu, ia berusaha membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar kondisi keuangannya tetap terkendali hingga akhir bulan.

    Selain menyusun anggaran pengeluaran, kebiasaan menabung juga mulai diterapkan oleh sejumlah mahasiswa sebagai bentuk persiapan menghadapi kebutuhan mendadak. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa lebih siap menghadapi berbagai situasi tanpa harus bergantung pada bantuan tambahan dari orang tua.

    Pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga melatih kedisiplinan dan tanggung jawab dalam mengatur finansial. Dengan menyusun prioritas pengeluaran, mencatat penggunaan uang, serta menghindari pembelian yang tidak mendesak, mahasiswa dapat menjaga kestabilan keuangan selama perkuliahan dan memiliki bekal yang bermanfaat untuk masa depan.

    Reporter: Fitri Yani Napitupulu

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Bangun Kebersamaan di Tanah Rantau, IMATAPSI Perkuat Solidaritas Mahasiswa Sibolga dan Tapanuli Tengah

    Lhokseumawe , 2 Juni 2026 — Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal), Afifah Khairiyah, membagikan pengalamannya beradaptasi sebagai mahasiswa perantau asal Sibolga yang menempuh pendidikan di Kota Lhokseumawe. Menurutnya, keberadaan IMATAPSI (Ikatan Mahasiswa Tapanuli Tengah dan Sibolga) menjadi salah satu faktor penting yang membantu dirinya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

    Bagi Afifah, merantau ke Aceh tidak memberikan culture shock yang terlalu besar karena kehidupan masyarakat di Aceh dan Sibolga memiliki banyak kesamaan. Namun, ia mengakui terdapat beberapa perbedaan yang cukup terasa, terutama dalam tradisi dan penerapan nilai-nilai keagamaan di lingkungan masyarakat. Menurutnya, perbedaan yang paling menonjol terlihat saat waktu salat dan bulan Ramadan.

    “Kalau culture shock sebenarnya tidak terlalu, karena kehidupan di Aceh dan Sibolga tidak jauh berbeda. Tetapi secara tradisi memang cukup berbeda. Yang paling terasa itu saat waktu salat dan bulan puasa. Di Aceh, ketika masuk waktu salat seperti Magrib, banyak warung yang tutup. Saat puasa juga warung-warung tutup dari pagi sampai sore, sedangkan di Sibolga masih banyak yang buka karena masyarakatnya terdiri dari berbagai agama dan suku,” ujar Afifah.

    Selain itu, ia juga melihat adanya perbedaan dalam norma sosial. Menurutnya, masyarakat Aceh memiliki aturan yang lebih ketat terkait cara berpakaian dan pergaulan dibandingkan daerah asalnya. Meski begitu, ia menganggap perbedaan tersebut sebagai pengalaman baru yang menambah wawasannya tentang keberagaman budaya di Indonesia.

    Dalam proses adaptasi, Afifah mengaku sangat terbantu dengan kehadiran IMATAPSI. Organisasi daerah tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa asal Tapanuli Tengah dan Sibolga untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memberikan dukungan selama menjalani perkuliahan di Lhokseumawe. Ia mengatakan, peran IMATAPSI sudah dirasakan bahkan sebelum dirinya tiba di Lhokseumawe melalui kegiatan Maberca atau Masa Berkenalan Calon Mahasiswa Baru. Melalui kegiatan tersebut, ia dapat mengenal mahasiswa lain yang berasal dari daerah yang sama sehingga tidak merasa sendirian saat merantau.

    “Saat itu saya masih di kampung dan belum datang ke Lhokseumawe. Kami mengikuti kegiatan Maberca dan mulai berkenalan dengan teman-teman yang satu daerah. Jadi ketika sampai di sini sudah punya teman dan tidak takut sendirian di perantauan,” katanya.

    Menurut Afifah, keberadaan teman-teman satu daerah membuat proses komunikasi dan penyesuaian diri menjadi lebih mudah. Kehadiran paguyuban juga memberikan rasa nyaman karena mahasiswa memiliki tempat untuk berbagi cerita dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Peran tersebut semakin terasa ketika banjir melanda wilayah Lhokseumawe dan sekitarnya. Saat itu, IMATAPSI membantu para anggotanya dengan membentuk dapur darurat serta memberikan dukungan kepada mahasiswa yang terdampak bencana.

    “Waktu banjir kemarin, IMATAPSI sangat membantu. Kami membuat dapur darurat dan saling membantu satu sama lain. Saat itu banyak orang tua yang sulit menghubungi anaknya karena jaringan terganggu. Kehadiran paguyuban membuat kami tetap bisa bertahan dan merasa tenang. Rasa kekeluargaannya sangat terasa,” ungkapnya.

    Saat ini, Afifah juga aktif sebagai Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) di IMATAPSI. Melalui program kerja jurnalistik dan peliputan kegiatan organisasi, ia dapat menerapkan ilmu komunikasi yang dipelajarinya di bangku kuliah. Menurutnya, IMATAPSI bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga keluarga bagi mahasiswa perantau untuk saling membantu, belajar, dan berkembang selama menjalani kuliah di Lhokseumawe. “IMATAPSI bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi keluarga bagi mahasiswa perantau. Di sana kami bisa saling membantu, belajar bersama, dan berkembang selama menjalani kuliah di Lhokseumawe,” tutupnya.

    Reporter : Nana Afriani

    Editor : Zulfiana

  • Di Balik Padatnya Kegiatan Kampus, Hasyim Berjuang Menjaga Keseimbangan Akademik dan Organisasi

    Lhokseumawe, (02/06/2026). Saat sebagian mahasiswa mulai merapikan buku dan bergegas meninggalkan ruang kuliah, Mara Hasyim Pasaribu (21) masih harus menahan langkahnya untuk kembali memikirkan daftar tanggung jawab yang belum selesai. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan kampus, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023 itu belum benar-benar bisa menutup hari seperti mahasiswa lainnya.

    Di balik statusnya sebagai mahasiswa, Hasyim memikul amanah sebagai Ketua Umum PERMATA (Persatuan Mahasiswa Padang Lawas Utara). Sebuah jabatan yang tidak hanya soal nama, tetapi juga tentang waktu yang perlahan-lahan terpecah antara kuliah, rapat, dan berbagai keputusan organisasi yang harus segera diambil.

    “Awalnya saya tidak pernah secara khusus menargetkan untuk menjadi Ketua Umum. Namun setelah mendapat dukungan dan kepercayaan dari senior maupun anggota, saya memutuskan menerima amanah tersebut karena ingin membawa PERMATA menjadi organisasi yang lebih aktif, solid, dan bermanfaat,” ujarnya.

    Di sela-sela itu, ia harus memastikan roda organisasi tetap bergerak, meski dirinya sendiri juga sedang dikejar kewajiban akademik. Kondisi overload hingga burnout bukan hal yang asing.

    Hasyim pun mengakui bahwa ada titik-titik ketika rasa lelah itu muncul, bersamaan dengan banyaknya tanggung jawab yang harus diselesaikan. Namun di saat seperti itu ia memilih untuk tetap bertahan bukan karena semuanya mudah, tetapi karena ada amanah yang sudah dipercayakan kepadanya.

    Bagi Hasyim, pengorbanan terbesar bukanlah tenaga, melainkan waktu. Waktu untuk beristirahat, waktu untuk dirinya sendiri, bahkan waktu untuk sekadar menikmati hari tanpa memikirkan agenda organisasi sering kali harus dikorbankan.

    Meski begitu, ia tidak melihat semua itu sebagai beban semata. Di balik padatnya kegiatan kampus, ia justru menemukan banyak pelajaran tentang kepemimpinan, tanggung jawab, dan cara mengelola manusia serta waktu secara bersamaan.

    Reporter: Rahma Annisa Siregar

    Editor: Afifa Khairiyah

  • FOMO dan Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Takut Tertinggal dan Belajar Mengendalikan Diri

    Search by Siaran-Berita

    Lhokseumawe 2/6/2026 | Di era digital saat ini, kehidupan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari media sosial. Setiap hari kita disuguhi berbagai unggahan tentang pencapaian teman, tren terbaru, tempat nongkrong yang sedang populer, hingga aktivitas produktif yang tampak sempurna. Tanpa disadari, kondisi ini sering menimbulkan perasaan takut tertinggal atau yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).
    FOMO menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa. Keinginan untuk selalu mengikuti tren dan mengetahui apa yang dilakukan orang lain sering kali memengaruhi pola pikir, keputusan, bahkan gaya hidup sehari-hari. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa harus selalu “hadir” dalam setiap tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
    FOMO merupakan salah satu tantangan yang cukup serius bagi mahasiswa saat ini karena dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hidup. Banyak mahasiswa yang akhirnya mengukur keberhasilan dirinya berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial, bukan berdasarkan kemampuan dan tujuan pribadinya.
    Fenomena ini terlihat dari kebiasaan mengikuti tren yang sedang viral, membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau memaksakan diri untuk hadir dalam berbagai kegiatan hanya agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan pertemanannya. Padahal, setiap individu memiliki kondisi ekonomi, kemampuan, dan prioritas yang berbeda.
    Dalam kehidupan kampus, FOMO juga dapat muncul dalam bidang akademik. Misalnya, ketika melihat teman mengikuti banyak organisasi, seminar, pelatihan, atau kompetisi, seseorang bisa merasa tertekan untuk melakukan hal yang sama. Alih-alih termotivasi secara sehat, mereka justru merasa cemas dan khawatir jika dianggap kurang produktif dibandingkan orang lain.
    Menurut pandangan penulis, masalah utama dari FOMO bukan terletak pada keinginan untuk berkembang, melainkan pada kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan. Ketika seseorang terlalu fokus pada kehidupan orang lain, ia akan kehilangan kesempatan untuk menghargai proses dan pencapaiannya sendiri.
    Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor utama meningkatnya fenomena FOMO. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Threads memungkinkan pengguna melihat berbagai aktivitas orang lain secara real time. Konten yang ditampilkan umumnya merupakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, sehingga sering menciptakan persepsi bahwa orang lain selalu lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih produktif.
    Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat kecemasan, stres, dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami FOMO karena memiliki intensitas penggunaan media sosial yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
    Selain itu, budaya konsumtif yang berkembang di kalangan anak muda juga sering dipengaruhi oleh FOMO. Banyak orang membeli produk tertentu bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin mengikuti tren atau merasa tidak ingin tertinggal dari teman-temannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa FOMO tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga pada pola pengeluaran dan gaya hidup seseorang.
    Mengatasi FOMO bukan berarti menghindari perkembangan zaman atau berhenti menggunakan media sosial. Yang terpenting adalah membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
    Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
    Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Fokus pada tujuan dan perkembangan pribadi akan membantu seseorang lebih menghargai proses yang sedang dijalani.
    Menggunakan media sosial secara bijak. Membatasi waktu penggunaan media sosial dapat mengurangi tekanan untuk selalu mengikuti kehidupan orang lain.
    Menentukan prioritas hidup. Tidak semua tren harus diikuti. Mahasiswa perlu memahami mana yang benar-benar bermanfaat bagi pengembangan diri dan mana yang hanya bersifat sementara.
    Meningkatkan rasa syukur. Dengan menghargai apa yang telah dimiliki dan dicapai, seseorang akan lebih mudah merasa puas dan tidak terus-menerus mencari validasi dari lingkungan sekitar.
    Memperbanyak aktivitas nyata. Berinteraksi langsung dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dunia digital.
    FOMO merupakan fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa di era digital. Perasaan takut tertinggal sering kali mendorong seseorang untuk mengikuti berbagai tren dan gaya hidup tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kemampuannya. Jika tidak dikendalikan, FOMO dapat menimbulkan kecemasan, tekanan sosial, hingga perilaku konsumtif.
    Sebagai mahasiswa, penting untuk memahami bahwa kesuksesan tidak harus diukur dari apa yang terlihat di media sosial. Setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing. Solusi terbaik untuk menghadapi FOMO adalah dengan membangun kepercayaan diri, menetapkan prioritas yang jelas, serta menggunakan media sosial secara lebih bijak. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjalani gaya hidup yang lebih sehat, produktif, dan sesuai dengan tujuan hidup yang ingin dicapai.
    Reporter: Fadilla
    Editor: Adilah Syahputri

  • Meugang, Wujud Cinta dan Rasa Syukur Masyarakat Aceh Menyambut idul adha

     Suasana prosesi tradisi meugang di Aceh. (search by Tourism Travel)

    Lhokseumawe – Masyarakat Aceh kembali disibukkan dengan tradisi Meugang (atau Makmeugang) menjelang Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh ini bukan hanya menjadi momen memasak dan menikmati daging bersama keluarga, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, serta kepedulian sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

    Ditilik dari sisi sejarahnya, tradisi Meugang telah ada di Aceh sejak abad ke-14 M dan mulai dilembagakan pada masa puncak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M). Pada masa itu, Sultan menyembelih hewan ternak dalam jumlah besar dan membagikannya secara gratis kepada seluruh rakyat, terutama fakir miskin dan anak yatim. Kegiatan tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus simbol kemakmuran masyarakat Aceh.

    Tradisi Meugang sempat mengalami hambatan akibat penjajahan Belanda. Setelah Kesultanan Aceh ditaklukkan pada tahun 1873, tradisi pembagian daging oleh kerajaan terhenti. Namun, hal tersebut tidak membuat Meugang hilang begitu saja. Nilai-nilai budaya dan ajaran Islam yang terkandung di dalamnya membuat masyarakat tetap melestarikannya secara swadaya dan bergotong royong.

    Pada masa perang, daging Meugang bahkan diawetkan oleh para pejuang dan dijadikan sebagai bahan logistik saat bergerilya melawan penjajah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga pernah berperan dalam perjuangan masyarakat Aceh.

    Meugang yang digelar pada H-1 Lebaran menjadi momen istimewa bagi masyarakat Aceh. Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan memadati pasar untuk membeli daging sapi, kerbau, maupun kambing yang nantinya akan diolah menjadi berbagai hidangan khas keluarga, salah satunya sie reuboh, makanan tradisional khas Aceh. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

    Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar kegiatan memasak dan menikmati daging bersama keluarga. Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Meugang yang dilaksanakan menjelang Idulfitri maupun Iduladha selalu dirayakan dengan penuh suka cita. Terlebih pada Meugang Iduladha, masyarakat turut merasakan melimpahnya daging dari pelaksanaan ibadah kurban sehingga suasana kebahagiaan semakin terasa.

    Keramaian terlihat di berbagai pasar tradisional. Para pedagang daging tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Meskipun harga daging cenderung meningkat menjelang Lebaran, antusiasme masyarakat tidak surut. Banyak warga mengaku tetap berusaha menjalankan tradisi tersebut sesuai kemampuan karena nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya jauh lebih penting dibandingkan jumlah daging yang dibeli.

    Di sejumlah daerah, Meugang juga menjadi sarana berbagi rezeki. Sebagian masyarakat membagikan daging kepada kerabat, tetangga, maupun keluarga yang membutuhkan. Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakat Aceh.

    Selain memiliki nilai budaya dan religius, Meugang turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Meningkatnya permintaan daging menjelang Lebaran membawa keuntungan bagi peternak, pedagang, hingga pelaku usaha kecil yang menggantungkan pendapatan pada aktivitas pasar musiman tersebut.

    Menjelang malam takbiran, suasana hangat semakin terasa di setiap rumah. Anggota keluarga berkumpul, memasak bersama, dan menikmati hidangan hasil tradisi Meugang. Di balik setiap masakan yang tersaji, tersimpan harapan, doa, serta rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan selama Ramadan.

    Di tengah derasnya arus modernisasi, Meugang tetap menjadi identitas yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga terus dirawat sebagai pengikat hubungan antargenerasi. Melalui Meugang, masyarakat Aceh tidak hanya menyambut datangnya Hari Raya, tetapi juga merayakan kebersamaan, cinta keluarga, dan rasa syukur yang menjadi inti dari hari kemenangan.

    Reporter : Raisa Salsabila
    Editor : Zulfiana

  • KULINER MALAM LHOKSEUMAWE, WARUNG BUNDA MARELAN JADI FAVORIT MAHASISWA UNIMAL

    Lhokseumawe, 1 Juni 2026 – Di tengah pesatnya pertumbuhan usaha kuliner di Kota Lhokseumawe, Warung Bunda Marelan yang berlokasi di Jalan Simpang Len (Jalan Line Pipa), Komplek TSP, Blang Pulo, Padang Sakti, masih menjadi salah satu destinasi kuliner malam favorit masyarakat dan mahasiswa Universitas Malikussaleh (UNIMAL).

    Warung yang juga dikenal dengan nama Warung Makan Bunda ini telah beroperasi sejak tahun 2014 dan mampu mempertahankan eksistensinya selama lebih dari satu dekade. Beragam menu makanan dengan harga terjangkau serta cita rasa yang konsisten menjadi daya tarik utama yang membuat pelanggan terus berdatangan.

    Pemilik warung yang akrab disapa Bunda mengatakan bahwa menjaga kualitas rasa merupakan prinsip yang selalu diterapkan sejak awal usaha tersebut berdiri.

    Kami selalu berusaha mempertahankan cita rasa yang sama sejak pertama kali buka. Alhamdulillah sampai sekarang masih banyak pelanggan yang datang, terutama mahasiswa dan warga sekitar,” ujar Bunda saat ditemui di warungnya.

    Warung Bunda Marelan menawarkan berbagai pilihan menu, mulai dari Mie Aceh kuah dan goreng, kwetiaw, ifumie, mienas (mie nasi), hingga berbagai varian nasi goreng. Pelanggan juga dapat menambahkan lauk seperti ayam crispy, telur dadar, telur mata sapi, maupun hati ayam. Sementara untuk minuman tersedia berbagai pilihan minuman panas dan dingin, seperti kopi, susu, Nutrisari, dan minuman lainnya.

    Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Sebagian besar menu utama dibanderol mulai dari Rp13.000 per porsi. Dengan harga tersebut, pelanggan sudah dapat menikmati hidangan dengan porsi yang cukup mengenyangkan.

    Faktor harga yang ramah di kantong menjadi salah satu alasan warung ini banyak diminati mahasiswa, khususnya mereka yang tinggal di kawasan kos sekitar Blang Pulo. Selain itu, variasi menu yang beragam memberikan banyak pilihan makanan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

    Salah seorang pelanggan, Inas (22), mengaku telah menjadi pelanggan tetap Warung Bunda Marelan karena kualitas rasa yang dinilainya tetap terjaga dari waktu ke waktu.

    Menurut saya, Warung Bunda Marelan punya cita rasa yang sulit ditemukan di tempat lain dengan harga yang sama. Bumbunya khas, porsinya pas, dan harganya sangat bersahabat untuk mahasiswa. Itu sebabnya warung ini sering menjadi pilihan saya ketika ingin makan malam,” ujarnya saat menikmati Mie Aceh di warung tersebut.

    Selain melayani pelanggan yang makan di tempat, Warung Bunda Marelan juga menerima pesanan untuk berbagai acara, seperti rapat, syukuran, dan kegiatan lainnya. Pelanggan dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui kontak yang tersedia.

    Warung ini beroperasi setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 00.00 WIB. Jam operasional tersebut menjadikannya salah satu pilihan utama bagi masyarakat yang mencari makanan pada malam hari.

    Menjelang malam, suasana Warung Bunda Marelan tampak ramai dipenuhi pelanggan dari berbagai kalangan. Mahasiswa UNIMAL yang tinggal di kawasan kos sekitar maupun dari wilayah lain, terlihat memenuhi meja makan sambil menikmati hidangan dan berbincang bersama teman-teman mereka.

    Dengan mempertahankan kualitas rasa, harga yang terjangkau, serta pelayanan yang baik, Warung Bunda Marelan terus menjadi salah satu pilihan kuliner malam favorit masyarakat dan mahasiswa di kawasan Blang Pulo hingga saat ini.

    Reporter : Nadyah Agustina

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Mahasiswa Unimal Ungkap Cara Menjaga Produktivitas di Tengah Jadwal Padat

    Lhokseumawe — Mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal), Sartika, membagikan cara menjaga produktivitas di tengah padatnya jadwal kuliah dan organisasi melalui penerapan manajemen waktu dan penentuan prioritas.

    Strategi tersebut dinilai penting agar aktivitas akademik tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan kesehatan dan kehidupan pribadi. Bagi Sartika, menjalani perkuliahan sambil aktif dalam organisasi bukan perkara mudah. Berbagai tugas akademik, agenda organisasi, hingga kebutuhan untuk beristirahat sering kali menuntut kemampuan mengatur waktu dengan baik agar seluruh tanggung jawab dapat diselesaikan secara seimbang.

    Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan untuk menjaga produktivitas adalah menyusun daftar prioritas dan membuat jadwal kegiatan harian. Dengan cara tersebut, ia dapat membedakan pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan pekerjaan yang masih bisa ditunda.

    “Biasanya saya membuat daftar kegiatan dan menentukan mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Waktu luang di sela-sela kuliah juga saya manfaatkan untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan organisasi supaya tidak menumpuk,” ujar Sartika, Senin (1/6).

    Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa saat ini adalah menjaga konsistensi ketika harus menjalankan banyak aktivitas dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, kemampuan mengelola waktu menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan selama masa perkuliahan.

    Selain manajemen waktu, Sartika menilai dukungan dari lingkungan sekitar turut berperan penting dalam menjaga semangat dan produktivitas. Ia mengaku sering mendapat motivasi dari teman, rekan organisasi, dan keluarga ketika menghadapi jadwal yang padat.

    Menurut Sartika, lingkungan yang positif dapat membantu mahasiswa menghadapi tekanan dan berbagai tuntutan yang muncul selama menjalani aktivitas akademik maupun organisasi. Saat merasa kewalahan, ia memilih berdiskusi dengan orang-orang terdekat untuk mencari solusi dan memperoleh pandangan baru terhadap masalah yang dihadapi.

    “Ketika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, saya biasanya berbagi cerita dengan teman atau keluarga. Dari situ saya bisa mendapatkan masukan dan lebih tenang dalam menentukan langkah yang harus dilakukan,” katanya.

    Di tengah kesibukan yang dijalani, Sartika tetap berupaya menyediakan waktu untuk beristirahat. Ia biasanya memanfaatkan malam hari setelah seluruh pekerjaan selesai atau akhir pekan ketika tidak memiliki agenda mendesak untuk memulihkan kondisi fisik dan mental.

    Waktu tersebut digunakan untuk berkumpul bersama keluarga, bertemu teman, atau melakukan aktivitas yang disukai. Menurutnya, menjaga kesehatan fisik dan mental merupakan bagian penting dari produktivitas yang sering kali terlupakan.

    Lebih lanjut, Sartika menilai banyak mahasiswa memilih aktif dalam organisasi atau bekerja sambil kuliah karena ingin mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik. Pengalaman tersebut, kata dia, dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, serta kemampuan manajemen waktu yang berguna ketika memasuki dunia kerja.

    Meski demikian, ia menegaskan bahwa akademik tetap harus menjadi prioritas utama. Kegiatan organisasi maupun aktivitas lainnya perlu disesuaikan dengan jadwal perkuliahan agar tidak mengganggu proses belajar.

    Melalui pengalamannya, Sartika berharap mahasiswa dapat lebih bijak dalam menentukan prioritas dan mengelola waktu. Menurutnya, keseimbangan antara akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi dapat tercapai apabila setiap aktivitas direncanakan dengan baik dan dijalani secara disiplin.

    “Kesibukan bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan atau akademik. Selama kita bisa menentukan prioritas dan mengatur waktu dengan baik, semua aktivitas bisa berjalan seimbang,” tutupnya.

    Reporter: Nazwa Fitri Andini
    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Deru Mesin Kopi Menjadi Saksi Perjuangan Nabila Mengejar Toga Impian

    Source doc: unplash.com

    Lhokseumawe, (01/06/2026). Suara alarm ponsel berdering nyaring tepat pukul 04.00 WIB. Di sebuah kamar kos sempit berukuran 3×3 meter, Nabila (21) langsung terbangun.

    Matanya masih merah karena baru terpejam tiga jam lalu. Tanpa membuang waktu, mahasiswi semester enam jurusan Akuntansi ini bergegas merapikan tumpukan kertas folio di mejanya, berganti pakaian, lalu memacu motor tuanya menembus dinginnya embun pagi. Perjalanan panjang 18 jam sehari untuk merajut masa depan baru saja dimulai.

    Nabila adalah satu dari ribuan potret mahasiswa Universitas Malikussaleh yang harus menjalani kehidupan ganda. Di pagi hingga siang hari, ia adalah mahasiswi yang aktif berdiskusi di ruang kuliah.

    Namun begitu matahari bergeser ke barat, perannya berubah total menjadi kasir sekaligus pelayan di sebuah kedai kopi yang sibuk hingga tengah malam. Kuliah sambil bekerja bukan lagi sebuah pilihan gaya hidup baginya, melainkan satu-satunya cara bertahan hidup demi meraih gelar sarjana.

    Keputusan berat ini diambil Nabila sejak tahun 2024 lalu saat bisnis UMKM milik ayahnya bangkrut akibat terlilit utang. Sang ayah jatuh sakit, sementara uang tabungan keluarga habis tak bersisa.

    Sebagai anak sulung, Nabila dihadapkan pada dua pilihan sulit: berhenti kuliah atau mencari uang sendiri untuk membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal).

    “Kalau tidak kerja, saya harus putus kuliah. Orang tua sudah tidak punya biaya,” ujar Nabila lirih. Di tengah kegigihannya, tetap saja fisiknya sering kali tumbang akibat kelelahan akut.

    Selesai kuliah pukul 14.00 WIB, ia langsung berdiri di balik mesin kopi hingga pukul 23.00 WIB. Tugas kuliah yang menumpuk terpaksa ia selesaikan pada dini hari.

    Nilai akademiknya bahkan sempat merosot tajam karena ia sering ketiduran di kelas akibat dehidrasi dan kurang tidur. Meski berat, foto kedua orang tuanya di dalam dompet selalu menjadi obat penawar lelah.

    Reporter: Shafa Zahwah

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Quarter Life Crisis di Kalangan Mahasiswa: Antara Tuntutan Akademik dan Ketidakpastian Masa Depan

    search by LPM Profesi

    Lhokseumawe 1/6/2026 I Di balik kehidupan kampus yang terlihat dinamis, banyak mahasiswa sebenarnya sedang menghadapi kecemasan yang tidak selalu terlihat. Tugas perkuliahan, tuntutan untuk aktif berorganisasi, persaingan akademik, hingga bayang-bayang dunia kerja setelah lulus sering kali menjadi sumber tekanan tersendiri. Tidak sedikit mahasiswa yang mulai mempertanyakan masa depannya, merasa tertinggal dari teman sebaya, atau bahkan kehilangan arah dalam menentukan tujuan hidup. Fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis, sebuah kondisi yang semakin banyak dialami generasi muda, khususnya mahasiswa yang sedang berada pada masa transisi menuju dunia dewasa.

    Menurut penulis, quarter life crisis di kalangan mahasiswa bukanlah sekadar rasa galau biasa, melainkan respons yang wajar terhadap berbagai tuntutan yang semakin kompleks di era modern. Mahasiswa saat ini tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan pendidikan dengan baik, tetapi juga harus memiliki pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, keterampilan digital, serta kesiapan menghadapi persaingan kerja yang ketat.

    Tekanan tersebut sering kali diperparah oleh media sosial yang menampilkan berbagai pencapaian orang lain. Ketika melihat teman berhasil mendapatkan beasiswa, magang di perusahaan besar, atau bahkan telah memiliki usaha sendiri, sebagian mahasiswa cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, muncul perasaan kurang percaya diri dan kekhawatiran bahwa dirinya belum cukup sukses dibandingkan lingkungan sekitarnya.

    Selain itu, ketidakpastian kondisi ekonomi dan lapangan pekerjaan juga menjadi faktor yang mendorong munculnya quarter life crisis. Banyak mahasiswa merasa khawatir apakah ilmu yang mereka pelajari akan relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau apakah mereka mampu memperoleh pekerjaan yang layak setelah lulus. Kekhawatiran inilah yang kemudian memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa dan membuat mereka merasa tertekan.

    Fenomena quarter life crisis bukanlah isu yang muncul tanpa dasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka pada kelompok usia muda masih tergolong tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja masih menjadi tantangan bagi banyak generasi muda di Indonesia.

    Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga turut memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk melakukan perbandingan sosial (social comparison), yang pada akhirnya memicu kecemasan dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

    Di lingkungan kampus, fenomena ini dapat dilihat dari semakin banyak mahasiswa yang merasa bingung menentukan arah karier, ragu terhadap pilihan jurusan, hingga mengalami stres menjelang kelulusan. Meskipun tidak semua mahasiswa mengalami quarter life crisis dengan tingkat yang sama, fenomena ini telah menjadi realitas yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa masa kini.

    Quarter life crisis merupakan fenomena yang nyata dan banyak dialami mahasiswa di tengah tuntutan akademik serta ketidakpastian masa depan. Tekanan untuk berprestasi, persaingan kerja yang semakin ketat, dan pengaruh media sosial menjadi faktor utama yang mendorong munculnya kecemasan pada generasi muda.

    Namun, quarter life crisis tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan yang menghalangi masa depan. Sebaliknya, fase ini dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenali diri, mengevaluasi tujuan hidup, dan mempersiapkan diri secara lebih matang. Mahasiswa perlu memahami bahwa setiap orang memiliki proses dan waktu keberhasilan yang berbeda-beda sehingga tidak perlu terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu memberikan dukungan melalui layanan konseling, pelatihan pengembangan karier, serta program yang membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Dengan dukungan yang tepat dan pola pikir yang lebih sehat, quarter life crisis dapat diubah menjadi momentum untuk tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan kehidupan setelah lulus kuliah.

    Reporter: Fadilla

    Editor: Adilah Syahputri