Category: Uncategorized

  • Di Balik Kesibukan Kuliah, Mahasiswa Terapkan Gaya Hidup Sehat

    Lhokseumawe, 9 Juni 2026 – Aktivitas perkuliahan yang padat tidak menghentikan beberapa mahasiswa untuk menjalani gaya hidup yang sehat. Di tengah tuntutan studi, pekerjaan rumah yang menumpuk, dan berbagai kegiatan organisasi, berolahraga menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

    Putri Daulay , seorang mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal), berbagi bahwa ia mulai rutin berolahraga sejak bergabung dalam dunia perkuliahan. Ia mengungkapkan bahwa menjaga kebugaran sangat krusial agar dapat melakukan berbagai aktivitas kampus dengan maksimal.

    “Saya mulai rutin berolahraga sejak awal kuliah karena sehari-hari cukup sibuk. Dengan berolahraga, tubuh terasa lebih bugar dan tidak cepat lelah,” ujar Putri daulay , Kamis (9/6)

    Olahraga yang paling sering dilakukannya adalah jogging dan bermain badminton. Selain mudah dilakukan, kedua jenis olahraga ini juga dianggap ampuh untuk menjaga kesehatan tubuh tanpa mengganggu jadwal kuliah.

    Namun, menjalani gaya hidup sehat sebagai seorang mahasiswa juga tidak gampang. Rutinitas akademik menjadi hambatan utama dalam mempertahankan konsistensi berolahraga. “Hambatan terbesar adalah bagaimana membagi waktu antara kuliah, tugas, dan kegiatan lain. Kadang-kadang, jadwal yang padat membuat saya kesulitan untuk menyisihkan waktu berolahraga,” ungkapnya.

    Meskipun begitu, mahasiswa ini merasakan berbagai keuntungan dari kebiasaan berolahraga. Selain meningkatkan kesehatan fisik, berolahraga juga membantu meredakan stres akibat tekanan akademik yang sering dihadapi selama perkuliahan.

    Penerapan gaya hidup sehat melalui olahraga kini semakin digemari oleh mahasiswa. Selain menjaga kesehatan fisik, kebiasaan ini juga dianggap sebagai langkah penting untuk mencapai keseimbangan antara studi akademik dan kesehatan mental di tengah kesibukan kehidupan kampus.

    Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan, mahasiswa membuktikan bahwa kesibukan kuliah tidak menjadi penghalang untuk menjalani gaya hidup yang sehat. Sebaliknya, olahraga justru menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas dan kualitas hidup selama menempuh pendidikan.

    Jurnalis: Nia Amelia

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Stres, Sepi, dan Harapan di Ujung Perkuliahan

    Source Doc: jagoketik.com

    Lhokseumawe, (09/06/2026). Suara ketikan keyboard terdengar pelan di kamar kos Rena (22) yang malam itu masih dipenuhi cahaya layar laptop. Jarum jam sudah melewati tengah malam, tetapi mahasiswi Teknik Informatika tersebut belum juga beranjak dari tempat duduknya. Tumpukan revisi skripsi membuat malam panjang menjadi hal yang biasa dalam hidupnya.

    Bagi Rena, semester akhir bukan hanya soal menyelesaikan penelitian dan mengejar tanda tangan dosen pembimbing. Di balik lembar demi lembar skripsi yang harus diselesaikan, ada rasa lelah yang sering kali sulit dijelaskan kepada orang lain. Semakin dekat dengan kelulusan, semakin besar pula tekanan yang ia rasakan.

    Kesibukan mengerjakan tugas akhir perlahan membuat hari-harinya terasa berbeda. Waktu yang dulu diisi dengan cerita bersama teman kini lebih banyak dihabiskan sendirian di depan laptop. Di tengah rutinitas itu, rasa sepi datang tanpa mengetuk pintu dan menetap lebih lama dari yang ia inginkan.

    Ada hari ketika Rena merasa baik-baik saja, tetapi ada pula malam ketika pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan. Pertanyaan mengenai kapan lulus dan akan bekerja di mana sering kali muncul dari berbagai arah. Tanpa disadari, tekanan tersebut membuat kesehatan mentalnya ikut terdampak.

    Saat keadaan terasa terlalu berat, Rena memilih mencari ruang untuk bernapas sejenak. Ia berjalan keluar kos, membeli minuman hangat, atau menelepon keluarganya di rumah hanya untuk mendengar suara yang menenangkan. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali menjadi penyelamat di tengah hari yang melelahkan.

    Beruntung, Rena tidak benar-benar berjalan sendirian. Dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat menjadi tempatnya kembali ketika semangat mulai menurun. Dari perjalanan itu, ia belajar bahwa menyelesaikan kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang menjaga diri agar tetap kuat melewati masa-masa yang tidak mudah.

    Reporter: Rahma Annisa Siregar

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Penumpang Kapal PELNI Rayakan Iduladha di Tengah Laut, Suasana di Pelabuhan Belawan Dipadati Penumpang

    Belawan — Suasana Hari Raya Iduladha dirasakan dengan cara yang berbeda oleh para penumpang kapal PELNI yang sedang berlayar. Ditengah perjalanan laut, ratusan penumpang tetap dapat melaksanakan salat iduladha berjamaah dan merayakan hari raya bersama sesama penumpang.

    Salah seorang penumpang, Aisyah, mengatakan jumlah penumpang selama periode Iduladha meningkat dibandingkan hari-hari biasa. Banyak masyarakat memanfaatkan kapal sebagai sarana transportasi untuk pulang kampung maupun mengunjungi keluarga di berbagai daerah.

    “Suasana di kapal saat momen Iduladha sangat ramai dan padat. Jumlah penumpang meningkat karena banyak masyarakat yang melakukan perjalanan untuk pulang kampung atau mengunjungi keluarga. Hampir seluruh area kapal dipenuhi penumpang sehingga suasananya jauh lebih ramai dibandingkan hari biasa,” ujarnya.

    Meski berada di tengah laut, para penumpang tetap dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk. Salat Iduladha berjamaah dilaksanakan di dek bagian atas kapal yang telah disiapkan sebagai tempat ibadah.

    Menurut Aisyah, pelaksanaan Salat Id di tengah laut menjadi pengalaman yang berkesan. Selain beribadah, para penumpang juga memanfaatkan momen tersebut untuk bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan selama perjalanan.

    “Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah pelaksanaan Salat Iduladha berjamaah di atas kapal. Meskipun sedang berada di tengah laut, para penumpang tetap dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk. Selain itu, penumpang juga saling bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan selama perjalanan,” katanya.

    Pelaksanaan salat berlangsung tertib berkat dukungan kru kapal yang membantu mengatur lokasi ibadah. Fasilitas yang disediakan memungkinkan para penumpang menjalankan ibadah dengan nyaman meskipun berada jauh dari daratan.

    Selain menjadi sarana transportasi, kapal PELNI juga menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah. Interaksi yang terjalin selama pelayaran menciptakan suasana kebersamaan dan kekeluargaan di tengah perjalanan.

    Meski merayakan Iduladha jauh dari kampung halaman, para penumpang tetap dapat merasakan makna hari raya melalui ibadah bersama dan kebersamaan yang terjalin selama pelayaran. Pengalaman merayakan Iduladha di tengah laut pun menjadi kenangan tersendiri yang tidak mudah dilupakan.

    Reporter: Nasa Aulia

    Editor : Zulfiana

  • Antara Organisasi dan Tugas Kuliah: Ketika Prioritas Mulai Terbengkalai

    source by unsplash.com

    Lhokseumawe, 9 Juni 2026 | Menjadi mahasiswa tidak hanya tentang hadir di kelas dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa yang memilih aktif dalam organisasi, kepanitiaan, komunitas, maupun berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Aktivitas tersebut tentu memiliki banyak manfaat, mulai dari menambah pengalaman, melatih kepemimpinan, hingga memperluas relasi. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul persoalan yang cukup sering terjadi di kalangan mahasiswa, yaitu terbengkalainya tugas kuliah akibat padatnya aktivitas organisasi dan kegiatan lainnya.

    Fenomena ini bukanlah hal yang asing. Di berbagai kampus, sering ditemukan mahasiswa yang sangat aktif dalam organisasi tetapi mulai kesulitan mengatur waktu untuk menyelesaikan kewajiban akademiknya. Tugas yang seharusnya dikerjakan jauh hari justru ditunda hingga mendekati batas pengumpulan. Bahkan tidak jarang ada yang terlambat mengumpulkan tugas karena terlalu fokus pada rapat, program kerja, atau kegiatan organisasi lainnya.

    Menurut penulis, aktif berorganisasi bukanlah sebuah kesalahan. Justru organisasi merupakan tempat belajar yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Kemampuan berbicara di depan umum, menyusun program kerja, memimpin tim, hingga menyelesaikan konflik sering kali lebih banyak diasah melalui kegiatan organisasi. Namun, masalah muncul ketika mahasiswa tidak mampu menempatkan organisasi dan perkuliahan pada porsi yang seimbang.

    Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bangga ketika dipercaya memegang jabatan tertentu dalam organisasi. Akan tetapi, kebanggaan tersebut terkadang membuat mereka lupa bahwa status utama yang melekat adalah sebagai mahasiswa. Ketika tugas kuliah mulai terbengkalai, nilai menurun, dan proses belajar tidak lagi menjadi prioritas, maka tujuan utama menempuh pendidikan tinggi menjadi kurang optimal.

    Di sisi lain, tuntutan kegiatan kampus yang semakin beragam juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Dalam satu semester, mahasiswa bisa menghadapi berbagai tugas akademik secara bersamaan, mulai dari makalah, presentasi, laporan penelitian, hingga proyek kelompok. Ketika jadwal tersebut bertabrakan dengan agenda organisasi yang padat, mahasiswa sering kali berada dalam posisi sulit untuk menentukan prioritas.

    Penulis melihat bahwa akar permasalahan sebenarnya bukan terletak pada organisasi atau banyaknya kegiatan, melainkan pada kemampuan manajemen waktu. Banyak mahasiswa yang baru menyadari pentingnya mengatur jadwal ketika tugas mulai menumpuk dan tenggat waktu semakin dekat. Akibatnya, tugas dikerjakan secara terburu-buru, kualitas pekerjaan menurun, dan proses pembelajaran tidak berjalan maksimal.

    Fenomena “sistem kebut semalam” yang sudah menjadi budaya di kalangan mahasiswa juga turut memperburuk keadaan. Kebiasaan menunda pekerjaan membuat mahasiswa semakin rentan mengalami tekanan akademik. Ketika tugas dan kegiatan organisasi datang secara bersamaan, mereka sering kali merasa kewalahan dan kesulitan menyelesaikan semuanya dengan baik.

    Meski demikian, tidak sedikit mahasiswa yang berhasil membuktikan bahwa organisasi dan akademik dapat berjalan beriringan. Mereka mampu mengatur waktu dengan baik, menyusun skala prioritas, serta memahami kapan harus fokus pada kegiatan organisasi dan kapan harus menyelesaikan tanggung jawab akademik. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi bukan penghambat prestasi akademik, melainkan tantangan yang harus dikelola dengan bijak.

    Menurut penulis, mahasiswa perlu memahami bahwa organisasi adalah sarana pengembangan diri, bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban kuliah. Sebaliknya, tugas kuliah juga tidak seharusnya membuat mahasiswa menutup diri dari pengalaman berorganisasi. Keduanya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan kepemimpinan.

    Pada akhirnya, keseimbangan menjadi kunci utama. Mahasiswa dituntut untuk mampu mengelola waktu, menentukan prioritas, dan bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang diambil. Organisasi dapat memberikan pengalaman berharga, tetapi tugas kuliah tetap menjadi tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Dengan manajemen waktu yang baik, mahasiswa tidak perlu memilih salah satu, karena keduanya dapat berjalan bersama untuk mendukung proses pembelajaran dan pengembangan diri selama masa perkuliahan.

    Penulis: Fadilla
    Editor: Adilah Syahputri

  • Air Terjun Blang Kolam, Hidden Gem Wisata Alam yang Memikat di Aceh Utara

    Sumber google Humada ALfian

    Aceh Utara, 9 Juni 2026– Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern, Air Terjun Blang Kolam tetap menjadi salah satu tujuan favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam yang asri dan menenangkan. Berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, tempat ini dikenal sebagai hidden gem yang menawarkan panorama alam memukau dan udara yang sejuk.

    Pada Selasa (9/6/2026), suasana di kawasan wisata Air Terjun Blang Kolam terlihat cukup nyaman dengan jumlah pengunjung yang tidak terlalu ramai. Kondisi tersebut membuat wisatawan dapat menikmati keindahan alam dengan lebih leluasa dan tenang.

    Daya tarik utama Air Terjun Blang Kolam adalah aliran air yang jatuh dari tebing tinggi, dikelilingi pepohonan hijau yang masih alami. Gemuruh air yang berpadu dengan suara alam menciptakan suasana yang menenangkan, sehingga banyak pengunjung memilih lokasi ini untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

    Selain menikmati pemandangan, wisatawan juga dapat bermain air, bersantai bersama keluarga maupun teman, serta mengabadikan momen di berbagai sudut yang instagramable. Keindahan alam yang masih terjaga menjadikan kawasan ini cocok sebagai destinasi wisata alam bagi pecinta petualangan dan ketenangan.

    TikTok @Cellaaaaa_

    Salah satu pengunjung, Geubrina (21), mengaku terkesan dengan pesona yang dimiliki Air Terjun Blang Kolam.

    “Air Terjun Blang Kolam adalah salah satu tempat wisata yang sangat indah. Udara yang sejuk dan pemandangannya benar-benar menyegarkan. Tempat ini cocok untuk refreshing bersama keluarga maupun teman,”ujarnya.

    Geubrina juga mengajak para pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan agar keindahan alam di kawasan wisata tersebut tetap terpelihara.Untuk menikmati wisata alam ini, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Sementara biaya parkir dikenakan Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil.

    Fasilitas yang tersedia juga cukup lengkap, mulai dari area parkir, toilet, musala, hingga warung yang menjual makanan dan minuman. Fasilitas tersebut mendukung kenyamanan wisatawan selama berkunjung. Air Terjun Blang Kolam dapat ditempuh sekitar 30 menit dari Kota Lhokseumawe. Akses menuju lokasi cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

    Namun, pengunjung perlu menuruni sejumlah anak tangga untuk mencapai titik utama air terjun.Meski harus sedikit berjalan kaki, rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan alam yang memukau serta suasana sejuk yang ditawarkan. Keindahan Air Terjun Blang Kolam menjadi bukti bahwa Aceh Utara masih menyimpan banyak hidden gem wisata alam yang layak dikunjungi dan dilestarikan.

    Reporter : Nadyah Agustina

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Thrifting Jadi Solusi Tampil Stylish dengan Budget Hemat

    Lhokseumawe, (08/06/2026). Di tengah meningkatnya kebutuhan mahasiswa untuk tampil rapi dan percaya diri di kampus, tren thrifting dan berburu pakaian preloved semakin diminati. Tidak hanya karena harga yang lebih terjangkau, tetapi juga karena menawarkan outfit unik yang sulit ditemukan di toko pakaian biasa.

    Fenomena ini terlihat di kalangan mahasiswa yang menjadikan thrifting sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan fashion sehari-hari. Dengan budget yang terbatas, mahasiswa tetap dapat tampil modis tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli pakaian baru.

    Salah seorang mahasiswa yang aktif mengikuti tren thrifting mengaku sudah mulai mengenal dunia pakaian bekas sejak tahun 2022. Pengalamannya berburu pakaian di berbagai tempat membuatnya semakin tertarik dengan gaya belanja tersebut.

    Saya tertarik membeli barang thrift karena modelnya bagus, jarang dipakai orang lain, dan harganya juga sangat terjangkau,” ujar Ananda Geubrina Rizky mahasiswa USK Jurusan Ilmu Komunikasi.

    Menurutnya, salah satu daya tarik utama pakaian thrift adalah model yang unik dan tidak pasaran. Berbeda dengan pakaian yang diproduksi massal, sebagian besar barang thrift hanya tersedia dalam jumlah terbatas sehingga memberikan kesan lebih eksklusif bagi penggunanya.

    Untuk mendapatkan pakaian yang berkualitas, mahasiswa biasanya lebih selektif saat memilih barang. Mereka memeriksa kondisi bahan, memastikan tidak ada noda yang sulit dihilangkan, serta mengecek tingkat kelayakan pakaian sebelum memutuskan untuk membeli. Tidak jarang proses tawar-menawar juga dilakukan untuk mendapatkan harga yang lebih sesuai.

    Tempat berburu pakaian thrift pun beragam, mulai dari pasar khusus pakaian bekas, toko online, hingga siaran langsung penjual di media sosial. Bahkan beberapa mahasiswa rela berburu hingga ke luar negeri untuk mendapatkan koleksi pakaian yang menarik dengan harga lebih murah.

    Popularitas thrifting di kalangan mahasiswa dinilai terus meningkat karena mampu menjawab kebutuhan fashion dengan biaya yang lebih hemat. Selain itu, banyak pakaian thrift yang berasal dari merek-merek ternama sehingga mahasiswa tetap dapat tampil stylish tanpa harus menguras kantong. Dengan berbagai keuntungan tersebut, thrifting kini tidak hanya menjadi tren, tetapi juga bagian dari gaya hidup mahasiswa masa kini.

    Jurnalis: Diva Zayana

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Tari Tor-Tor, Warisan Budaya Batak yang Tetap Bertahan di Era Modern

    source: KOMPAS. com

    Lhokseumawe,(8 Juni 2026)– Di tengah derasnya arus modernisasi, Tari Tor-Tor tetap menjadi salah satu warisan budaya yang menjaga identitas masyarakat Batak di Sumatera Utara. Tarian tradisional ini tidak hanya dikenal melalui gerakannya yang khas, tetapi juga mengandung nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

    Tari Tor-Tor merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Batak, khususnya Batak Toba, di Sumatera Utara. Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, tarian ini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan awalnya digunakan dalam berbagai ritual adat serta upacara keagamaan.

    Nama “Tor-Tor” berasal dari bunyi hentakan kaki para penari saat menari di atas lantai rumah adat Batak yang terbuat dari papan kayu. Bunyi “tor… tor… tor…” yang dihasilkan dari hentakan tersebut kemudian menjadi nama yang melekat pada tarian ini hingga sekarang.

    Pada masa lampau, Tari Tor-Tor sering digunakan dalam upacara pemanggilan roh leluhur, pesta adat, hingga ritual penyembuhan. Seiring perkembangan zaman dan masuknya agama-agama modern ke wilayah Batak, fungsi ritual tersebut mulai berkurang. Meski demikian, Tari Tor-Tor tetap dipertahankan sebagai bagian penting dalam berbagai kegiatan adat dan budaya masyarakat Batak.

    Bagi masyarakat Batak, Tari Tor-Tor bukan sekadar hiburan. Setiap gerakan yang dilakukan memiliki makna tersendiri. Gerakan tangan yang perlahan dan teratur melambangkan penghormatan, rasa syukur, serta bentuk komunikasi antaranggota masyarakat dalam sebuah acara adat.

    Dalam pelaksanaannya, Tari Tor-Tor biasanya diiringi musik tradisional Gondang Batak yang dimainkan menggunakan alat musik khas seperti gondang, ogung, dan sarune. Perpaduan antara gerakan tari dan irama gondang menciptakan suasana yang khidmat sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat.

    Menurut sejumlah tokoh adat Batak, Tari Tor-Tor mengajarkan nilai kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, serta penghargaan terhadap leluhur. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Batak dan terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di era globalisasi, Tari Tor-Tor menghadapi tantangan dalam menarik minat generasi muda. Namun, berbagai komunitas budaya, sekolah, hingga pemerintah daerah terus berupaya melestarikan tarian ini melalui festival budaya, pertunjukan seni, dan pendidikan muatan lokal.

    Keberadaan Tari Tor-Tor tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Batak, tetapi juga memperkaya keberagaman budaya Indonesia. Melalui gerakan yang sederhana namun penuh makna, tarian ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur memiliki nilai penting yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Para penggiat budaya menilai bahwa Tari Tor-Tor bukan hanya sebuah tarian, melainkan juga cerminan sejarah, identitas, dan jati diri masyarakat Batak. Oleh karena itu, pelestarian tarian tradisional ini menjadi tanggung jawab bersama agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

    Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Tari Tor-Tor terus bertahan melintasi zaman. Di tengah perubahan sosial dan budaya yang terjadi, tarian ini tetap menjadi simbol persatuan, penghormatan terhadap tradisi, serta bukti bahwa kekayaan budaya Indonesia masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

    Reporter : Risna Maulina
    Editor : Zulfiana

  • KIP Kuliah Salah Sasaran: Ketika Bantuan Pendidikan Dipertanyakan

    search by Nusa Mandiri News

    Lhokseumawe, 8 Juni 2026 | Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah hadir sebagai harapan bagi banyak pelajar yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang seseorang dalam meraih pendidikan yang layak. Namun, di balik tujuan mulia tersebut, muncul persoalan yang belakangan semakin sering menjadi perbincangan, yaitu dugaan penerima KIP Kuliah yang tidak tepat sasaran.

    Di lingkungan kampus, termasuk di sekitar Universitas Malikussaleh (Unimal), isu ini kerap menjadi topik diskusi. Tidak sedikit mahasiswa yang mempertanyakan bagaimana proses seleksi penerima bantuan dilakukan. Pasalnya, masyarakat sering menemukan adanya penerima KIP Kuliah yang dianggap memiliki kondisi ekonomi lebih baik dibandingkan mahasiswa lain yang justru tidak memperoleh bantuan.

    Menurut penulis, persoalan salah sasaran ini bukan hanya tentang siapa yang menerima bantuan, tetapi juga menyangkut rasa keadilan. Program yang seharusnya menjadi jembatan bagi mereka yang kurang mampu bisa kehilangan maknanya apabila bantuan diberikan kepada pihak yang tidak memenuhi kriteria. Ketika hal tersebut terjadi, mahasiswa yang benar-benar membutuhkan akan merasa dirugikan karena kesempatan yang seharusnya menjadi hak mereka justru berpindah kepada orang lain.

    Selain dugaan salah sasaran, muncul pula kekhawatiran mengenai penyalahgunaan dana KIP Kuliah. Pada dasarnya, bantuan ini diberikan untuk mendukung kebutuhan pendidikan dan biaya hidup selama menjalani perkuliahan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada oknum yang menggunakan dana tersebut untuk kebutuhan konsumtif yang tidak berkaitan dengan pendidikan. Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai kesadaran dan tanggung jawab penerima bantuan.

    Penulis menilai bahwa persoalan ini tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada mahasiswa penerima. Sistem verifikasi yang kurang maksimal juga menjadi faktor yang perlu dievaluasi. Dalam beberapa kasus, data administrasi yang diajukan belum tentu menggambarkan kondisi ekonomi sebenarnya. Akibatnya, bantuan yang seharusnya tepat sasaran berpotensi jatuh kepada pihak yang kurang berhak menerimanya.

    Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang benar-benar terbantu oleh program KIP Kuliah. Banyak di antara mereka yang mampu bertahan di bangku kuliah karena adanya bantuan tersebut. Oleh sebab itu, kritik terhadap pelaksanaan program tidak boleh diartikan sebagai penolakan terhadap keberadaan KIP Kuliah. Justru sebaliknya, kritik diperlukan agar program ini dapat berjalan lebih baik dan memberikan manfaat kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

    Permasalahan ini menunjukkan bahwa transparansi dan pengawasan harus menjadi perhatian utama. Perguruan tinggi perlu melakukan evaluasi berkala terhadap penerima bantuan, sementara pemerintah perlu memperkuat sistem verifikasi agar data yang digunakan lebih akurat. Selain itu, penerima bantuan juga harus memahami bahwa dana KIP Kuliah merupakan amanah yang penggunaannya harus diprioritaskan untuk kebutuhan pendidikan.

    Pada akhirnya, KIP Kuliah tetap menjadi salah satu program pendidikan yang sangat penting dalam mendukung akses pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari banyaknya penerima bantuan, melainkan juga dari ketepatan sasaran dan manfaat yang benar-benar dirasakan. Jika persoalan salah sasaran dan penyalahgunaan dapat diminimalkan, maka KIP Kuliah akan semakin mampu mewujudkan cita-cita pemerataan pendidikan bagi seluruh anak bangsa.

    Penulis: Fadilla

    Editor: Adilah Syahputri

  • Meniti Garis Waktu Kemenangan, Kisah Yesi Safitri Merajut Prestasi di Tengah Padatnya Kuliah

    Lhokseumawe, (08/06/2026). Bagi sebagian besar mahasiswa, menyeimbangkan antara tumpukan tugas kuliah dan kompetisi akademis adalah hal yang melelahkan. Namun, bagi Yesi Safitri, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) berhasil menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mapres) tingkat universitas, tantangan tersebut adalah sebuah seni yang harus dikelola dengan matang.

    Di balik deretan piala dan penghargaan yang ia raih, ada disiplin tinggi, dukungan lingkungan, serta cara unik dalam mengelola emosi.

    Mengendalikan Waktu Lewat Timeline Kuliah

    Kunci utama keberhasilan Yesi terletak pada manajemen waktu yang sangat terstruktur. Ia tidak membiarkan harinya berjalan tanpa arah. Yesi sengaja membuat timeline perkuliahan khusus untuk memetakan seluruh aktivitasnya sepanjang semester.

    “Melalui timeline ini, saya bisa tahu persis mana minggu-minggu yang akan sangat sibuk dengan tugas kuliah, dan mana minggu yang lebih longgar,” ujar Yesi.

    Ketika melihat ada celah waktu di minggu yang tidak sibuk, Yesi memanfaatkannya secara maksimal untuk mempersiapkan diri mengikuti berbagai perlombaan. Strategi ini membuatnya tetap bisa bersinar di ranah kompetisi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai akademisnya di kelas.

    Yesi juga memiliki trik psikologis tersendiri saat tubuh dan pikirannya mulai didera rasa lelah. Ia selalu mengalihkan fokusnya pada masa depan.

    “Saat lelah, saya langsung memotivasi diri sendiri dengan membayangkan apa yang akan saya rasakan ketika berhasil memegang gelar kemenangan nanti. Rasa lelah itu langsung berganti menjadi semangat baru,” ungkapnya tersenyum.

    Mengubah Sedih Menjadi Lega

    Jalan menuju prestasi tidak selalu mulus, kegagalan adalah bagian yang tidak terhindarkan. Namun, Yesi punya cara khusus untuk bangkit dari kekecewaan. Setiap kali menghadapi kegagalan, ia memilih mundur sejenak dan mengambil waktu untuk dirinya sendiri (me time).

    Media utama Yesi untuk pulih adalah menulis jurnal (journaling). Di dalam buku hariannya, ia menumpahkan segala hal, apa yang ia rasakan, kekecewaan yang mendalam, hingga kronologi apa yang terjadi hari itu.Trik ini terbukti ampuh mengubah perspektif Yesi.

    Perasaan yang awalnya dipenuhi kesedihan dan sesak perlahan berubah menjadi rasa lega. Melalui tulisan, ia berhasil berdamai dengan keadaan dan menemukan cara konkret untuk mengatasi kekecewaan tersebut, lalu bersiap untuk mencoba lagi.

    Restu dan Dukungan Dosen FEB

    Langkah Yesi menuju podium Mahasiswa Berprestasi FEB semakin mantap berkat dukungan penuh dari pihak fakultas. Para dosen di FEB tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif mengawal, membimbing, dan memotivasi Yesi sepanjang proses seleksi Mapres yang ketat.

    Sinergi antara kerja keras mahasiswi dan fasilitas serta bimbingan dari dosen inilah yang akhirnya mengantarkan Yesi ke puncak prestasi. Kisah Yesi Safitri menjadi bukti nyata bahwa prestasi tidak lahir dari keberuntungan semata. Ia adalah buah dari manajemen waktu yang rapi, mental yang tangguh dalam menghadapi kegagalan, serta keberadaan orang-orang tepat yang selalu mendukung di sekitar kita.

    Reporter: Shafa Zahwah

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Pasar Nurlela Ramaikan Kulineran Warga Lhokseumawe dengan Beragam Pilihan Makanan

    Lhokseumawe, 8 Juni 2026– Pasar Nurlela yang berlangsung di Suzuya Mall Lhokseumawe pada 5–14 Juni 2026 menjadi salah satu destinasi kulineran yang ramai dikunjungi masyarakat. Event ini menghadirkan beragam makanan, minuman, serta produk UMKM loal yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan.

    Sejak hari pertama, Pasar Nurlela dipadati warga yang ingin menikmati suasana bazar sambil mencicipi aneka kuliner. Berbagai stand menawarkan pilihan makanan mulai dari camilan tradisional, makanan kekinian, hidangan utama, hingga minuman yang sedang populer.Salah seorang pengunjung, Fadli (22), mengaku tertarik datang karena banyaknya pilihan makanan yang tersedia dalam satu lokasi.

    “Di sini tersedia beragam makanan dengan harga yang masih terjangkau. Kita bisa mencoba banyak menu tanpa harus pindah-pindah tempat,” ujarnya, Minggu (8/6/2026).

    Keberagaman makanan menjadi daya tarik utama Pasar Nurlela. Pengunjung dapat menemukan berbagai camilan, dessert, minuman segar, hingga makanan modern yang sedang diminati. Banyaknya pilihan membuat setiap pengunjung dapat menyesuaikan kuliner yang ingin dicoba sesuai selera.Selain menjadi tempat kulineran, Pasar Nurlela juga menjadi sarana promosi bagi pelaku UMKM lokal. Melalui event ini, para pelaku usaha memiliki kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat yang lebih luas.

    Salah satu pelaku UMKM, Nurhayati (35), mengaku kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi usahanya.

    “Event seperti ini sangat membantu pelaku UMKM. Banyak pengunjung datang untuk mencoba produk kami sehingga usaha kami lebih dikenal,” katanya.

    Memasuki sore hingga malam hari, jumlah pengunjung terlihat semakin meningkat. Banyak warga memanfaatkan waktu bersama keluarga maupun teman untuk menikmati suasana bazar yang dipenuhi aroma beragam makanan.

    Kehadiran Pasar Nurlela tidak hanya memberikan pengalaman kuliner yang menarik bagi masyarakat, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Lhokseumawe. Dengan konsep bazar yang mengangkat produk lokal, kegiatan ini berhasil menjadi wadah interaksi antara pelaku usaha dan konsumen sekaligus memperkuat promosi UMKM daerah.

    Melalui beragam makanan dan minuman yang ditawarkan, Pasar Nurlela menjadi salah satu agenda kuliner yang mewarnai aktivitas masyarakat Lhokseumawe selama berlangsungnya acara.

    Reporter : Nadyah Agustina

    Editor : Cut Dinda Risna Muly