
Source Doc: health.detik.com
Lhokseumawe, (08/07/2026). Di sudut koridor lantai tiga gedung kuliah bersama, sebuah bangku kayu panjang bermotif cokelat kusam tidak pernah sepi.
Di atasnya, Andika (22) duduk membungkuk memindahkan tab dokumen skripsi bab empat ke tab situs pencarian kerja.
Pemuda asal Aceh Utara tersebut baru saja mengirimkan lamaran kerjanya yang ke-47 melalui layar gawai.
Langkah ini ia lakukan demi mencuri waktu di sela jam bimbingan agar tidak menjadi pengangguran setelah lulus nanti.
Ruang tunggu kampus di Lhokseumawe ini kini telah berubah fungsi menjadi medan pertempuran baru bagi para mahasiswa tingkat akhir.
Di sinilah mereka bergulat dengan dua tuntutan besar sekaligus, yaitu menyelesaikan revisi dari dosen dan berburu pekerjaan sebelum wisuda.
“Kuncinya harus curi start. Sambil nunggu dosen coret-coret revisi skripsi, saya manfaatkan buat apply lowongan yang buka hari ini,” ujar Andika sambil menyeka keringat di dahinya.
Ketidakpastian masa depan serta tuntutan ekonomi keluarga di kampung halaman kerap memicu kecemasan mendalam bagi mereka.
Bangku-bangku koridor pun menjadi saksi bisu berkumpulnya helaan napas berat dan binar harapan saat surel notifikasi lowongan masuk.
Setiap lowongan kerja yang dibuka menjadi peluang besar yang tidak boleh dilewatkan oleh para pejuang toga ini.
Di tengah impitan tuntutan akademis, mahasiswa akhir di Lhokseumawe tersebut menolak menyerah dan terus mengirimkan lamaran demi menjemput masa depan.
Reporter: Shafa Zahwah
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply