
Source by southwales.ac.uk
Lhokseumawe, Kamis, 9 Juli 2026 | Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa sehari-hari. Hampir semua aktivitas komunikasi dilakukan melalui gawai, mulai dari berdiskusi dengan teman, mencari informasi perkuliahan, hingga menghubungi dosen. Kemudahan ini memang membantu, tetapi jika digunakan tanpa batas, media sosial justru dapat membuat seseorang kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan lebih nyaman berinteraksi melalui layar dibandingkan bertatap muka.
Dampak komunikasi digital juga terlihat dari cara mahasiswa berkomunikasi dengan dosen. Tidak sedikit yang mengirim pesan tanpa memperhatikan waktu maupun etika, misalnya menghubungi dosen pada larut malam atau menggunakan bahasa yang terlalu santai. Padahal, meskipun komunikasi dilakukan melalui aplikasi pesan, sopan santun tetap harus dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada dosen.
Menurut saya, media sosial bukan penyebab seseorang menjadi antisosial, tetapi cara menggunakannya yang menentukan. Jika terlalu sibuk dengan dunia digital, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, jika dimanfaatkan dengan bijak, media sosial dapat menjadi sarana belajar, berbagi informasi, dan memperluas wawasan.
Sebagai mahasiswa, kita perlu menyeimbangkan komunikasi digital dengan interaksi secara langsung. Teknologi memang memudahkan banyak hal, tetapi kemampuan berkomunikasi dengan baik, menghargai orang lain, dan menjaga etika tetap menjadi bekal penting yang tidak bisa digantikan oleh media sosial.
Penulis: Riska Saleha Tinambunan
Editor: Adilah Syahputri
Leave a Reply