
Lhokseumawe, (09/07/2026). Menjalani pendidikan di tanah rantau kadang membuat seseorang untuk berdiri di atas kaki sendiri dan siap menghadapi kesepian.
Hal inilah yang sempat dirasakan oleh Nawal (21) dan Nadia (21), dua mahasiswa perantau yang semula tidak saling mengenal namun kini justru terikat layaknya saudara kandung.
Pada awal perkuliahan, rasa rindu rumah atau homesick menjadi musuh yang hampir membuat mereka menyerah pada keadaan.
Untungnya, takdir mempertemukan kedua teman senasib ini dalam sebuah momen sederhana di sudut kampus yang akhirnya mengubah segalanya.
Melalui percakapan kecil tentang daerah asal, mereka berdua perlahan menyadari bahwa mereka sedang memikul beban rindu dan kecemasan yang sama.
Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk saling menjaga dan berjanji untuk berjuang bersama demi menyelesaikan masa studi tepat waktu.
Kepedulian di antara keduanya tumbuh secara alami dari hal-hal kecil, mulai dari saling mengingatkan jadwal makan, mengingatkan tugas hingga saling menjaga saat sakit.
Dunia rantau yang semula terasa asing dan dingin kini berubah hangat karena selalu diisi dengan tawa serta diskusi panjang tentang hal-hal kecil sampai masa depan.
Bagi Nawal, kehadiran Nadia telah menjadi penawar rasa sepi di tengah kerasnya tekanan tugas-tugas perkuliahan.
Ia merasa tidak lagi berjuang sendirian karena selalu ada pelukan hangat dan telinga yang siap mendengar setiap keluh kesahnya.
Begitu pula dengan Nadia yang menganggap Nawal itu sebagai pelindung selama ia jauh dari pengawasan orang tua.
Hubungan mereka telah melampaui batas pertemanan biasa hingga menjadi sebuah keluarga baru.
Meskipun tidak memiliki ikatan darah sedaging, ikatan emosional yang terbangun di antara kedua mahasiswa ini terbukti sangat kuat dan tulus.
Kebersamaan mereka menjadi bukti nyata bahwa kehangatan sebuah rumah bisa diciptakan di mana saja selama ada hati yang tulus saling menyayangi.
Reporter: Salsabila Ayu
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply