Category: Uncategorized

  • MENGENALI PERTEMANAN TOXIC DI KALANGAN MAHASISWA

    Search by : suarausu.or.id

    Lhokseumawe,– Fenomena pertemanan toxic masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa di lingkungan kampus. Hubungan pertemanan yang tidak sehat dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental, kenyamanan, hingga kepercayaan diri mahasiswa dalam menjalani aktivitas perkuliahan.

    Salah satu mahasiswa Universitas Malikussaleh, Amanda Nuri, mengatakan bahwa pertemanan toxic sering kali ditandai dengan sikap yang membuat seseorang merasa tidak dihargai dan tertekan.

    “Menurut saya, pertemanan toxic itu ketika kita sering merasa tidak dihargai, selalu disalahkan, atau merasa tertekan setiap kali bergaul dengan orang-orang tertentu. Pertemanan seharusnya membuat kita berkembang, bukan justru membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri,” ujarnya.

    Menurut Amanda, lingkungan pertemanan memiliki peran penting dalam kehidupan mahasiswa karena menjadi tempat berbagi pengalaman, dukungan, serta motivasi selama menjalani masa perkuliahan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu lebih selektif dalam memilih lingkungan pergaulan agar terhindar dari hubungan yang tidak sehat.

    Pertemanan toxic dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kebiasaan merendahkan teman, tidak menghargai pendapat orang lain, memanfaatkan seseorang demi kepentingan pribadi, hingga menciptakan persaingan yang tidak sehat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami tekanan emosional.

    Selain terjadi secara langsung, perilaku toxic juga dapat ditemukan melalui media sosial. Tekanan untuk mengikuti gaya hidup tertentu, membandingkan pencapaian akademik, maupun memberikan komentar negatif secara berlebihan menjadi beberapa faktor yang dapat memicu hubungan pertemanan yang tidak sehat di kalangan mahasiswa.

    Amanda menambahkan bahwa pertemanan yang sehat seharusnya mampu memberikan rasa nyaman dan saling mendukung satu sama lain.

    “Teman yang baik bukan hanya hadir ketika membutuhkan bantuan, tetapi juga menghargai perasaan, pendapat, dan batasan yang dimiliki orang lain,” katanya.

    Untuk menghindari dampak negatif dari pertemanan toxic, mahasiswa perlu membangun hubungan dengan individu yang memiliki sikap saling menghargai, mendukung, dan memberikan pengaruh positif. Kemampuan menetapkan batasan dalam pertemanan juga dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental dan kenyamanan dalam berinteraksi.

    Di tengah dinamika kehidupan kampus yang semakin kompleks, kesadaran mahasiswa dalam mengenali ciri-ciri pertemanan toxic menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan mendukung perkembangan diri, baik dalam bidang akademik maupun kehidupan pribadi.

    Jurnalis: Fitri Yani Napitupulu

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Di Balik Ambisi Besar Program MBG, Siapa yang Sebenarnya Menikmati Keuntungan?

    source by beritanasional.com

    Lhokseumawe, (11/6/2026) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program yang paling banyak diperbincangkan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Program yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia ini membawa harapan besar, terutama bagi keluarga yang selama ini mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi. Di tengah tingginya harapan tersebut, muncul berbagai pertanyaan dari masyarakat mengenai bagaimana program ini dijalankan dan siapa saja yang memperoleh manfaat terbesar dari keberadaannya.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan utama MBG adalah membantu generasi muda mendapatkan asupan gizi yang lebih baik. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan mampu menekan angka stunting, meningkatkan kesehatan anak, serta mendukung kualitas pendidikan. Jika dilihat dari sisi penerima manfaat langsung, tentu para siswa menjadi kelompok yang paling diuntungkan. Mereka mendapatkan akses makanan bergizi yang sebelumnya mungkin tidak selalu tersedia setiap hari.

    Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat perputaran anggaran yang sangat besar. Ketika sebuah program nasional melibatkan dana dalam jumlah besar, maka secara otomatis akan melibatkan banyak pihak dalam proses pelaksanaannya. Mulai dari pemasok bahan pangan, pelaku usaha katering, distributor, hingga investor yang melihat peluang ekonomi dari program tersebut.

    Di sinilah pertanyaan mulai muncul. Apakah keuntungan yang tercipta dari program MBG benar-benar tersebar secara merata, atau justru lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu? Pertanyaan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap program MBG, melainkan bentuk kepedulian masyarakat terhadap transparansi penggunaan anggaran negara.

    Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan keterlibatan pelaku usaha maupun investor. Kehadiran mereka bahkan dapat membantu memperkuat rantai pasokan makanan, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda perekonomian. Banyak petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM yang berpotensi mendapatkan manfaat apabila diberi kesempatan untuk terlibat dalam penyediaan kebutuhan program MBG.

    Akan tetapi, manfaat ekonomi tersebut hanya akan terasa jika proses pelaksanaannya berjalan secara terbuka dan adil. Masyarakat tentu berharap kesempatan yang ada tidak hanya diberikan kepada pihak-pihak tertentu yang memiliki akses lebih besar terhadap proyek pemerintah. Sebab, tujuan pembangunan bukan hanya menciptakan keuntungan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin masyarakat.

    Di berbagai daerah, termasuk Lhokseumawe, masyarakat mulai menunjukkan perhatian yang cukup besar terhadap berbagai kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan anggaran publik. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya transparansi semakin meningkat. Publik tidak lagi hanya melihat hasil akhir sebuah program, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana proses di balik program tersebut dijalankan.

    Kepercayaan masyarakat merupakan modal penting bagi keberhasilan setiap kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, keterbukaan informasi mengenai pengelolaan anggaran, mekanisme pengadaan, serta pihak-pihak yang terlibat perlu terus diperkuat. Semakin transparan sebuah program, semakin kecil pula ruang bagi munculnya kecurigaan dan spekulasi yang dapat mengurangi kepercayaan publik.

    Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis harus tetap dipandang sebagai upaya untuk membangun masa depan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas. Namun, di tengah ambisi besar tersebut, pertanyaan mengenai siapa yang menikmati keuntungan tetap layak untuk diajukan. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memastikan bahwa manfaat program ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya oleh segelintir pihak.

    Sebab keberhasilan sebuah program nasional tidak hanya diukur dari banyaknya anggaran yang dikeluarkan atau jumlah penerima manfaat yang tercatat, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu menghadirkan keadilan, transparansi, dan kepercayaan di tengah masyarakat.

    Penulis: Riska Saleha Tinambunan
    Editor: Adilah syahputri

  • Diabaikan di Grup Tugas, Beban Mental yang Tak Terlihat di Dunia Kampus

    Lhokseumawe, (11/06/2026). Yuni Hidayana (19), mahasiswa semester 2 Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, merasakan kecemasan setiap kali tugas kelompok tiba. Bagi sebagian orang, dua centang biru di ruang obrolan WhatsApp mungkin hanya tanda pesan terbaca namun bagi Yuni, itu perlahan mengikis rasa percaya diri. Di balik riuhnya ruang perkuliahan, ada ruang gelap di sudut hatinya yang menunggu saat kelompok mulai berkomunikasi.

    Kecemasan terdalamnya bukan soal teori mata kuliah atau tumpukan referensi, melainkan menghadapi silent treatment dan pengabaian dari rekan kelompok. Kehidupan akademik memaksanya tampil proaktif, menurunkan ego demi nilai bersama, dan berusaha mencairkan suasana di ruang siber.

    Namun seluruh benteng pertahanan itu runtuh ketika pesan penawaran bantuan yang ia kirim sejak pagi dibiarkan tanpa respons hingga larut malam. Ruang digital yang seharusnya menyatukan ide berubah menjadi medan tempur emosional yang sepi.

    “Rasanya kayak transparan, ada tapi nggak dianggap,” ujarnya.

    Yang membuatnya semakin tersiksa adalah ketidakberdayaan melawan keheningan dan keputusan sepihak. Saat beberapa anggota dominan mengambil alih tugas tanpa diskusi, Yuni terasingkan.

    Ide-idenya dilewati tanpa apresiasi, suaranya dianggap transparan, dan aksesnya untuk berkontribusi ditutup rapat. Ia sering merasa berada di pinggir proses yang menentukan nilai dan pengalaman akademiknya, melihat hasil kerja kelompok dari jauh tanpa pernah merasakan kehangatan kerja sama yang setara.

    “Aku udah usaha nawarin bantuan dan tanya soal pembagian tugas tapi nggak di-respon. Dan yang paling bikin kesel itu mereka bisa buat story di WA atau IG tapi nggak balas chat aku di grup,” tambahnya.

    Pengabaian ini bukan sekadar masalah teknis pembagian kerja, melainkan cambuk psikologis yang meninggalkan luka, memicu lonjakan stres, menurunkan motivasi belajar, dan melahirkan krisis kepercayaan diri. Dampaknya terasa di keseharian, malam-malam yang dihabiskan meragukan kemampuan diri, ketakutan untuk mengajukan pendapat di kelas, dan rasa jengkel yang sulit diungkapkan kepada teman dekat. Pada akhirnya Yuni menyadari bahwa di dunia perkuliahan mahasiswa dituntut mampu bekerja sama, namun sering abai terhadap etika komunikasi yang memanusiakan.

    Setiap kali membuka ponsel untuk mengecek grup tugas, ada beban mental yang harus ia tanggung sendiri ketakutan akan diabaikan yang terus mengintai di balik senyum ketabahannya. Ia berharap ada perubahan kecil, respons yang ramah, pembagian tugas yang adil, dan ruang diskusi yang benar-benar inklusif, agar pengalaman akademik tidak lagi menimbulkan luka yang lama.

    Reporter: Salsabila Ayu

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Weton dalam Budaya Suku Jawa: Tradisi Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    source : Indozone Fadami

    Lhokseumawe, 11 juni 2026 — Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, tradisi weton masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat suku Jawa. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya dipandang sebagai penanggalan kelahiran, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

    “Weton merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang menggabungkan hari kelahiran dengan hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon,” ujar Siti Rahma, pemerhati budaya Jawa.

    Menurutnya, hingga saat ini weton masih digunakan sebagai pedoman dalam menentukan berbagai momen penting, seperti pernikahan, pindah rumah, membuka usaha, hingga pelaksanaan acara adat. Tradisi tersebut dipercaya dapat memberikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan besar dalam kehidupan.

    “Lebih dari sekadar hitungan hari, weton mengajarkan masyarakat untuk berhati-hati dalam bertindak serta menghormati nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur,” katanya.

    Di lingkungan sosial masyarakat Jawa, tradisi weton juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan. Perayaan weton seseorang sering diisi dengan doa bersama dan makan bersama keluarga sebagai bentuk rasa syukur atas bertambahnya usia dan harapan akan keselamatan di masa mendatang.

    “Wetonan bukan hanya tradisi spiritual, tetapi juga menjadi momen berkumpulnya keluarga sehingga nilai kebersamaan tetap terjaga,” ungkapnya.

    Meski demikian, perkembangan zaman membuat pandangan masyarakat terhadap weton mulai beragam. Sebagian generasi muda masih mempertahankan tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai simbol budaya yang tidak harus dijadikan pedoman utama dalam kehidupan.

    “Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga tradisi ini sebagai identitas budaya, tanpa menghilangkan sikap rasional dalam menjalani kehidupan modern,” jelasnya.

    Keberadaan weton hingga saat ini menunjukkan bahwa budaya Jawa masih memiliki tempat di tengah masyarakat Indonesia. Tradisi tersebut tidak hanya mencerminkan kepercayaan leluhur, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai kekeluargaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan budaya.

    Melalui pelestarian tradisi weton, masyarakat diharapkan dapat terus mengenal dan menghargai kekayaan budaya Nusantara sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga dari generasi ke generasi.

    Reporter : Nana afriani

    Editor : Zulfiana

  • Pantai Pioner Lhokseumawe, Destinasi Wisata dengan View Estetik

    Lhokseumawe, 11 Juni 2026– Pantai Pioner menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup diminati masyarakat Kota Lhokseumawe. Pantai ini menawarkan pemandangan laut yang indah serta suasana yang nyaman untuk bersantai.

    Lokasinya yang mudah dijangkau membuat tempat ini sering dikunjungi oleh berbagai kalangan, terutama anak muda yang ingin menikmati waktu luang di tepi pantai. Daya tarik utama Pantai Pioner terletak pada view laut yang luas dan suasana yang estetik.

    Banyak pengunjung memanfaatkan area pantai sebagai lokasi untuk berfoto karena memiliki latar belakang yang menarik, terutama saat sore hari menjelang matahari terbenam. Perpaduan warna langit dan laut menciptakan pemandangan yang menenangkan sekaligus mempercantik hasil foto.

    Selain menikmati panorama alam, pengunjung juga dapat bersantai sambil menikmati jajanan yang tersedia di sekitar kawasan pantai. Suasana yang sejuk dengan hembusan angin laut membuat Pantai Pioner menjadi tempat yang cocok untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

    Salah seorang pengunjung mengaku sering datang ke Pantai Pioner karena pemandangannya yang indah dan cocok untuk menghabiskan waktu bersama teman. Menurutnya, tempat tersebut memiliki banyak spot menarik yang membuat suasana terlihat lebih estetik.

    Dengan keindahan alam yang dimiliki, Pantai Pioner terus menjadi salah satu pilihan wisata favorit masyarakat Lhokseumawe.

    Reporter : Natasya Salsabila

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Mahasiswa Unimal Menembus Batas: Pengalaman Mengikuti Internasional Summer School di Kazakhstan

    Mahasiswa Unimal Menembus Batas: Pengalaman Mengikuti Internasional Summer School di Kazakhstan

    Almaty, Kazakhstan, 10 juni 2026 – Muhammad Najmi Alamsyah, mengikuti program International Summer School 2026 yang diselenggarakan oleh Kazakh National Agrarian Research University atau KazNARU di Almaty, Kazakhstan. Program yang berlangsung selama 14 hari, sejak 1 hingga 14 Juni 2026, menjadi wadah bagi peserta untuk memperluas wawasan akademik sekaligus meningkatkan kemampuan berinteraksi dalam lingkungan internasional.

    Muhammad Najmi Alamsyah mengungkapkan bahwa International Summer School 2026 merupakan kesempatan berharga untuk mengembangkan kemampuan berbahasa asing dan membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai negara. Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar lintas budaya, tetapi juga memungkinkan peserta memahami penerapan sistem pendidikan di negara lain secara langsung.

    “Melalui program ini, saya dapat belajar dari dosen-dosen hebat yang berasal dari berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan saya lebih luas mengenai berbagai perspektif akademik dan budaya. Selain itu, saya juga dapat mengenal teman-teman dengan latar belakang yang beragam, sehingga menambah pemahaman saya terhadap budaya dunia,” ujarnya.

    Sebagai pengalaman pertama mengikuti program studi di luar negeri, Muhammad Najmi Alamsyah mengaku menghadapi sejumlah tantangan dalam proses adaptasi di Kazakhstan. Perbedaan bahasa, budaya masyarakat yang cenderung lebih individualis, hingga kebiasaan kuliner menjadi hal baru yang harus dipelajari selama berada di negara tersebut.

    Meski demikian, proses adaptasi berjalan lebih mudah berkat dukungan para Liaison Officer (LO) yang mendampingi peserta selama program berlangsung. Mereka membantu peserta memahami berbagai kebiasaan masyarakat setempat, mulai dari budaya berjalan kaki sebagai sarana mobilitas sehari-hari hingga pola konsumsi makanan yang menjadikan roti sebagai salah satu makanan pokok.

    “Awalnya saya merasa cukup sulit menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan yang berbeda dari Indonesia, terutama dalam hal makanan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dan dapat menikmati pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses belajar,” katanya. Program International Summer School yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh KazNARU ini diharapkan mampu memperkuat kerja sama akademik internasional serta memperluas wawasan global para peserta. Bagi Muhammad Najmi Alamsyah, pengalaman mengikuti program ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan kompetensi akademik, kemampuan komunikasi lintas budaya, dan kesiapan menghadapi tantangan di era globalisasi.

    Penulis: Nazwa fitri Andini

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Bukan Nama Ayah, Anak Minang Mewarisi Suku Ibunya, Mengapa?

    Source: jurnalisme sumbar

    Lhokseumawe— Berbeda dengan kebanyakan masyarakat yang mengikuti garis keturunan dari pihak ayah, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat justru mewariskan identitas suku melalui garis ibu. Sistem matrilineal yang telah bertahan selama ratusan tahun ini menjadikan Minangkabau sebagai salah satu masyarakat matrilineal terbesar di dunia.

    Sistem matrilineal Minangkabau telah ada sejak lama, bahkan sebelum masuknya Islam ke wilayah Sumatera Barat. Pada masa itu, masyarakat hidup dari pertanian dan mengelola tanah secara bersama. Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan keluarga dan harta warisan karena mereka menetap di kampung halaman, sementara laki-laki sering bepergian untuk berdagang atau mencari pengalaman di daerah lain. Dari kondisi inilah lahir sistem yang menempatkan perempuan sebagai pusat garis keturunan.

    Ketika Islam masuk ke Minangkabau, sistem matrilineal tidak dihilangkan. Masyarakat justru memadukan adat dan agama melalui falsafah terkenal, *“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”* Falsafah tersebut menunjukkan bahwa adat dan ajaran Islam berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat Minang hingga saat ini.

    Hal paling khas dari sistem matrilineal adalah penentuan identitas keluarga berdasarkan garis ibu. Seorang anak akan mengikuti suku ibunya, bukan suku ayahnya. Jika seorang perempuan berasal dari suku Piliang, misalnya, maka anak-anaknya juga menjadi anggota suku Piliang. Dengan demikian, ibu memiliki posisi penting sebagai penjaga identitas keluarga dan penerus keturunan.

    Perempuan dalam budaya Minangkabau mendapat penghormatan yang tinggi. Mereka dikenal dengan sebutan *Bundo Kanduang*, yaitu sosok yang dianggap sebagai penjaga nilai adat, moral, dan kehormatan keluarga. Peran tersebut menjadikan perempuan tidak hanya bertanggung jawab dalam lingkungan rumah tangga, tetapi juga dalam menjaga warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Keunikan sistem matrilineal juga terlihat pada Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau yang menjadi simbol kehidupan keluarga besar. Rumah Gadang diwariskan kepada anak perempuan dan menjadi tempat tinggal beberapa generasi dalam satu garis keturunan ibu. Setelah menikah, seorang laki-laki biasanya tinggal di lingkungan keluarga istrinya. Tradisi ini menunjukkan kuatnya posisi perempuan dalam struktur sosial masyarakat Minang.

    Meski demikian, sistem matrilineal bukan berarti laki-laki tidak memiliki peran penting. Dalam adat Minangkabau terdapat sosok *mamak*, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu. Mamak memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing dan melindungi keponakan-keponakannya. Ia berperan dalam pengambilan keputusan adat, pendidikan keluarga, serta pengelolaan harta pusaka. Karena itu, hubungan antara mamak dan keponakan menjadi salah satu ciri khas kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

    Aspek menarik lainnya adalah sistem pewarisan harta pusaka. Tanah dan aset keluarga yang tergolong harta pusaka tinggi diwariskan kepada anak perempuan. Tujuan utama sistem ini bukan untuk memberikan kekuasaan kepada perempuan, melainkan menjaga agar harta keluarga tetap berada dalam satu garis keturunan dan tidak berpindah ke luar suku. Dengan cara ini, warisan leluhur dapat terjaga selama beberapa generasi.

    Di balik kuatnya peran perempuan dalam adat, laki-laki Minangkabau dikenal memiliki tradisi merantau yang sangat kuat. Sejak usia muda, banyak laki-laki meninggalkan kampung halaman untuk mencari pendidikan, pengalaman, maupun pekerjaan di daerah lain. Tradisi merantau ini telah melahirkan banyak tokoh penting Indonesia di bidang politik, pendidikan, ekonomi, maupun kebudayaan.

    Tradisi merantau dan sistem matrilineal sebenarnya saling melengkapi. Ketika laki-laki mencari pengalaman di luar daerah, perempuan menjaga rumah, keluarga, dan harta pusaka di kampung halaman. Keseimbangan inilah yang membuat sistem sosial Minangkabau mampu bertahan dalam waktu yang sangat lama.

    Di era modern, sistem matrilineal menghadapi berbagai tantangan akibat urbanisasi, globalisasi, dan perubahan pola hidup masyarakat. Banyak generasi muda yang tinggal jauh dari kampung halaman dan tidak lagi menjalani kehidupan adat secara penuh. Namun demikian, identitas suku berdasarkan garis ibu masih tetap dipertahankan. Berbagai lembaga adat dan tokoh masyarakat juga terus mengenalkan nilai-nilai budaya Minangkabau kepada generasi muda agar warisan leluhur tidak hilang.

    Sistem matrilineal Minangkabau bukan sekadar aturan tentang garis keturunan, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, tanggung jawab keluarga, dan penghormatan terhadap perempuan. Keunikan ini menjadikan budaya Minangkabau sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

    Reporter: Raisa Salsabila

    Editor : Zulfiana

  • Senioritas di Dunia Pendidikan: Budaya yang Perlu Dijaga atau Ditinggalkan?

    Source by news.unimal.ac.id

    Lhokseumawe, 10 Juni 2026 | Di lingkungan pendidikan, khususnya di kalangan mahasiswa dan pelajar, istilah senioritas bukanlah hal yang asing. Hampir setiap tahun ajaran baru, budaya ini selalu muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang menganggap senioritas sebagai cara untuk menjaga tradisi dan mempererat hubungan antarangkatan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa senioritas sering kali menjadi alasan untuk menunjukkan kekuasaan dan menciptakan tekanan bagi mereka yang lebih muda.

    Fenomena senioritas masih dapat ditemukan di berbagai lingkungan pendidikan, termasuk di Kota Lhokseumawe. Mulai dari kegiatan organisasi, kepanitiaan, hingga kehidupan kampus sehari-hari, hubungan antara senior dan junior menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Sayangnya, tidak semua praktik senioritas memberikan dampak positif.

    Pada dasarnya, senioritas lahir dari budaya menghormati orang yang lebih dahulu bergabung dalam suatu lingkungan. Dalam konteks pendidikan, senior memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan junior. Oleh karena itu, mereka diharapkan dapat menjadi pembimbing, memberikan arahan, dan membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru.

    Jika dijalankan dengan baik, budaya senioritas sebenarnya memiliki banyak manfaat. Senior dapat menjadi tempat bertanya mengenai perkuliahan, organisasi, hingga berbagai tantangan yang mungkin dihadapi mahasiswa baru. Kehadiran senior yang peduli juga mampu membantu junior merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam menjalani kehidupan akademik.

    Selain itu, hubungan yang baik antara senior dan junior dapat memperkuat solidaritas di lingkungan pendidikan. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif serta mendukung perkembangan karakter mahasiswa. Dalam kondisi seperti ini, senioritas bukan lagi tentang siapa yang lebih berkuasa, melainkan tentang siapa yang lebih siap untuk membimbing.

    Namun, permasalahan muncul ketika budaya senioritas disalahartikan sebagai hak untuk mengatur, memerintah, bahkan merendahkan junior. Tidak sedikit kasus yang menunjukkan bahwa senioritas dapat berubah menjadi tindakan intimidasi, perundungan, atau tekanan psikologis. Junior sering kali merasa takut untuk menyampaikan pendapat karena khawatir dianggap tidak sopan atau tidak menghormati senior.

    Dampak negatif dari praktik seperti ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat berkembang justru berubah menjadi ruang yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Mahasiswa atau pelajar yang mengalami tekanan akibat senioritas berlebihan dapat kehilangan kepercayaan diri, mengalami stres, bahkan menarik diri dari kegiatan organisasi maupun sosial.

    Lebih jauh lagi, budaya senioritas yang berlebihan juga berpotensi menghambat perkembangan pola pikir kritis. Junior menjadi terbiasa menerima semua pendapat senior tanpa berani memberikan pandangan yang berbeda. Padahal, dunia pendidikan seharusnya mendorong lahirnya diskusi, pertukaran gagasan, dan kebebasan berpikir secara sehat.

    Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, sudah saatnya makna senioritas kembali diluruskan. Menghormati senior memang penting sebagai bagian dari etika dan budaya. Akan tetapi, rasa hormat tersebut tidak boleh dibangun atas dasar ketakutan. Hubungan antara senior dan junior seharusnya didasari oleh sikap saling menghargai, saling mendukung, dan saling belajar.

    Lingkungan pendidikan yang sehat adalah lingkungan yang memberikan ruang bagi semua individu untuk berkembang tanpa tekanan. Senior dapat menjadi teladan melalui sikap, prestasi, dan kepedulian, bukan melalui kekuasaan atau ancaman. Dengan demikian, junior akan menghormati senior secara alami, bukan karena terpaksa.

    Pada akhirnya, senioritas bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk maupun sepenuhnya baik. Semua bergantung pada bagaimana budaya tersebut diterapkan dalam lingkungan pendidikan. Jika digunakan sebagai sarana membimbing dan membangun solidaritas, senioritas dapat memberikan manfaat yang besar. Namun, jika dijadikan alat untuk menunjukkan kekuasaan, dampaknya justru dapat merusak tujuan utama pendidikan itu sendiri.

    Sebagai mahasiswa, kita perlu menjaga budaya saling menghormati tanpa menciptakan jarak yang berlebihan. Sebab pendidikan bukan tentang siapa yang lebih senior, melainkan tentang bagaimana semua pihak dapat tumbuh dan belajar bersama menuju masa depan yang lebih baik.

    Penulis: Riska Saleha Tinambunan
    Editor: Adilah Syahputri

  • Menjemput Rindu Dalam Sunyi, Ketika Kabar Duka Menjadi Ketakutan Terbesar Anak Rantau

    Source Doc: Magnific.com

    Lhokseumawe, (10/06/2026). Bagi sebagian orang, dering telepon di tengah malam mungkin hanyalah gangguan tidur yang mengesalkan. Namun, bagi Laras, seorang anak rantau yang mengadu nasib di tanah orang, suara getar ponsel di jam-jam krusial adalah sebuah teror psikologis yang mampu menghentikan detak jantung.

    Di balik topeng ketangguhan dan gemerlap perjuangan di kota besar, ada satu ruang gelap di sudut hati Laras yang selalu dicekam kecemasan parah. Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah tentang kegagalan akademis, kejamnya persaingan kerja, atau dompet yang mengering di ujung bulan.

    Ketakutan terdalam yang paling tabu namun paling nyata bagi Laras adalah menerima kabar duka dari kampung halaman saat tubuh terpasung jarak ribuan kilometer. Kehidupan di perantauan memaksa Laras menguasai seni melipat rindu, menelan sepi bulat-bulat, dan menertawakan luka demi sebuah impian.

    Namun, seluruh benteng pertahanan itu akan runtuh seketika, lebur menjadi rasa bersalah yang menghujam dada, saat sebuah panggilan suara masuk dan mengabarkan bahwa orang tercintanya telah tiada. Detik itu juga, bumi seolah runtuh di bawah kaki Laras, oksigen meraba keluar, dan dinding kamar kosnya yang sempit menjelma menjadi labirin yang menghimpit jiwa.

    Hal yang membuat ketakutan ini begitu menyiksa adalah ketidakberdayaan mutlak melawan takdir, jarak, dan waktu. Ketika malaikat maut telah menunaikan tugasnya di kampung halaman, Laras hanya bisa melolong dalam senyap.

    Ia tidak ada di sana untuk memeluk tubuh yang mulai mendingin, tidak bisa membasuh kaki yang lelah, bahkan sering kali terlambat hanya untuk sekadar mengecup kening rapuh itu untuk terakhir kalinya. Tiket yang tak terjangkau atau jadwal penerbangan yang egois kerap menjadi dinding besi yang memisahkan Laras dari ritual perpisahan. Penyesalan karena telah menukar waktu-waktu berharga demi mengejar mimpi di tanah asing berubah menjadi cambuk psikologis yang meninggalkan luka permanen dalam batinnya.

    Pada akhirnya, Laras dipaksa sadar bahwa sementara ia mengejar masa depan, waktu di kampung halaman berjalan dengan sangat kejam. Rambut orang tua memutih, langkah mereka memendek, dan ajal mengintai tanpa permisi.

    Setiap kali Laras melangkah keluar dari ambang pintu rumah untuk merantau, ada harga teramat mahal yang harus dibayar. Ketakutan akan kabar duka itu akan selalu hidup, bersemayam di balik senyum ketabahan Laras, menjadi pengingat berdarah bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, jiwanya telah digadaikan di rumah.

    Reporter: Shafa Zahwah

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Miesiko Lhokseumawe, Sensasi Mie Pedas Khas Minang yang Menggugah Selera

    Lhokseumawe, 10 Juni 2026– Bagi pencinta kuliner pedas di Kota Lhokseumawe, Miesiko menjadi salah satu tempat makan yang patut dicoba. Menghadirkan menu mie pedas dengan cita rasa khas Minang, tempat ini berhasil menarik perhatian masyarakat, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa yang gemar berburu kuliner unik dan menggugah selera.

    Miesiko menawarkan perpaduan mie kenyal dengan bumbu rempah khas Minangkabau yang kaya rasa. Tingkat kepedasan yang dapat disesuaikan dengan selera pelanggan menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat tempat ini ramai dikunjungi, terutama pada sore hingga malam hari.Selain rasa pedas yang khas, aroma rempah yang kuat juga memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung.

    Tidak sedikit pelanggan yang datang kembali karena menyukai cita rasa yang dianggap berbeda dari menu mie pedas lainnya yang ada di Lhokseumawe.Salah seorang pelanggan mengaku tertarik mencoba Miesiko setelah melihat rekomendasi di media sosial.

    Menurutnya, rasa yang ditawarkan cukup unik karena memadukan pedas dan gurih khas masakan Minang dalam satu hidangan.

    “Pedasnya terasa, bumbunya juga kaya rempah. Cocok untuk yang suka makanan bercita rasa kuat,” ujarnya.

    Dengan harga yang terjangkau serta menu yang sesuai dengan selera anak muda, Miesiko kini menjadi salah satu pilihan wisata kuliner yang semakin dikenal masyarakat. Kehadirannya turut menambah ragam kuliner di Kota Lhokseumawe dan memberikan pilihan baru bagi pencinta makanan pedas.

    Reporter : Natasya Salsabila

    Editor : Cut Dinda Risna Muly