Blog

  • Bukan Hanya Mengenai Kuliah, Mahasiswa Harus Cerdas Mengelola Waktu dan Metode Belajar

    Lhokseumawe , 13 Juni 2026 — Menjadi seorang mahasiswa tidak hanya sebatas datang ke kelas dan menyelesaikan tugas, melainkan juga bagaimana mengelola aktivitas sehari-hari agar tetap seimbang. Banyak mahasiswa perlu membagi waktu antara perkuliahan, kegiatan organisasi, pekerjaan tambahan, dan interaksi sosial. Oleh karena itu, keterampilan dalam mengatur waktu serta menerapkan metode belajar yang efektif menjadi kunci untuk meraih hasil yang maksimal.

    Marsha zahwa , seorang mahasiswa universitas Malikussaleh (Unimal), mengungkapkan  Salah satu kebiasaan yang penting untuk dilakukan  adalah menyusun jadwal kegiatan. Dengan memprioritaskan berbagai tugas, agar  dapat dengan mudah mengidentifikasi mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Metode sederhana seperti mencatat waktu kuliah, tenggat tugas, dan jam belajar bisa sangat membantu dalam mengurangi rasa tertekan.

    Di samping pengelolaan waktu, strategi belajar juga berperan besar dalam kesuksesan mahasiswa. Belajar tidak perlu dilakukan dalam waktu yang lama, tapi lebih pada konsistensi dan fokus. Beberapa mahasiswa memilih cara belajar dengan merangkum materi, berdiskusi dengan rekan, menonton video edukasi, atau mengulangi pelajaran setelah kuliah selesai.

    “Saya biasanya membuat list mengenai tugas yang perlu diselesaikan agar tidak menumpuk. Saya juga berusaha untuk belajar secara bertahap setiap hari supaya tidak terburu-buru menjelang ujian,” Ujar Marsha Zahwa , Sabtu (13/6)

    Pengelolaan waktu juga menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang terlibat dalam berbagai aktivitas. Banyak dari mereka menemukan kesulitan dalam membagi waktu antara studi dan kegiatan lainnya. Namun, dengan menetapkan prioritas, semua kegiatan dapat tetap berjalan dengan baik.

    Selain itu, menjaga kesehatan juga menjadi aspek yang penting dalam gaya hidup mahasiswa. Pola tidur yang cukup, pola makan sehat, dan memberi waktu untuk beristirahat dapat membantu meningkatkan fokus saat belajar.

    Di zaman digital sekarang, mahasiswa juga bisa memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar. Berbagai aplikasi untuk mencatat jadwal, menyimpan berkas materi, dan platform pembelajaran online dapat membantu mahasiswa agar lebih terorganisir.

    Mengelola waktu dan menerapkan metode belajar yang efisien tidak hanya mendukung mahasiswa untuk mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga melatih disiplin dan rasa tanggung jawab. Dengan kebiasaan yang baik, mahasiswa dapat menjalani proses kuliah dengan lebih terarah dan produktif.

    Jurnalis: Ni Amelia

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Suara Mahasiswa di Bundaran HI: Wujud Kepedulian Sosial dan Harapan Perubahan dalam Demokrasi

    Source by Suara.com

    Lhokseumawe, 13/6/2026 | Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah, termasuk aksi yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), sering kali menjadi perhatian publik. Bagi sebagian masyarakat, aksi turun ke jalan dianggap sebagai bentuk keresahan terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa. Namun, tidak sedikit pula yang memandang demonstrasi hanya sebagai aktivitas yang mengganggu ketertiban umum. Padahal, jika dipahami lebih jauh, aksi mahasiswa merupakan salah satu bentuk partisipasi dalam kehidupan demokrasi yang patut dihargai.

    Mahasiswa selama ini dikenal sebagai agen perubahan atau agent of change. Predikat tersebut bukan sekadar simbol, melainkan mengandung tanggung jawab moral untuk peka terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika mahasiswa UI menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi demonstrasi di Bundaran HI, hal tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa yang dianggap membutuhkan perhatian dan perbaikan.

    Menurut pandangan penulis, demonstrasi bukanlah tindakan yang semata-mata bertujuan menciptakan keributan atau mencari sensasi. Aksi tersebut merupakan salah satu cara yang ditempuh masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk menyampaikan pendapat ketika merasa ada persoalan yang perlu dikritisi. Dalam sistem demokrasi, kebebasan menyampaikan pendapat telah dijamin oleh negara selama dilakukan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab.

    Kehadiran mahasiswa dalam ruang-ruang publik menunjukkan bahwa generasi muda tidak bersikap acuh terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya. Mereka berupaya menyampaikan keresahan terkait kondisi ekonomi, pendidikan, kebijakan publik, hingga isu-isu sosial yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Kepedulian semacam ini merupakan modal penting dalam membangun kehidupan demokrasi yang sehat.

    Aksi demonstrasi di Bundaran HI juga menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya berlangsung saat pelaksanaan pemilu. Demokrasi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dianggap belum berpihak pada kepentingan rakyat. Dalam hal ini, mahasiswa hadir sebagai salah satu kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan fungsi kontrol sosial tersebut.

    Namun demikian, penyampaian aspirasi juga perlu dilakukan dengan bijaksana. Demonstrasi yang berlangsung secara damai, mengedepankan dialog, serta tidak merugikan masyarakat akan lebih mudah mendapatkan simpati publik. Mahasiswa perlu memastikan bahwa substansi tuntutan yang disampaikan tetap menjadi fokus utama sehingga tujuan aksi tidak bergeser menjadi sekadar perhatian sesaat.

    Di sisi lain, pemerintah juga perlu membuka ruang komunikasi yang lebih luas terhadap suara generasi muda. Kritik yang disampaikan mahasiswa seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk kepedulian dan masukan untuk memperbaiki kebijakan yang ada. Sikap terbuka terhadap aspirasi masyarakat dapat memperkuat kepercayaan publik sekaligus menunjukkan bahwa demokrasi berjalan sebagaimana mestinya.

    Fenomena aksi mahasiswa mengajarkan bahwa perubahan tidak akan terjadi apabila masyarakat memilih diam terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. Kepedulian sosial perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, baik dalam bentuk diskusi, kajian ilmiah, advokasi, maupun penyampaian aspirasi secara langsung. Mahasiswa, dengan bekal pengetahuan dan idealisme yang dimiliki, mempunyai posisi strategis untuk menjadi jembatan antara suara masyarakat dengan para pemangku kebijakan.

    Harapan akan perubahan yang lebih baik menjadi alasan utama mengapa mahasiswa terus menyuarakan pendapatnya. Mereka menginginkan kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat, sistem pendidikan yang berkualitas, kesejahteraan masyarakat yang meningkat, serta pemerintahan yang lebih responsif terhadap kebutuhan publik. Meskipun perubahan tidak dapat terjadi secara instan, keberanian untuk bersuara merupakan langkah awal yang penting dalam proses tersebut.

    Pada akhirnya, aksi mahasiswa di Bundaran HI hendaknya tidak dipandang semata sebagai peristiwa turun ke jalan. Di balik spanduk, poster, dan orasi yang disampaikan, terdapat harapan besar dari generasi muda terhadap masa depan Indonesia yang lebih baik. Suara mereka merupakan cerminan kepedulian sosial dan semangat demokrasi yang perlu dihargai, selama disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab.

    Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa memiliki hak sekaligus kewajiban untuk ikut mengawal arah perjalanan negara. Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang membungkam kritik, melainkan demokrasi yang memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan aspirasinya. Oleh karena itu, suara mahasiswa di Bundaran HI sepatutnya dipahami sebagai bentuk partisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa, sekaligus harapan akan lahirnya perubahan yang membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    Penulis: Roito Simanjuntak

    Editor: Adilah Syahputri

  • Boh Gaca, Tradisi Pengantin Aceh yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

    Lhokseumawe – Di tengah perkembangan tren pernikahan modern, tradisi memakai boh gaca atau inai masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Aceh sebagai bagian dari rangkaian adat pernikahan yang diwariskan secara turun-temurun.

    Dalam budaya Aceh, boh gaca digunakan untuk menghiasi tangan dan kaki pengantin sebelum hari resepsi. Selain mempercantik penampilan, penggunaan inai juga memiliki makna budaya yang mendalam. Bagi sebagian masyarakat Aceh, boh gaca menjadi simbol kesiapan pengantin memasuki kehidupan rumah tangga sekaligus bagian dari identitas budaya yang terus dijaga keberadaannya.

    Salah seorang pengukir henna pengantin di Lhokseumawe, Wirdatul Ahya (23), mengatakan bahwa penggunaan boh gaca masih banyak diminati oleh calon pengantin hingga saat ini. Menurutnya, tradisi tersebut masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi perkawinan masyarakat Aceh.

    “Boh gaca atau henna sudah menjadi adat dan tradisi sejak dulu. Karena itu, menurut saya penting bagi masyarakat Aceh untuk tetap mempertahankannya dalam prosesi pernikahan,” ujar Wirdatul saat diwawancarai, Sabtu (13/6/2026).

    Ia menjelaskan, model ukiran inai yang dipilih pengantin kini semakin beragam mengikuti perkembangan zaman. Meski demikian, unsur keindahan dan nilai budaya tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap desain yang dibuat.

    Menurut Wirdatul, perkembangan media sosial turut membantu memperkenalkan berbagai motif boh gaca kepada masyarakat. Banyak calon pengantin mencari referensi desain melalui platform digital sebelum menentukan model yang akan digunakan pada hari pernikahan.

    “Biasanya calon pengantin melihat contoh-contoh desain dari media sosial. Dari situ mereka memilih motif yang sesuai dengan keinginan mereka,” katanya.

    Wirdatul menilai keberadaan para pengukir henna memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya tersebut. Melalui berbagai motif yang terus berkembang tanpa meninggalkan unsur tradisi, boh gaca tetap diminati oleh generasi muda.

    “Saya berharap generasi muda tetap melestarikan tradisi memakai boh gaca dalam pernikahan. Karena ini bukan hanya hiasan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh,” tutupnya.

    Keberadaan para pengukir henna seperti Wirdatul menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga eksistensi boh gaca di tengah perubahan zaman. Melalui sentuhan kreativitas tanpa meninggalkan nilai budaya yang diwariskan leluhur, tradisi tersebut terus hidup dan menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh.

    Reporter: Risna Maulina

    Editor: Zulfiana

  • Kisah Lidya Gusmita Belajar Berdamai dengan Gagal

    Lhokseumawe, (13/06/2026). Lidya Gusmita (23), mahasiswa semester 8 Administrasi Publik Unimal, sedang sibuk mengerjakan skripsi. Setahun lalu ia aktif sebagai Duta Humas Unimal. Kini masa tugasnya sudah selesai, tapi satu pelajaran dari masa itu masih ia bawa sampai akhir kuliah, yaitu jangan sampai telat mencoba.

    Kesempatan yang paling ia sesali adalah PMM (Pertukaran Mahasiswa Merdeka). Keinginan untuk ikut ada, tapi langkahnya datang terlambat. Saat teman-teman sudah berangkat, Lidya baru merasa siap. Momen itu lewat, dan meninggalkan rasa kecewa.

    Awalnya kekecewaan itu ia simpan rapat. Tapi lama-lama Lidya belajar mengubah cara melihat gagal. Menurutnya, gagal bukan akhir. Gagal yang sebenarnya justru ketika seseorang tidak berani memulai. Selama sudah mencoba, masih ada ruang untuk belajar dan mengulang.

    Cara Lidya bangkit pun sederhana. Ia menerima kekecewaan itu dengan ikhlas, lalu mengalihkan energi ke hal lain yang bisa dikembangkan. Skill bikin konten, public speaking, dan manajemen acara ia asah lebih serius. Dari mantan Duta Humas, ia beralih jadi orang yang sering dimintai junior untuk berbagai ilmu.

    Pengalaman ini juga yang ia bagikan ke mahasiswa baru. Lidya sering bilang, wajar kalau IP jeblok di semester awal atau gagal masuk organisasi. Yang berbahaya adalah kalau setelah gagal, seseorang berhenti mencoba. Setiap orang punya warna dan potensi lain yang bisa diasah, asal mau mulai lagi.

    Kini di penghujung kuliah, Lidya tidak lagi mengejar kesempurnaan. Targetnya lebih realistis, berani mencoba sebelum terlambat. Kalau boleh mengulang, ia ingin lebih cepat daftar PMM dan lebih banyak ikut lomba.

    “Ruang untuk kecewa boleh ada. Tapi jangan menetap di sana. Gagal itu guru. Bangkit, belajar, lalu maju lagi,” pesan Lidya Gusmita.

    Reporter: Salsabila Ayu

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Waterboom Taman Mangat Ceria jadi Destinasi Liburan Favorit Warga Lhokseumawe

    aceHTrend.com

    Blang Mangat, 13 Juni 2026 – Waterboom Taman Mangat Ceria adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi selama akhir pekan dan liburan. Wisata pemandian ini terletak di Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, dan memiliki banyak wahana untuk semua usia, dari anak-anak hingga orang dewasa.

    Pengunjung mulai berdatangan dengan keluarga dan teman sejak pagi untuk menikmati suasana liburan. Tempat ini selalu penuh, terutama pada hari libur, karena kolam yang luas dan berbagai wahana permainan. Waterboom Taman Mangat Ceria tidak hanya memiliki fasilitas rekreasi air, tetapi juga memiliki area bersantai untuk pengunjung bersantai.

    Di sekitar lokasi juga terdapat toko makanan dan minuman, sehingga para pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman tanpa keluar dari kawasan wisata. Banyak keluarga memilih tempat ini untuk menghabiskan waktu bersama karena suasananya yang nyaman dan lingkungannya yang cukup asri. Anak-anak tampaknya antusias bermain air, sementara orang tua bersantai di sekitar kolam.

    Waterboom Taman Mangat Ceria menambah pilihan destinasi wisata keluarga di Kota Lhokseumawe. Lokasinya yang mudah dijangkau dan fasilitasnya yang lengkap menjadikan tempat ini menjadi pilihan rekreasi bagi mereka yang ingin menikmati liburan tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke luar daerah.

    Musim liburan lebih banyak pengunjung yang datang dari pada hari biasa. Oleh karena itu, disarankan agar pengunjung tiba lebih awal untuk menikmati seluruh fasilitas dengan lebih nyaman.

    Waterboom Taman Mangat Ceria terus menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya untuk mengisi waktu liburan karena tempatnya yang nyaman, lokasi yang ramah keluarga, dan akses yang mudah.

    Reporter : Amanda Nuri S.A

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Fokus Kuliah Jadi Prioritas, Mahasiswa Tetap Nilai Organisasi Penting untuk Pengembangan Diri

    Lhokseumawe, (12/06/2026) – Di tengah berbagai peluang yang tersedia selama masa perkuliahan, mahasiswa sering dihadapkan pada pilihan antara fokus kuliah, mengikuti organisasi, atau menjalani magang. Setiap pilihan memiliki manfaat dan tantangan tersendiri yang perlu dipertimbangkan sesuai dengan tujuan dan kemampuan masing-masing.

    Bagi Reza Adami, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh angkatan 2024, fokus pada perkuliahan menjadi pilihan utama yang saat ini diprioritaskannya. Menurutnya, kuliah merupakan tanggung jawab utama seorang mahasiswa dan menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan masa depan.

    Reza menuturkan bahwa seiring bertambahnya semester, materi perkuliahan semakin kompleks dan berkaitan langsung dengan persiapan karier maupun penyelesaian studi. Karena itu, menjaga kualitas akademik menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Meski demikian, ia menilai organisasi tetap memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa di luar ruang kelas.

    “Menurut saya, kuncinya bukan memilih salah satu secara mutlak, tapi bagaimana mengatur waktu dan tahu batas kemampuan diri sendiri,” ujar Reza.

    Menurutnya, organisasi memberikan banyak pengalaman yang tidak selalu diperoleh dalam proses perkuliahan. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, hingga menghadapi berbagai karakter dan perbedaan pendapat menjadi nilai tambah yang dapat membantu mahasiswa dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja nantinya.

    Dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Reza mengaku pernah mengalami dilema ketika harus membagi waktu antara kegiatan organisasi dan tanggung jawab akademik. Jadwal rapat yang bertepatan dengan tugas kuliah atau kegiatan kampus lainnya kerap menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, ia berusaha menentukan prioritas berdasarkan situasi yang dihadapi.

    Ketika memasuki masa ujian atau tugas perkuliahan sedang menumpuk, ia memilih untuk lebih fokus pada akademik. Sebaliknya, saat kondisi perkuliahan lebih stabil, ia memanfaatkan waktu untuk aktif dalam organisasi dan mengikuti kegiatan yang dapat menambah pengalaman.

    Reza menilai pilihan untuk menyeimbangkan kuliah dan organisasi memberikan banyak manfaat. Selain tetap menjaga prestasi akademik, ia juga memperoleh relasi yang lebih luas dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Meski demikian, ia menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, termasuk risiko kelelahan akibat padatnya aktivitas dan kemungkinan melewatkan beberapa kesempatan magang.

    Baginya, kombinasi antara akademik dan pengalaman organisasi merupakan bekal yang saling melengkapi. Akademik memberikan dasar ilmu pengetahuan, sementara organisasi membantu mengasah keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama yang dibutuhkan dalam dunia kerja di masa depan

    Jurnalis: Diva Zayana

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Di Tengah Pencapaian Teman-Temannya, Rangga Mulai Kehilangan Kepercayaan Diri

    Source Doc: Eyebost.id

    Lhokseumawe, (12/06/2026). Malam itu, Rangga (22) menutup laptopnya setelah menyelesaikan tugas kuliah yang menguras tenaga. Ia berharap bisa beristirahat dengan tenang, tetapi layar ponselnya justru memperlihatkan deretan unggahan teman-temannya yang sedang magang, aktif berorganisasi, mengikuti lomba, dan meraih berbagai prestasi.

    Semakin lama menggulir media sosial, semakin sulit ia mengabaikan perasaan yang muncul. Di balik berbagai pencapaian yang memenuhi layar ponselnya, mahasiswa Ekonomi berusia 22 tahun itu justru merasa semakin tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri.

    “Kadang saya merasa tidak cukup baik. Saat melihat teman-teman punya banyak pencapaian, saya jadi bertanya-tanya apa yang sudah saya lakukan selama ini,” ujar Rangga.

    Perasaan bersalah paling sering datang saat ia sedang tidak sibuk. Ketika memilih beristirahat setelah kuliah, ia justru merasa seolah sedang menyia-nyiakan waktu, sementara orang lain terlihat terus bergerak mengejar kesempatan dan pengalaman baru.

    Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri itu perlahan menggerus kepercayaan dirinya. Media sosial yang awalnya menjadi tempat mencari hiburan berubah menjadi ruang yang membuatnya merasa selalu tertinggal, seolah apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup.

    Kini, Rangga mulai belajar menerima bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Meski masih sesekali merasa tertinggal, ia berusaha memahami bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, melainkan dari proses yang dijalani sesuai kemampuan masing-masing.

    Reporter: Rahma Annisa Siregar

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Bahasa Asing: Skill yang Tak Lagi Sekadar Pelengkap bagi Mahasiswa di Era Sekarang

    Source by Unsplash.com

    Lhokseumawe, 12/6/2026 | Perkembangan teknologi dan arus globalisasi telah mengubah cara manusia berinteraksi, belajar, dan bekerja. Di era yang serba terhubung seperti saat ini, kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi yang dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja dan persaingan global. Jika dahulu penguasaan bahasa asing dianggap sebagai nilai tambah, kini kemampuan tersebut telah berubah menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

    Bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi alat komunikasi internasional yang digunakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, bisnis, teknologi, diplomasi, hingga penelitian. Banyak sumber ilmu pengetahuan, jurnal internasional, buku referensi, dan perkembangan teknologi terbaru yang tersedia dalam bahasa asing. Oleh karena itu, mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa asing akan lebih mudah mengakses informasi dan memperluas wawasan dibandingkan mereka yang hanya bergantung pada sumber berbahasa Indonesia.

    Menurut pandangan penulis, masih banyak mahasiswa yang menganggap kemampuan bahasa asing hanya diperlukan oleh mahasiswa jurusan tertentu, seperti sastra atau hubungan internasional. Padahal, hampir seluruh bidang pekerjaan saat ini membutuhkan kemampuan tersebut. Seorang mahasiswa teknik perlu memahami referensi teknologi terbaru dari luar negeri, mahasiswa ekonomi harus mengikuti perkembangan pasar global, sementara mahasiswa komunikasi dituntut mampu berinteraksi dengan berbagai pihak dari latar belakang budaya yang berbeda.

    Selain mendukung proses akademik, kemampuan bahasa asing juga membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa. Banyak program pertukaran pelajar, beasiswa luar negeri, konferensi internasional, hingga kesempatan magang di perusahaan multinasional yang mensyaratkan kemampuan bahasa asing sebagai salah satu kriteria utama. Mahasiswa yang menguasai bahasa asing tentu memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan diri dan memperluas pengalaman di tingkat internasional.

    Namun, kenyataannya masih terdapat mahasiswa yang merasa takut atau kurang percaya diri untuk mempelajari bahasa asing. Sebagian menganggap belajar bahasa asing merupakan sesuatu yang sulit dan hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu. Ada pula yang merasa cukup dengan kemampuan dasar yang diperoleh selama di bangku sekolah tanpa berupaya meningkatkan keterampilannya. Padahal, kemampuan berbahasa dapat berkembang melalui latihan dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

    Era digital sebenarnya memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa untuk belajar bahasa asing secara mandiri. Berbagai aplikasi pembelajaran, video edukasi, podcast, hingga kelas daring dapat diakses dengan mudah melalui internet. Mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk memperkaya kosakata, melatih kemampuan mendengar, berbicara, membaca, maupun menulis tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

    Di sisi lain, penguasaan bahasa asing tidak berarti mengesampingkan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Mahasiswa tetap perlu mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan bahasa asing justru dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya, nilai, dan potensi Indonesia kepada masyarakat dunia. Dengan demikian, penguasaan bahasa asing dan kecintaan terhadap bahasa nasional dapat berjalan beriringan.

    Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing. Kampus dapat menyediakan berbagai program pendukung, seperti pelatihan bahasa, klub percakapan, seminar internasional, hingga kerja sama dengan institusi luar negeri. Lingkungan akademik yang mendukung akan membantu mahasiswa lebih percaya diri dalam mengembangkan keterampilan tersebut.

    Pada akhirnya, mahasiswa perlu menyadari bahwa kemampuan bahasa asing bukan lagi sekadar pelengkap dalam daftar keterampilan yang dimiliki. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemampuan ini telah menjadi salah satu bekal penting untuk menghadapi tantangan masa depan. Mereka yang mampu beradaptasi dan terus mengembangkan diri akan memiliki peluang yang lebih besar untuk bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional.

    Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa dituntut untuk terus belajar dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman. Menguasai bahasa asing bukan berarti mengikuti tren semata, melainkan bentuk investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas diri. Dengan kemampuan bahasa asing yang baik, mahasiswa tidak hanya menjadi lebih kompetitif, tetapi juga mampu membuka pintu menuju berbagai kesempatan yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau.

    Penulis: Roito Simanjuntak
    Editor: Adilah Syahputri

  • Tradisi Peumulia Jamee Tetap Dijaga Masyarakat Aceh di Tengah Perkembangan Zaman

    source: infopublik.id

    Lhokseumawe, 12 juni 2026 — Tradisi Peumulia Jamee atau memuliakan tamu masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Di tengah perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi yang mengajarkan sikap ramah serta menghormati tamu tersebut masih terus dipertahankan sebagai salah satu identitas budaya Aceh.

    Masyarakat Aceh dikenal memiliki kebiasaan menyambut tamu dengan penuh keramahan. Mulai dari mempersilakan tamu masuk ke rumah hingga menyuguhkan makanan dan minuman, semua dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang berkunjung.

    Salah seorang warga Lhokseumawe, Firman, mengatakan bahwa tradisi Peumulia Jamee telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh sejak lama. Menurutnya, nilai utama dari tradisi tersebut adalah menghargai setiap tamu yang datang.

    “Menurut saya, tradisi Peumulia Jamee itu penting karena memang dari dulu orang Aceh diajarkan untuk menghormati tamu. Tamu yang datang harus disambut dengan baik, diperlakukan dengan ramah, dan dibuat merasa nyaman. Itu sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh sampai sekarang,” ujar Firman.

    Ia menjelaskan bahwa masyarakat Aceh memiliki berbagai cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada tamu. Meski bentuk penyambutannya sederhana, nilai penghargaan dan keramahan tetap menjadi hal yang utama.

    “Biasanya kalau ada tamu datang, masyarakat Aceh langsung menyambut dengan ramah, mengajak masuk ke rumah, lalu menyuguhkan minuman atau makanan yang ada. Walaupun sederhana, yang penting tamu merasa dihargai dan tidak merasa diabaikan selama berkunjung,” katanya.

    Selain melalui jamuan makanan dan minuman, masyarakat Aceh juga memiliki cara khusus dalam menyambut tamu pada acara-acara tertentu. Tradisi tersebut biasanya terlihat dalam kegiatan adat, acara pemerintahan, maupun penyambutan tamu kehormatan yang datang ke suatu daerah.

    Menurut Firman, masyarakat Aceh sering mempersembahkan tarian tradisional sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang berkunjung. Tarian tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan keramahan dan penghargaan masyarakat Aceh terhadap para tamu.

    “Kalau dalam acara tertentu, terutama acara adat atau penyambutan tamu penting, masyarakat Aceh biasanya menyambut tamu dengan mempersembahkan tarian tradisional Aceh. Selain sebagai hiburan, tarian itu juga menjadi bentuk penghormatan dan ungkapan selamat datang kepada tamu yang berkunjung,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa tradisi penyambutan melalui pertunjukan seni budaya masih sering dilakukan hingga saat ini. Selain memuliakan tamu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Aceh kepada masyarakat luas.

    Peumulia Jamee tidak hanya dipandang sebagai tradisi menyambut tamu, tetapi juga sebagai simbol keramahan masyarakat Aceh. Nilai tersebut menjadi salah satu warisan budaya yang membedakan Aceh dengan daerah lainnya di Indonesia.

    Melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat berharap generasi muda dapat terus mengenal dan menerapkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Dengan demikian, tradisi Peumulia Jamee dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh di masa mendatang.

    “Budaya ini harus tetap dijaga karena merupakan salah satu ciri khas masyarakat Aceh. Kalau generasi muda terus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tradisi Peumulia Jamee akan tetap lestari meskipun zaman terus berubah,” tutup Firman.

    Reporter: Nasa Aulia

    Editor : Zulfiana

  • Surga Jajanan Akhir Pekan Murah dan Enak,Pasar Ahad Lhokseumawe

    Lhokseumawe, 12 Juni 2026 -Setiap Minggu Pagi, area di sekitar Masjid Islamic Center Kota Lhokseumawe dipenuhi Masyarakat dari berbagai kalangan . Pasar Ahad diadakan setiap Minggu, dan orang-orang dari seluruh kota datang untuk berbelanja dan menikmati berbagai makanan dan minuman yang ditawarkan.

    Pasar ini buka setiap minggu dari pukul 06.00 hingga 12.30 WIB yang telah menjadi salah satu tempat populer bagi Masyarakat untuk menghabiskan akhir pekan. Pasar Ahad menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman segar, termasuk kue tradisional, gorengan, nasi gurih, dimsum, beragam jenis mie, dan masih banyak lagi.

    Dengan harga yang terjangkau, banyak pengunjung memilih untuk menikmati sarapan atau camilan di lokasi tersebut. Banyak Masyarakat hingga mahasiswa yang datang untuk berburu kuliner dan berjalan-jalan santai bersama keluarga dan teman- temanya. Suasana pasar yang ramai dan banyaknya pilihan makanan membuat berbeda dari hari-hari biasa.

    Salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, Sasa (21), mengatakan dia baru pertama kali ke Pasar Ahad setelah mendapat rekomendasi dari temannya. Ia mengatakan ingin datang karena ingin mencoba berbagai jajanan populer.

    “Ini pertama kali saya ke Pasar Ahad. Saya tahu dari teman, ternyata banyak dan banyak pilihan jajanan. Harganya masih terjangkau, jadi menurut saya cocok untuk dikunjungi.” Ujarnya.

    Pasar Ahad bukan hanya tempat wisata kuliner, tetapi juga membantu berkembangnya UMKM. Banyak UMKN memanfaatkan keramaian pasar untuk memasarkan dagangan mereka kepada masyarakat. Pasar Ahad tetap menjadi salah satu tempat favorit Masyarakat Lhokseumawe setiap akhir pekan. karena memiliki banyak makanan yang enak, harga yang terjangkau, dan suasana yang ramai.

    Menikmati pagi sambil menikmati berbagai makanan khas yang ditawarkan UMKM di tempat ini pilihan yang tepat bagi pecinta jajanan.

    Reporter : Amanda Nuri S.A

    Editor : Cut Dinda Risna Muly