Thrifting Bukan Sekedar Hemat, Kini Jadi Identitas Gaya Hidup Mahasiswa

Lhokseumawe, 13 Juli 2026 – Tren thrifting semakin populer di kalangan mahasiswa. Aktivitas membeli pakaian bekas yang masih layak pakai kini tidak lagi dipandang hanya sebagai cara berbelanja hemat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas gaya hidup anak muda di lingkungan kampus.

Menurut Rahma, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, thrifting awalnya menarik karena harga pakaian yang lebih murah dibandingkan pakaian baru. Namun, setelah mencoba, ia merasa pakaian thrift memiliki kualitas yang masih bagus dan model yang unik.

“Awalnya saya tertarik karena harganya murah. Tapi setelah coba, ternyata banyak pakaian thrift yang kualitasnya masih bagus dan modelnya unik. Sekarang thrifting sudah jadi bagian dari gaya hidup mahasiswa karena bisa tampil keren tanpa harus keluar banyak uang,” ujar Rahma.

Ia juga mengaku bahwa media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat tren thrifting semakin diminati mahasiswa. Konten di TikTok dan Instagram yang menampilkan rekomendasi toko thrift, tips mix and match, hingga outfit kampus membuat banyak mahasiswa/i  tertarik mencoba gaya berpakaian tersebut.

“Yang paling memengaruhi saya itu media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Banyak content creator yang kasih rekomendasi toko thrift dan cara mix and match pakaian. Selain itu, teman-teman di kampus juga sering ngajak berburu pakaian thrift,” tambahnya.

Rahma mengatakan bahwa ia biasanya membeli pakaian thrift ketika ada kebutuhan tertentu, seperti menghadiri acara kampus atau ingin menambah koleksi pakaian. Dalam satu bulan, ia bisa berbelanja thrift satu sampai dua kali, tergantung ada atau tidaknya barang yang menarik.

Mahasiswi semester enam tersebut lebih sering membeli pakaian thrift di toko thrift lokal karena dapat melihat langsung kondisi barang. Namun, ia juga sesekali membeli melalui platform online seperti TikTok Shop dan Instagram jika toko tersebut sudah terpercaya.

Menurut Rahma, alasan utama memilih pakaian thrift adalah karena lebih hemat. Dengan uang yang sama, mahasiswa/i bisa mendapatkan beberapa pakaian sekaligus. Selain itu, model pakaian thrift sering kali lebih unik dan tidak pasaran.

“Dengan uang yang sama, saya bisa dapat beberapa pakaian sekaligus. Selain itu, model pakaian thrift sering kali lebih unik dan tidak pasaran. Saya juga merasa membeli pakaian bekas yang masih layak pakai bisa mengurangi limbah fashion,” jelasnya.

Ia menilai tren thrifting membuat mahasiswa/i lebih kreatif dalam memilih dan memadukan pakaian. Pengeluaran untuk membeli baju juga menjadi lebih hemat sehingga uang dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti membeli buku atau keperluan kuliah.

“Menurut saya, thrifting membuat mahasiswa jadi lebih kreatif dalam memilih dan memadukan pakaian. Pengeluaran untuk beli baju juga jadi lebih hemat, jadi uang bisa dipakai untuk kebutuhan lain,” tutup Rahma.

Fenomena ini menunjukkan bahwa thrifting telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa. Selain memberikan solusi hemat, thrifting juga menjadi cara bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri melalui gaya berpakaian yang unik dan lebih sadar terhadap isu keberlanjutan fashion.

by: Nazwa Fitri Andini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *