Category: Uncategorized

  • Begadang Jadi Budaya Mahasiswa, Efektif atau Berisiko?

    Lhokseumawe, 16 Juni 2026 – Aktivitas begadang untuk menyelesaikan tugas kian menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Banyaknya pekerjaan kuliah, keterlibatan dalam organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya menjadikan malam hari sebagai waktu yang lebih dipilih untuk belajar dan menyelesaikan tugas.

    Nazwa Annisa mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal),  mengungkapkan  bahwa suasana di malam hari yang lebih tenang membantunya untuk lebih fokus. Namun, ia juga menyadari bahwa begadang sering kali membuatnya merasa lelah saat mengikuti perkuliahan di hari berikutnya.

    “Jika ada banyak tugas, saya sering menyelesaikannya hingga larut malam karena lebih mudah berkonsentrasi. Tapi keesokan harinya kadang saya merasa ngantuk saat kuliah,” Ujar Nazwa Annisa , Selasa (16/6)

    Walaupun dianggap membantu dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, kebiasaan begadang dapat memiliki konsekuensi negatif bagi kesehatan. Kurang tidur dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi, cepat merasa lelah, serta menurunnya produktivitas dalam belajar.

    Oleh karena itu, mahasiswa disarankan untuk mengatur waktu dengan lebih baik dan menyelesaikan tugas secara bertahap agar tidak menumpuk mendekati tenggat waktu. Dengan manajemen waktu yang baik, tugas bisa dirampungkan tanpa harus mengorbankan waktu istirahat atau kesehatan.

    Meskipun begadang telah menjadi bagian dari kehidupan beberapa mahasiswa, praktik ini sebaiknya dibatasi agar tidak berdampak negatif pada kesehatan dan prestasi akademik.

    Jurnalis: Nia Amelia

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Di Antara Deru Mesin dan Tatapan Ragu, Sofia Memilih Bertahan

    Source Doc: Ilustrasi AI

    Lhokseumawe, (16/06/2026). Tangan Sofia (21) tampak sibuk merapikan peralatan praktikum di Laboratorium Teknik Mesin. Di tengah suara mesin yang terus berdengung, ia sudah terbiasa menjadi salah satu dari sedikit perempuan di ruangan itu. Namun, yang paling berat bukanlah praktikum atau tugas yang menumpuk, melainkan tatapan ragu yang sering mengiringi langkahnya sejak pertama kali memilih jurusan teknik.

    Saat mahasiswa lain fokus menyelesaikan pekerjaan mereka, Sofia masih mengingat bagaimana dirinya pernah merasa tidak benar-benar diterima. Komentar seperti “yakin kuat di teknik?” atau “kenapa tidak pilih jurusan lain saja?” pernah terdengar begitu dekat. Kalimat sederhana bagi sebagian orang, tetapi cukup untuk membuatnya mempertanyakan kemampuannya sendiri.

    Meski begitu, Sofia tidak pergi. Ia memilih bertahan. Hari demi hari dilaluinya dengan belajar lebih keras, datang lebih awal ke laboratorium, dan berusaha membuktikan bahwa kemampuannya tidak kalah dari siapa pun. Baginya, perjuangan terbesar bukan melawan tugas kuliah, melainkan melawan keraguan yang terus muncul di dalam diri.

    Laboratorium yang dulu terasa asing perlahan berubah menjadi tempat ia tumbuh. Dari ruang yang membuatnya gugup, menjadi ruang yang mengajarkannya keberanian. Setiap proyek yang berhasil diselesaikan dan setiap tantangan yang berhasil dilewati menjadi bukti bahwa perempuan juga memiliki tempat di dunia teknik.

    Di balik seragam praktikum dan wajah yang terlihat tenang, ada cerita tentang seseorang yang terus berusaha bertahan di tengah budaya yang belum sepenuhnya ramah. Beruntung, dukungan dari teman dan dosen membuat langkah Sofia terasa lebih ringan. Mereka melihat dirinya bukan sebagai perempuan di jurusan teknik, tetapi sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar.

    Kini, Sofia tidak lagi datang ke laboratorium dengan perasaan takut seperti dulu. Ia datang dengan keyakinan bahwa setiap perempuan berhak berada di mana pun mereka ingin berkembang. Di antara deru mesin dan pekerjaan yang tak pernah berhenti, Sofia telah membuktikan satu hal, yaitu kemampuan tidak mengenal gender, dan mimpi tidak seharusnya dibatasi oleh siapa diri kita.

    Reporter: Rahma Annisa Siregar

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Fresh Graduate di Tengah Persaingan Kerja: Antara Pengalaman dan Tantangan Masa Depan

    Search by Jurnal post

    Lhokseumawe, 16 Juni 2026 | Menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi sering dianggap sebagai gerbang awal menuju dunia kerja. Setelah bertahun-tahun mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan menyelesaikan berbagai kewajiban akademik, banyak mahasiswa berharap dapat segera memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajari. Namun, kenyataan di lapangan sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Bagi banyak fresh graduate, memasuki dunia kerja justru menjadi awal dari berbagai tantangan baru.

    Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi adalah tuntutan pengalaman kerja. Tidak sedikit perusahaan yang membuka lowongan untuk lulusan baru, tetapi tetap mencantumkan syarat pengalaman kerja sebagai salah satu kriteria utama. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan yang cukup sering muncul di kalangan fresh graduate, yaitu bagaimana cara memperoleh pengalaman jika kesempatan untuk memulai saja masih terbatas.

    Di tengah kondisi tersebut, persaingan kerja juga semakin ketat. Setiap tahun, ribuan lulusan baru dari berbagai perguruan tinggi memasuki pasar kerja dengan tujuan yang sama, yaitu mendapatkan pekerjaan yang layak. Mereka tidak hanya bersaing dengan sesama fresh graduate, tetapi juga dengan para pencari kerja yang telah memiliki pengalaman dan keterampilan lebih banyak. Akibatnya, proses mencari pekerjaan sering kali membutuhkan waktu yang tidak singkat.

    Menurut penulis, tantangan yang dihadapi fresh graduate saat ini bukan hanya soal mencari pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana mempersiapkan diri agar mampu bersaing. Nilai akademik memang penting, namun dunia kerja sering kali membutuhkan lebih dari sekadar indeks prestasi. Kemampuan komunikasi, kerja sama tim, berpikir kritis, serta kemampuan beradaptasi menjadi faktor yang turut menentukan keberhasilan seseorang dalam memperoleh pekerjaan.

    Pengalaman juga tidak selalu harus diartikan sebagai pekerjaan formal. Kegiatan organisasi, kepanitiaan, magang, proyek kampus, hingga aktivitas sukarela dapat menjadi nilai tambah yang menunjukkan kemampuan dan kesiapan seseorang dalam menghadapi lingkungan kerja. Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang baru menyadari pentingnya pengalaman ketika mereka sudah berada di tahap mencari pekerjaan.

    Selain itu, perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri turut menjadi tantangan tersendiri. Banyak jenis pekerjaan yang mengalami perubahan karena digitalisasi. Perusahaan kini mencari sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan saat ini. Oleh karena itu, fresh graduate dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi meskipun telah menyelesaikan pendidikan formal.

    Di sisi lain, perusahaan juga perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi lulusan baru untuk berkembang. Tidak semua kemampuan dapat diperoleh di bangku kuliah. Banyak keterampilan yang justru terbentuk melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Kesempatan untuk belajar dan beradaptasi menjadi hal yang sangat penting agar fresh graduate dapat menunjukkan potensi yang mereka miliki.

    Menurut penulis, menjadi fresh graduate pada era sekarang memang bukan perkara mudah. Persaingan yang tinggi, tuntutan pengalaman, dan perubahan dunia kerja yang cepat sering kali menimbulkan kekhawatiran. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyerah. Justru tantangan tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus mengembangkan diri dan memperluas kemampuan.

    Pada akhirnya, kesuksesan dalam dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki nilai terbaik, tetapi juga oleh siapa yang mampu belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Bagi fresh graduate, pengalaman mungkin belum banyak dimiliki, tetapi semangat untuk terus berkembang dapat menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan dan tantangan di masa depan.

    Penulis: Fadilla
    Editor: Adilah Syahputri

  • Kuah Pliek U, Warisan kuliner Aceh yang Bertahan di Tengah Modernisasi

    source : Keluarga Mahasiswa Aceh

    Lhokseumawe 16 Juni 2026 – Kekayaan budaya Aceh tidak hanya tercermin melalui adat istiadat dan tradisi, tetapi juga dari ragam kuliner khas yang masih bertahan hingga saat ini. Di tengah pesatnya perkembangan makanan modern dan makanan cepat saji, berbagai hidangan tradisional Aceh tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat serta menjadi warisan budaya yang terus dijaga keberadaannya.

    Kuliner Aceh dikenal memiliki cita rasa yang khas berkat penggunaan berbagai rempah-rempah seperti kapulaga, cengkeh, lada, jintan, kayu manis, dan adas. Perpaduan rempah tersebut menghasilkan aroma yang kuat dan rasa yang kaya, sehingga menjadikan makanan khas Aceh memiliki karakter tersendiri dibandingkan kuliner dari daerah lain di Indonesia.

    Beragam makanan tradisional seperti kuah pliek u, mie aceh, keumamah, dan timphan masih sering disajikan dalam kehidupan sehari-hari maupun pada berbagai kegiatan adat dan keagamaan. Hidangan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh.

    Seorang penjual kuah pliek u di Lhokseumawe, yang enngan disebutkan namanya, mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap makanan tradisional Aceh masih cukup tinggi, terutama saat pelaksanaan kenduri, pernikahan, dan perayaan hari besar keagamaan.

    “Makanan tradisional Aceh sampai sekarang masih banyak dicari masyarakat. Apalagi saat ada kenduri atau acara keluarga, hidangan seperti kuah pliek u tetap menjadi menu yang sering disajikan karena sudah menjadi bagian dari tradisi,” ujarnya.

    Selain mempertahankan cita rasa khas, masyarakat Aceh juga masih menjaga tradisi memasak secara bersama-sama dalam berbagai kegiatan adat. Proses memasak yang dilakukan secara gotong royong tidak hanya bertujuan menyiapkan hidangan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan kekeluargaan di tengah masyarakat.

    Kuliner tradisional Aceh juga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyak pengunjung yang datang untuk menikmati berbagai hidangan khas yang mencerminkan kekayaan budaya daerah. Keberadaan kuliner tradisional turut mendukung sektor pariwisata sekaligus memperkenalkan identitas Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.

    Meski demikian, masuknya berbagai jenis makanan modern dan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi tantangan dalam upaya pelestarian kuliner tradisional. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk terus mengenalkan makanan khas Aceh kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan budaya, festival kuliner, maupun pemanfaatan media sosial.

    Kuliner tradisional bukan sekadar makanan yang mengenyangkan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, adat, dan identitas masyarakat Aceh. Dengan menjaga keberadaannya, masyarakat turut melestarikan kekayaan budaya daerah agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

    Reporter : Nana Afriani

    Editor : Zulfiana

  • Pantai Jagu Jadi Pilihan Wisata dan Kuliner Favorit di Lhokseumawe

    Lhokseumawe, 16 Juni 2026– Pantai Jagu di Desa Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, masih menjadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman. Selain menawarkan pemandangan laut yang indah, kawasan pantai ini juga dikenal sebagai pusat kuliner yang ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada sore hingga malam hari.

    Pantai Jagu ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah karena suasananya yang nyaman dan lokasinya yang mudah dijangkau. Pengunjung dapat menikmati angin laut sambil menyaksikan matahari terbenam di tepi pantai.

    Beragam kuliner tersedia di sepanjang kawasan Pantai Jagu, mulai dari jagung bakar, mie Aceh, seafood, hingga aneka minuman segar. Kehadiran warung dan kafe di sekitar pantai menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati hidangan.

    Salah seorang pengunjung, Rina (21), mengatakan bahwa Pantai Jagu menjadi tempat favoritnya untuk melepas penat setelah beraktivitas. Menurutnya, suasana pantai yang tenang dipadukan dengan pilihan kuliner yang beragam membuat pengalaman berwisata menjadi lebih menyenangkan.

    “Kalau sore biasanya saya datang bersama teman-teman. Selain menikmati pemandangan laut, kami juga bisa makan sambil ngobrol. Tempatnya nyaman dan pilihan makanannya banyak,” ujarnya saat ditemui di Pantai Jagu, Minggu (14/6/2026).

    Aktivitas wisata di Pantai Jagu biasanya meningkat pada akhir pekan dan hari libur. Banyak pengunjung datang untuk berjalan-jalan di tepi pantai, berfoto, bermain bersama keluarga, atau sekadar menikmati suasana sore.

    Dengan keindahan alam yang dimiliki serta beragam pilihan kuliner yang tersedia, Pantai Jagu terus menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Lhokseumawe.

    Kombinasi antara panorama pantai dan sajian kuliner menjadikan kawasan ini tempat yang tepat untuk menikmati waktu santai bersama orang-orang terdekat.

    Reporter : Nadyah Agustina

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Bukan Sekedar Kuliah:  Mahasiswa Aktif dalam Organisasi dan Sosial

    Lhokseumawe, 15 Juni 2026 – Seorang mahasiswa aktif, Selvia Lubis, menunjukkan bahwa kehidupan kampus tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik. Di tengah kesibukan perkuliahan, ia turut terlibat dalam berbagai organisasi, kegiatan sosial, pelatihan, dan kepanitiaan sebagai sarana untuk mengembangkan diri serta memberikan kontribusi kepada masyarakat.

    Menurut Selvia Lubis, aktivitas yang paling sering ia lakukan di luar perkuliahan meliputi mengikuti organisasi kampus, menghadiri seminar dan diskusi, terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, serta mengembangkan keterampilan melalui berbagai pelatihan. Selain itu, ia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca, dan memperluas jaringan pertemanan.

    Selvia Lubis mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tidak terlepas dari pengaruh para senior dan pembina organisasi yang telah memberikan teladan mengenai kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat. Ia juga menilai bahwa teman-teman dalam organisasi memiliki peran penting sebagai sumber motivasi karena saling mendukung dalam menjalankan program-program yang bermanfaat bagi lingkungan kampus maupun masyarakat luas.

    Dalam mengembangkan minat, bakat, dan kepedulian sosial, Selvia Lubis aktif mengikuti organisasi kampus, komunitas kepemudaan, pelatihan, seminar, serta berbagai kegiatan sukarela. Melalui kegiatan tersebut, ia memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan sekaligus memahami berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

    Ketertarikannya terhadap organisasi dan aktivitas sosial telah tumbuh sejak masa sekolah. Pengalaman mengikuti kepanitiaan dan organisasi saat itu menjadi awal munculnya keinginan untuk terus berkontribusi. Ketika memasuki dunia perkuliahan, ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia melihat organisasi sebagai wadah untuk belajar, memperluas pengalaman, dan meningkatkan kapasitas diri di luar kegiatan akademik.

    Selvia Lubis menilai bahwa keaktifan dalam berbagai kegiatan di luar kelas memberikan banyak manfaat. Menurutnya, pendidikan tidak hanya diperoleh dari proses pembelajaran formal, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan. Berbagai aktivitas organisasi dan sosial membantunya mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta meningkatkan kepedulian terhadap berbagai isu kemasyarakatan.

    Meski memiliki banyak aktivitas, Selvia Lubis tetap berupaya menjaga keseimbangan antara akademik, organisasi, kehidupan sosial, dan kesehatan mental. Ia menerapkan manajemen waktu dengan membuat skala prioritas dan jadwal kegiatan yang teratur. Baginya, tanggung jawab akademik tetap menjadi prioritas utama, sementara kegiatan organisasi disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

    Selain itu, ia juga menyisihkan waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga dan teman, serta menjalankan hobi sebagai upaya menjaga kesehatan mental. Dengan pengelolaan waktu yang baik, Selvia Lubis berharap dapat terus berprestasi di bidang akademik sekaligus memberikan kontribusi positif bagi lingkungan kampus dan masyarakat.

    Jurnalis: Nazwa Fitri Andini

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Ngopi di Warkop, Identitas Budaya Masyarakat Aceh

    source : portalnusa.com

    Lhokseumawe, 15 Juni 2026– Warung kopi atau warkop telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Tidak hanya sebagai tempat menikmati secangkir kopi, warkop juga berfungsi sebagai ruang sosial tempat masyarakat berkumpul, berdiskusi, bertukar informasi, hingga mempererat hubungan antarsesama.

    Kebiasaan minum kopi telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak lama. Dari pagi hingga malam hari, warung kopi selalu ramai oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja, pedagang, hingga tokoh masyarakat. Di tempat inilah berbagai percakapan berlangsung, mulai dari kehidupan sehari-hari, pekerjaan, olahraga, hingga isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan.

    Bagi masyarakat Aceh, budaya ngopi bukan sekadar aktivitas menikmati minuman berkafein. Duduk di warung kopi menjadi sarana menjaga silaturahmi dan mempererat hubungan sosial. Tidak sedikit pertemuan bisnis, diskusi komunitas, hingga musyawarah masyarakat yang berlangsung di warkop. Karena itu, warung kopi memiliki peran penting sebagai ruang publik tempat masyarakat berinteraksi dan bertukar gagasan.

    Kuatnya budaya ngopi membuat warung kopi tumbuh di hampir setiap sudut daerah Aceh. Fenomena tersebut melahirkan julukan “Negeri Seribu Warung Kopi” yang melekat pada Aceh. Julukan ini menggambarkan betapa eratnya hubungan masyarakat Aceh dengan budaya ngopi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Budaya ngopi yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kualitas kopi Aceh yang telah dikenal hingga mancanegara. Kawasan dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi sentra utama produksi kopi yang terkenal dengan cita rasa khas, aroma yang kuat, serta kualitas yang diakui dunia. Kopi Gayo bahkan telah dipasarkan ke berbagai negara dan menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Aceh.

    Selain kopi Gayo, Aceh juga memiliki cara penyajian kopi yang khas, seperti kopi sanger yang dibuat dari campuran kopi, susu, dan gula dengan rasa yang seimbang. Ada pula kopi khop yang disajikan dengan posisi gelas terbalik di atas piring kecil. Keunikan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh.

    Seiring perkembangan zaman, warung kopi di Aceh juga mengalami perubahan. Jika dahulu identik dengan bangunan sederhana, kini banyak warkop modern yang dilengkapi akses internet dan fasilitas pendukung lainnya. Meski tampil lebih modern, fungsi sosialnya tetap sama, yakni sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan menjalin kebersamaan.

    Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup digital, budaya ngopi masyarakat Aceh tetap bertahan. Warung kopi masih menjadi tempat favorit untuk bertemu dan berinteraksi. Dari warung kopi yang selalu ramai hingga kopi Gayo yang mendunia, Aceh membuktikan bahwa kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang identitas budaya, persaudaraan, dan kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

    Reporter: Raisa Salsabila

    Editor : Zulfiana

  • AI dalam Dunia Perkuliahan: Membantu Mahasiswa atau Mengurangi Etika Akademik?

    Search by siaran berita

    Lhokseumawe, 15 Juni 2026 | Perkembangan teknologi saat ini telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu teknologi yang sedang banyak digunakan adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kehadiran AI memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam membantu menyelesaikan tugas kuliah, mencari referensi, menyusun ide tulisan, hingga memahami materi yang sulit dipahami. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting mengenai etika dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

    Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa AI merupakan alat yang dapat memberikan dampak positif apabila digunakan dengan bijak. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, organisasi, dan kegiatan lainnya, AI sering kali menjadi solusi cepat untuk membantu menemukan informasi yang dibutuhkan. Mahasiswa tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari konsep dasar suatu materi. Dengan bantuan teknologi ini, proses belajar dapat menjadi lebih efisien dan terarah.

    Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Tidak sedikit mahasiswa yang mulai bergantung sepenuhnya pada AI dalam mengerjakan tugas kuliah. Tugas yang seharusnya menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, analisis, dan kreativitas justru hanya diselesaikan dengan menyalin hasil yang diberikan oleh teknologi tersebut. Akibatnya, tujuan utama pendidikan menjadi berkurang karena mahasiswa tidak benar-benar memahami materi yang dipelajari.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Dalam dunia akademik, etika memiliki peran yang sangat penting. Mahasiswa dituntut untuk menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan integritas dalam setiap proses pembelajaran. Menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mencari ide atau memahami materi tentu bukan masalah. Akan tetapi, menjadikan hasil yang diberikan AI sebagai karya pribadi tanpa proses pengolahan dan pemahaman yang memadai dapat dianggap sebagai bentuk pelanggaran etika akademik.

    Pendidikan pada dasarnya tidak hanya bertujuan menghasilkan nilai yang tinggi, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Jika mahasiswa terlalu mengandalkan AI tanpa mengembangkan kemampuan berpikirnya sendiri, maka proses pembelajaran akan kehilangan makna. Kemampuan menulis, menganalisis, memecahkan masalah, dan berargumentasi dapat mengalami penurunan karena semuanya diserahkan kepada teknologi.

    Di sisi lain, institusi pendidikan juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kampus tidak bisa hanya melarang penggunaan AI, melainkan harus memberikan pemahaman mengenai batasan dan etika penggunaannya. Mahasiswa perlu diajarkan bagaimana memanfaatkan teknologi sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti usaha dan pemikiran mereka. Dengan demikian, AI dapat menjadi sarana yang memperkuat kualitas pendidikan, bukan sebaliknya.

    Menurut penulis, penggunaan AI dalam dunia perkuliahan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Teknologi akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan akademik. Oleh karena itu, yang perlu dibangun bukanlah ketakutan terhadap AI, melainkan kesadaran etis dalam menggunakannya. Mahasiswa harus mampu menempatkan AI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas kuliah.

    Pada akhirnya, keseimbangan antara teknologi dan etika menjadi kunci utama. AI dapat membantu mahasiswa belajar lebih efektif, tetapi keberhasilan pendidikan tetap ditentukan oleh kemauan untuk berpikir, belajar, dan bertanggung jawab atas setiap karya yang dihasilkan. Dengan penggunaan yang bijak dan beretika, AI dapat menjadi mitra dalam pendidikan tanpa menghilangkan nilai-nilai akademik yang selama ini dijunjung tinggi.

    Penulis: Fadilla
    Editor: Adilah Syahputri

  • Lebih dari Penguji, Pengorbanan Dosen Mentor Ubah Arah Hidup Mahasiswa

    Source Doc: masoemuniversity.ac.id


    Lhokseumawe, (15/06/2026). Bagi sebagian besar mahasiswa, ruang dosen sering kali terasa seperti ruang sidang yang menegangkan. Tempat di mana tumpukan revisi skripsi dan coretan tinta merah menguji mental mereka. Namun, bagi Aris (23), ruang kerja pembimbingnya justru menjadi tempat di mana kedekatan emosional mengubah arah hidupnya yang sempat hancur total.


    Dua tahun lalu, Aris berada di titik terendah karena masalah finansial keluarga yang pelik. Kuliahnya berantakan, nilai merosot, dan ia datang ke kampus hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Namun, langkahnya dihentikan oleh dosen pembimbing akademiknya yang meminta identitasnya dianonimkan.


    Bukannya langsung menandatangani surat tersebut, sang pembimbing justru menyeduh kopi dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Di ruang kerja tersebut, beliau mendengarkan semua keluh kesah Aris secara mendalam. Sejak hari itu, beliau resmi bertindak sebagai mentor yang peduli, bukan lagi sekadar penguji yang kaku.


    Kedekatan yang hangat pun mulai terbangun karena sang dosen melihat potensi besar dalam diri Aris. Di sinilah pengorbanan seorang pendidik sejati melampaui tugas formalnya dimulai.
    Mengingat keterbatasan waktu formal di kampus, beliau meluangkan waktu akhir pekannya demi membimbing Aris.

    Beliau melibatkan mahasiswa bimbingannya ini dalam proyek riset internal agar Aris mendapatkan insentif tambahan untuk membiayai kuliah. Tak jarang, diskusi akademik beralih menjadi sesi konseling kehidupan hingga larut malam.


    “Tugas kita bukan cuma menguji, tapi memastikan mereka siap menghadapi hidup,” ujar sang mentor saat diwawancarai terpisah. Beliau rela memberikan pengorbanan waktu dan energi karena melihat refleksi masa mudanya yang penuh perjuangan dalam diri Aris.


    Bimbingan intensif perlahan membakar kembali semangat Aris yang sempat padam. Dari seorang mahasiswa yang hampir putus sekolah, Aris bertransformasi menjadi asisten riset yang andal. Proyek penelitian yang mereka garap bersama bahkan berhasil menembus jurnal ilmiah internasional bereputasi.


    Prestasi tersebut membuka pintu peluang baru. Melalui jaringan profesional sang mentor, Aris direkomendasikan magang di perusahaan teknologi terkemuka. Kini, sebelum toga wisuda resmi dipakainya, Aris sudah mengantongi kontrak kerja tetap di perusahaan tersebut.


    Kisah ini memberikan pelajaran praktis bahwa pendidikan terbaik tidak pernah tercipta dari relasi satu arah yang transaksional.
    Bagi mahasiswa, jangan takut membuka diri untuk mencari mentor, bukan sekadar mencari dosen penguji.

    Sementara bagi para pengajar, pengorbanan kecil di luar tuntutan kurikulum bisa menjadi penentu masa depan anak didik. Pada akhirnya, pendidik yang hebat tidak hanya menguji kekuatan argumen, tetapi juga membangun kedekatan untuk menguatkan pundak mereka yang hampir menyerah.

    Reporter: Shafa Zahwah

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Cane Viral di Lhokseumawe, Kuliner Enak yang Ramai Diburu Warga

    Lhokseumawe , 15 Juni 2026- Roti cane menjadi salah satu kuliner yang sedang viral dan banyak diburu masyarakat di Kota Lhokseumawe. Teksturnya yang lembut di bagian dalam dan renyah di bagian luar, dipadukan dengan kuah kari yang gurih, membuat makanan ini semakin digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga orang dewasa.

    Kepopuleran roti cane semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah banyak pelanggan membagikan pengalaman mereka melalui media sosial. Berbagai unggahan yang menampilkan proses pembuatan hingga penyajian roti cane berhasil menarik perhatian masyarakat dan membuat kuliner ini semakin dikenal luas.

    Salah satu penjual roti cane di Lhokseumawe mengatakan bahwa jumlah pembeli terus meningkat, terutama pada sore hingga malam hari. Menurutnya, banyak pelanggan yang datang karena penasaran setelah melihat ulasan dan video yang beredar di internet.

    “Awalnya banyak yang datang karena lihat di media sosial, tapi setelah mencoba mereka kembali lagi karena rasanya memang enak,” ujarnya saat ditemui di lokasi usahanya, Minggu (14/6/2026).

    Roti cane sendiri merupakan makanan yang berasal dari budaya kuliner India dan telah lama dikenal di Aceh. Namun, belakangan ini makanan tersebut kembali populer karena berbagai inovasi penyajian, mulai dari cane kari, cane susu, hingga cane dengan topping cokelat dan keju.

    Salah seorang pelanggan, Siti (21) mengaku sering membeli roti cane karena rasanya yang khas dan harganya yang terjangkau. Menurutnya, kuliner tersebut cocok dinikmati saat bersantai bersama teman maupun keluarga.

    “Rasanya gurih dan teksturnya lembut. Apalagi kalau dimakan saat masih hangat, jadi lebih nikmat,” katanya.

    Selain menawarkan cita rasa yang lezat, harga roti cane yang relatif murah juga menjadi alasan mengapa kuliner ini semakin diminati masyarakat. Dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp 12.000 per porsi, pembeli sudah dapat menikmati hidangan yang mengenyangkan.

    Fenomena viralnya roti cane menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah perkembangan berbagai jenis makanan modern. Kehadiran media sosial juga menjadi faktor penting dalam memperkenalkan dan mempromosikan kuliner lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

    Reporter : Nadyah Agustina

    Editor : Cut Dinda Risna Muly