
Source : bbc.com
Aceh Tengah,15,Juli,2026 – Seni tradisional Didong dimanfaatkan sebagai media trauma healing bagi anak-anak korban banjir dan longsor di Desa Kalasegi, Aceh Tengah, pascabencana yang terjadi pada akhir November 2025. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak yang sempat kehilangan akses pendidikan dan mengalami tekanan akibat bencana
Inisiatif tersebut digagas oleh tokoh masyarakat, Aji Muda, yang melatih anak-anak menjadi Ceh Kucak atau pelantun Didong cilik melalui syair-syair yang diciptakan khusus sebagai bentuk penyemangat dan pemulihan mental.
Menurut Aji Muda, Didong menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan setelah mengalami musibah.
“Didong ini menjadi pelampiasan dari hati yang luka dan hati yang sangat tertekan,” ujar Aji Muda.
Selain membantu pemulihan psikologis anak-anak, bencana juga berdampak pada para seniman Didong di Tanah Gayo. Salah seorang Ceh Didong senior, Kasman Minosra, turut merasakan dampak bencana setelah akses menuju sejumlah desa terputus akibat rusaknya Jembatan Kala Ili.
Kondisi tersebut membuat Kasman bersama rekan-rekan seniman harus berjalan kaki selama tiga hari dua malam untuk mencapai wilayah Bintang. Selama perjalanan, mereka terpaksa bermalam di badan jalan dan menumpang di rumah penderes getah pinus karena seluruh akses transportasi terputus.
Bencana juga menyebabkan rencana pelaksanaan kegiatan pembinaan bibit-bibit Didong yang telah disiapkan bersama pemerintah daerah pada 25–27 November 2025 terpaksa dibatalkan.
Meski demikian, para seniman tetap berupaya menghidupkan kembali tradisi Didong sebagai bagian dari proses pemulihan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya Gayo agar tetap lestari di tengah kondisi pascabencana.
Reporter : Raisa Salsabila
Editor : Zulfiana
Leave a Reply