Category: Uncategorized

  • Burnout di Kalangan Mahasiswa, Ketika Tekanan Akademik Menguras Semangat Kuliah

    Source by ayojakarta.com

    Lhokseumawe, 18 Juni 2026 | Menjadi mahasiswa sering kali dianggap sebagai masa yang penuh kebebasan, kesempatan belajar, dan pengalaman baru. Namun di balik berbagai aktivitas perkuliahan yang terlihat biasa saja, banyak mahasiswa yang diam-diam sedang berjuang menghadapi burnout atau kelelahan mental akibat tekanan akademik yang terus meningkat.

    Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah mengerjakan tugas atau mengikuti perkuliahan. Kondisi ini merupakan bentuk kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat tekanan yang berlangsung dalam waktu lama. Di lingkungan kampus, fenomena ini semakin sering dialami mahasiswa dari berbagai jurusan dan tingkat semester.

    Tekanan akademik menjadi salah satu penyebab utama burnout. Tugas yang menumpuk, jadwal kuliah yang padat, tuntutan memperoleh nilai tinggi, hingga berbagai kegiatan organisasi sering kali membuat mahasiswa kesulitan mengatur waktu. Tidak sedikit mahasiswa yang harus menghabiskan waktu hingga larut malam untuk menyelesaikan tugas demi memenuhi tenggat waktu yang ketat.

    Selain itu, tekanan tidak hanya datang dari kampus. Harapan orang tua, persaingan dengan teman sebaya, serta kekhawatiran mengenai masa depan juga turut menambah beban pikiran mahasiswa. Banyak mahasiswa merasa harus selalu produktif dan berprestasi agar tidak dianggap tertinggal. Akibatnya, mereka terus memaksakan diri meskipun kondisi fisik dan mental sudah tidak lagi optimal.

    Fenomena ini dapat dilihat di berbagai perguruan tinggi, termasuk di Kota Lhokseumawe. Beberapa mahasiswa mengaku sering merasa kehilangan motivasi belajar, sulit berkonsentrasi saat mengikuti perkuliahan, bahkan mengalami gangguan tidur akibat tekanan akademik yang berkepanjangan. Kondisi tersebut tentu tidak dapat dianggap sepele karena dapat memengaruhi kualitas pembelajaran dan kesehatan mental mahasiswa.

    Menurut penulis, burnout di kalangan mahasiswa perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga harus menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan mental mahasiswa. Penyediaan layanan konseling yang mudah diakses, komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa, serta pengelolaan beban akademik yang lebih seimbang dapat menjadi langkah untuk mengurangi risiko burnout.

    Di sisi lain, mahasiswa juga perlu menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi. Mengatur waktu dengan baik, beristirahat yang cukup, serta tidak ragu mencari bantuan ketika merasa kewalahan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental.

    Pada akhirnya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari nilai akademik yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kondisi fisik dan mental selama menjalani proses pendidikan. Burnout bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri. Oleh karena itu, sudah saatnya isu burnout menjadi perhatian bersama agar mahasiswa dapat menjalani perkuliahan dengan lebih sehat, produktif, dan bermakna.

    Penulis: Riska Saleha Tinambunan
    Editor: Adilah Syahputri

  • Generasi Muda Ikut Lestarikan Tradisi Kue Hantaran Adat Aceh

    Lhokseumawe,18 Juni 2026 – Kue hantaran masih menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan adat Aceh. Berbagai jenis kue tradisional disusun dan dihias sebagai simbol penghormatan, kesungguhan, serta ikatan silaturahmi antara kedua keluarga mempelai.

    Di tengah berkembangnya tren dekorasi pernikahan modern, tradisi menghias kue hantaran tetap dipertahankan masyarakat Aceh. Selain memiliki nilai estetika, tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

    Salah satu penggiat dekorasi kue hantaran, Hanny Farhana (20), mengatakan bahwa sejumlah kue tradisional masih menjadi pilihan utama keluarga pengantin.

    “Biasanya yang paling sering dipesan adalah dodol, halua, breuh wajik, dan meuseukat. Kue-kue tersebut memang sudah menjadi bagian dari tradisi hantaran pernikahan di Aceh,” ujarnya.

    Hanny mengaku mulai menekuni keterampilan menghias kue hantaran setelah sering membantu ibunya. Untuk mengembangkan kemampuannya, ia juga memanfaatkan berbagai referensi dari media sosial dan video tutorial.

    “Saya banyak mencari inspirasi dari media sosial. Dari sana saya mendapatkan ide dekorasi yang lebih modern tanpa menghilangkan unsur adat Aceh,” katanya.

    Menurutnya, proses dekorasi biasanya disesuaikan dengan tema pernikahan, mulai dari pemilihan warna hingga bentuk hiasan agar tampil harmonis dan menarik. Satu set hantaran umumnya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga jam, tergantung tingkat kerumitan desain.

    “Kue hantaran bukan hanya pelengkap dalam pernikahan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang harus terus dilestarikan,” tuturnya.

    Keberadaan generasi muda seperti Hanny menunjukkan bahwa tradisi menghias kue hantaran masih tetap hidup di tengah masyarakat. Melalui kreativitas dan sentuhan modern, tradisi ini diharapkan terus menjadi bagian penting dalam setiap prosesi pernikahan adat Aceh.

    Reporter : Risna maulina

    Editor : Zulfiana

  • AKTIF BERORGANISASI TANPA MENGORBANKAN PRESTASI AKADEMIK

    Lhokseumawe, 18 Juni 2026 – Aktif berorganisasi tidak selalu menjadi penghambat prestasi akademik. Dengan manajemen waktu yang baik dan kemampuan menentukan skala prioritas, mahasiswa tetap dapat menjalankan keduanya secara seimbang.

    Mahasiswa berprestasi Universitas Malikussaleh, Desi Fatmasari, mengatakan bahwa kunci utama menyeimbangkan kuliah dan organisasi adalah memiliki target yang jelas serta menyusun skala prioritas.

    “Yang pertama saya lakukan adalah membuat skala prioritas. Misalnya, saya menentukan target yang ingin saya capai di setiap semester. Setelah itu saya menyusun jadwal kegiatan dan mengoptimalkan waktu yang ada agar semua aktivitas dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

    Meski demikian, Desi mengakui bahwa jadwal kuliah dan organisasi yang sering berbenturan menjadi tantangan terbesar. Padatnya aktivitas juga terkadang membuatnya lupa meluangkan waktu untuk beristirahat.

    “Tantangan terbesar adalah ketika jadwal kuliah dan organisasi bentrok. Kadang juga karena terlalu banyak kegiatan, kita jadi lupa istirahat dan terlalu memaksakan diri,” katanya.

    Menurut Desi, organisasi justru memberikan dampak positif terhadap prestasi akademiknya karena membuka peluang untuk menambah relasi, pengalaman, dan pengetahuan.

    “Sejauh ini organisasi tidak memengaruhi prestasi akademik saya. Justru melalui organisasi saya mendapat banyak relasi, pengetahuan, dan peluang baru yang membantu meningkatkan prestasi,” jelasnya.

    Di akhir wawancara, Desi mengajak mahasiswa untuk memiliki motivasi dan target yang jelas selama menjalani perkuliahan. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya mengejar nilai, tetapi turut memanfaatkan organisasi sebagai wadah untuk mencari pengalaman dan memperluas relasi sebagai bekal di masa depan.

    Penulis: Fitri Yani Napitupulu

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Kisah Cut Syifa, Menanam Kebaikan di Balik Riuh Anak-anak TPA Nurussyabab

    Lhokseumawe, (18/06/2026). Di sebuah sudut Dusun Barat, Desa Meunasah Drang, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara suara riuh rendah anak-anak yang berlarian perlahan berubah menjadi lantunan ayat-ayat suci. Suasana ini bukanlah di sekolah formal, melainkan di sebuah tempat yang disulap menjadi kelas dadakan. Di tempat tersebut, Cut Asyifa Ramadhani atau yang akrab disapa Cipa, duduk dengan sabar di antara anak-anak yang energinya seakan tak ada habisnya.

    Cipa, seorang mahasiswi semester 4 jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Malikussaleh (Unimal), bukanlah guru biasa. Ia adalah seorang tutor di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Nurussyabab. Bagi Cipa, mengajar bukan sekadar menunaikan tugas, melainkan sebuah panggilan jiwa.

    “Motivasi saya sederhana saja, saya ingin bermanfaat bagi orang lain,” ujar Cipa dengan rendah hati. Baginya, deretan prestasi akademis di bangku kuliah tidak ada artinya jika ia tidak bisa memberikan dampak nyata bagi lingkungannya.

    Menjinakkan “Badai” Kecil dengan Kasih Sayang

    Menjadi tutor di komunitas bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menghadapi karakter anak-anak yang kerap dianggap “bandel” atau sulit diatur. Cipa sering mendapati murid-muridnya yang begitu aktif hingga sulit untuk duduk tenang. Namun, ia menemukan sebuah kunci ketegasan yang dibalut kelembutan.

    Di tempat itu, Cipa tidak hanya mengajarkan cara mengaji. Ia menjadi pendengar bagi anak-anak yang mungkin kurang mendapatkan kasih sayang di rumahnya. Banyak dari mereka yang hanya ingin didengarkan, dan Cipa dengan senang hati menyediakan telinganya. Kehadiran Cipa di sana perlahan mengubah suasana belajar, dari yang tadinya penuh tawa bercanda yang tak terarah, menjadi momen belajar yang lebih bermakna.

    Transformasi Diri melalui Pengabdian

    Menjadi mahasiswa yang aktif di komunitas telah memberikan Cipa pelajaran hidup yang tidak ia dapatkan di ruang kelas kampus. Ia belajar tentang kesabaran, cara memahami mental anak, dan pentingnya empati. Pengalaman berinteraksi dengan anak-anak Dusun Barat Desa Meunasah Drang membentuk Cipa menjadi pribadi yang lebih lembut, sopan, dan berusaha menjadi contoh yang baik.

    Bagi Cipa, setiap sesi mengajar adalah proses untuk memproses dirinya sendiri. Ia percaya bahwa menjadi manusia yang baik bukan hanya soal pencapaian pribadi, melainkan seberapa besar ia bisa menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

    Tempat di Desa Meunasah Drang itu kini menjadi saksi bisu dedikasi seorang mahasiswa. Di sana, di antara buku-buku yang terbuka dan tawa polos anak-anak, Cipa menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri tentang arti sukses. Sukses, baginya, bukanlah tentang seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak materi, melainkan tentang jejak kebaikan yang ditinggalkan untuk orang lain.

    Reporter: Salsabila Ayu

    Editor: Afifa Khairiyah

  • Pante Bahagia, Pesona Wisata Pantai yang Menarik di Aceh Utara

    Aceh Utara, 18 Juni 2026– Pante Bahagia menjadi salah satu destinasi wisata yang mulai dikenal masyarakat Aceh Utara. Pantai ini menawarkan suasana yang tenang dengan pemandangan laut yang indah, sehingga menjadi pilihan tepat bagi wisatawan yang ingin menikmati waktu liburan bersama keluarga maupun sahabat.

    Keindahan Pantai Bahagia terlihat dari hamparan pasir yang membentang di sepanjang pesisir serta deburan ombak yang menenangkan. Pengunjung dapat menikmati panorama laut yang memanjakan mata sambil merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang memberikan kenyamanan selama berada di kawasan pantai.

    Selain menyuguhkan keindahan alam, Pantai Bahagia juga menjadi tempat yang cocok untuk bersantai dan melepas penat dari aktivitas sehari-hari. Banyak wisatawan yang datang untuk menikmati suasana pantai, berjalan di tepi laut, hingga mengabadikan momen melalui foto dan video.

    Salah seorang pengunjung, Rina (24), mengaku senang berkunjung ke Pantai Bahagia karena suasananya yang nyaman dan menyenangkan.

    “Pemandangannya sangat indah, udaranya segar, dan tempatnya cocok untuk berkumpul bersama keluarga. Saya merasa bahagia setiap kali datang ke sini,” ujarnya, Rabu (18/6/2026).

    Kehadiran wisatawan juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Sejumlah pelaku usaha kecil memanfaatkan ramainya pengunjung dengan menjual makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan wisata lainnya di sekitar kawasan pantai.

    Dengan pesona alam yang dimiliki, suasana yang nyaman, dan lokasi yang mudah dijangkau, Pantai Bahagia memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Aceh Utara yang mampu menarik minat wisatawan lokal maupun luar daerah.

    Reporter : Natasya salsabila

    Editor : Cut Dinda Risna Muly

  • Bangku Kosong, Nama Tetap Hadir: Fenomena Titip Absen di Kalangan Mahasiswa

    Sumber : https://mediapijar.com/wp-content/uploads/2025/05/Cover-15-scaled.jpg

    Lhokseumawe, (17/06/2026). Praktik titip absen atau yang dikenal dengan istilah “tipsen” masih ditemukan di kalangan mahasiswa. Fenomena ini terjadi ketika mahasiswa yang tidak hadir di kelas tetap tercatat hadir melalui bantuan teman yang mengikuti perkuliahan.

    Shafa Zahwah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh angkatan 2023, mengatakan bahwa praktik tersebut umumnya terjadi pada kelas yang masih menggunakan sistem absensi manual. Mahasiswa yang tidak hadir biasanya meminta temannya untuk menandatangani daftar hadir atas nama mereka.

    “Mahasiswa nggak datang ke kelas, tapi absennya bisa tetap penuh karena ditandatangani oleh temannya yang hadir,” kata Shafa.

    Menurut Shafa, salah satu alasan mahasiswa melakukan titip absen adalah karena enggan mengikuti perkuliahan atau lebih memilih melakukan kegiatan lain di luar kelas. Praktik tersebut dilakukan dengan cara menitipkan absensi kepada teman yang hadir saat proses perkuliahan berlangsung.

    Ia menilai, titip absen paling sering ditemukan pada perkuliahan yang masih menggunakan lembar absensi kertas. Sistem tersebut dinilai lebih mudah dimanipulasi dibandingkan absensi berbasis digital yang memerlukan verifikasi kehadiran secara langsung.

    Lebih lanjut, Shafa menjelaskan bahwa praktik titip absen dapat berdampak pada proses pembelajaran mahasiswa. Mahasiswa yang tidak mengikuti perkuliahan berpotensi kehilangan pemahaman terhadap materi yang disampaikan dosen, terutama ketika materi tersebut tidak dibagikan dalam bentuk file atau bahan ajar lainnya.

    Selain itu, fenomena ini juga dinilai dapat mencederai integritas akademik karena melibatkan tindakan yang tidak jujur. “Kalau seperti ini, integritas akademik jadi tidak dapat dipercaya karena pada dasarnya mahasiswa berbohong kepada pihak kampus,” ujarnya.

    Terkait penanganannya, Shafa menyebut respons dosen terhadap mahasiswa yang melakukan titip absen berbeda-beda. Beberapa dosen memberikan sanksi tegas, sementara yang lain memilih memanggil mahasiswa terkait untuk melakukan mediasi dan memberikan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.

    Jurnalis: Diva Zayana

    Editor: Joan Ayurahmadani

  • Lebih Dari Sekedar Makan Bersama, Kenduri Jadi Simbol Kebersamaan Masyarakat Aceh

    source : Majelis Adat Aceh

    Lhokseumawe — Tradisi kenduri masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Di tengah perkembangan zaman, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tetap dipertahankan karena mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang kuat.

    Kenduri biasanya dilaksanakan dalam berbagai kesempatan, seperti syukuran, peringatan hari besar keagamaan, hingga kegiatan masyarakat di tingkat gampong. Selain sebagai tradisi budaya, kenduri juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga.

    Salah seorang warga Lhokseumawe, Rahmi, mengatakan bahwa kenduri memiliki makna yang lebih dari sekadar makan bersama. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menjalin silaturahmi dan memperkuat hubungan sosial.

    “Menurut saya, kenduri bukan hanya acara makan bersama, tetapi juga menjadi cara masyarakat untuk berkumpul dan mempererat hubungan satu sama lain. Dalam kenduri, masyarakat bisa saling bertemu, berbagi cerita, dan menjaga silaturahmi,” ujar Rahmi, Rabu (17/6).

    Rahmi menjelaskan bahwa tradisi kenduri masih terus dilaksanakan karena sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh sejak lama. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan, kenduri juga menjadi momen yang memperkuat kebersamaan dan kekompakan warga.

    Dalam pelaksanaannya, kenduri turut melibatkan semangat gotong royong. Masyarakat biasanya saling membantu mempersiapkan kebutuhan acara, mulai dari memasak hingga menyiapkan tempat kegiatan. Nilai kebersamaan tersebut menjadi salah satu alasan tradisi kenduri tetap bertahan hingga saat ini.

    Meski berbagai perubahan sosial terus terjadi, tradisi kenduri dinilai masih relevan untuk dipertahankan. Selain menjadi warisan budaya, tradisi ini juga berperan dalam menjaga hubungan antarwarga di tengah kehidupan masyarakat yang semakin modern.

    Rahmi berharap generasi muda dapat terus melestarikan tradisi kenduri agar nilai-nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya tidak hilang seiring perkembangan zaman.

    “Kenduri mengajarkan kita tentang kebersamaan, saling membantu, dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Karena itu, saya berharap tradisi ini tetap dilestarikan dan terus dijalankan oleh generasi muda di masa depan,” tutupnya.

    Reporter: Nasa Aulia

    Editor : Zulfiana

  • Ketika Tren Mengalahkan Kebutuhan, Potret Gaya Hidup Konsumtif Mahasiswa

    kompasiana.com

    Lhokseumawe, Rabu, 17 Juni 2026 | Perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan mahasiswa. Berbagai informasi, tren, dan gaya hidup dapat diakses dengan mudah hanya melalui layar ponsel. Di satu sisi, kemudahan ini memberikan banyak manfaat. Namun di sisi lain, muncul fenomena yang semakin sering terlihat, yaitu gaya hidup konsumtif yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa.

    Saat ini, tren berkembang begitu cepat. Hari ini sebuah produk menjadi viral, besok sudah muncul produk baru yang dianggap lebih menarik. Mulai dari pakaian, sepatu, aksesori, kosmetik, hingga gadget terbaru, semuanya dapat dengan mudah ditemukan di media sosial. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya terdorong untuk membeli barang-barang tersebut bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin mengikuti tren yang sedang berkembang.

    Fenomena ini semakin diperkuat oleh maraknya platform belanja online. Berbagai promo seperti diskon besar, gratis ongkir, cashback, hingga flash sale sering kali membuat seseorang tergoda untuk berbelanja. Bahkan, banyak mahasiswa mengaku membeli barang hanya karena harga yang sedang murah, bukan karena barang tersebut benar-benar diperlukan.

    Tanpa disadari, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari perilaku konsumtif. Keinginan untuk memiliki barang yang sedang populer sering kali lebih besar dibandingkan kebutuhan yang sebenarnya. Akibatnya, uang yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan kuliah, menabung, atau keperluan penting lainnya justru habis untuk memenuhi keinginan sesaat.

    Media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi mahasiswa. Setiap hari pengguna disuguhkan berbagai konten yang menampilkan gaya hidup modern dan serba sempurna. Influencer, selebgram, hingga kreator konten berlomba-lomba memperkenalkan produk terbaru yang dianggap menarik untuk dimiliki. Paparan tersebut secara tidak langsung memengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap kebutuhan dan keinginan.

    Tidak jarang seseorang merasa harus memiliki barang tertentu agar dianggap mengikuti perkembangan zaman atau tidak tertinggal dari lingkungan pergaulannya. Padahal, setiap individu memiliki kondisi ekonomi yang berbeda. Keinginan untuk terus mengikuti tren terkadang membuat mahasiswa lupa bahwa kemampuan finansial juga perlu menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan untuk berbelanja.

    Belanja impulsif menjadi salah satu dampak yang paling sering muncul dari gaya hidup konsumtif. Seseorang membeli barang secara spontan tanpa perencanaan yang matang. Ketika melihat promosi menarik atau produk yang sedang viral, keputusan pembelian dilakukan dalam hitungan menit. Namun setelah barang diterima, sering kali muncul rasa menyesal karena barang tersebut ternyata tidak terlalu dibutuhkan.

    Sebagai mahasiswa, penting untuk mulai menyadari perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren atau membeli barang yang disukai. Namun, segala sesuatu perlu dilakukan secara bijak dan sesuai kemampuan. Mahasiswa seharusnya mampu menjadi generasi yang kritis, tidak hanya dalam menerima informasi, tetapi juga dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan keuangan pribadi.

    Masa kuliah merupakan waktu yang tepat untuk belajar mengatur keuangan dan menentukan prioritas. Kebiasaan sederhana seperti membuat daftar kebutuhan, menetapkan anggaran bulanan, dan menahan diri sebelum membeli sesuatu dapat membantu mengurangi perilaku konsumtif. Dengan begitu, mahasiswa dapat lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar bermanfaat untuk masa depan.

    Pada akhirnya, tren akan selalu datang dan pergi. Apa yang dianggap populer hari ini belum tentu masih diminati beberapa bulan ke depan. Namun, kemampuan untuk mengendalikan diri dan mengelola keuangan dengan bijak akan tetap menjadi bekal yang berharga sepanjang hidup. Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa lebih bijak dalam menyikapi tren dan tidak membiarkan keinginan sesaat mengalahkan kebutuhan yang sebenarnya.

    Penulis: Riska Saleha Tinambunan
    Editor: Adilah Syahputri

  • Kuliah di Zona Bencana, Perjuangan Mahasiswa Menembus Gelap Banjir Aceh Utara

    Source Doc: lintasinforakyat.id

    Lhokseumawe, (17/06/2026). Suara gemuruh air di pertengahan malam itu mengubah total jalannya perkuliahan Salsabilla Ayu. Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 ini tidak pernah membayangkan, statusnya sebagai anak rantau asal Kota Siantar akan membawanya pada ujian hidup yang sesungguhnya, tetap kuliah di zona bencana saat alam sedang tidak bersahabat.

    Tahun lalu, banjir besar melanda Aceh Utara. Bagi Salsa, peristiwa ini menjadi simbol perjuangan nyata seorang mahasiswa yang dipaksa bertahan di tengah kelumpuhan total.

    Terisolasi di Zona Bencana

    Saat air merayap naik dan mengepung tempat kosnya, cobaan terberat Salsa dimulai ketika aliran listrik padam dan jaringan seluler tumbang seketika. Ponsel pintarnya mati total. Akses komunikasi ke kampung halaman di Siantar pun terputus selama dua minggu penuh.

    “Berada di zona bencana tanpa bisa memberi kabar ke orang tua adalah ketakutan terbesar saya,” kenang Salsa.

    Sebagai mahasiswa perantauan, ia harus memulai perjuangan harian di pengungsian dalam kondisi gelap gulita. Tidak ada sinyal, tidak ada lampu, hanya ada ketidakpastian kapan air akan surut.

    Perjuangan Akademik dan Logistik

    Fokus Salsa saat itu terbelah secara ekstrem. Di satu sisi ia harus mengamankan diri di tenda darurat, di sisi lain ia memikirkan tanggung jawabnya untuk tetap kuliah. Di tengah situasi serba terbatas ini, esensi dari perjuangan seorang mahasiswa benar-benar diuji.

    Bagaimana mungkin memikirkan tugas akademis jika untuk makan dan mencari air bersih saja membutuhkan tenaga ekstra. Namun, atmosfer solidaritas sesama mahasiswa justru menguat di zona bencana ini. Tanpa adanya koordinasi digital, mereka bergerak manual dari mulut ke mulut demi membagikan bantuan logistik dan memastikan seluruh teman sejawatnya berhasil dievakuasi ke tempat aman.

    Pelajaran dari Masa Krisis

    Dua minggu bertahan di tengah banjir Aceh Utara meninggalkan bekas mendalam bagi psikologis Salsa. Setiap kali curah hujan meninggi, kecemasan itu kerap datang kembali. Namun, ia berhasil melewati masa-masa kritis tersebut dan kembali melanjutkan aktivitas kuliah seperti biasa.

    Pengalaman pahit di zona bencana ini tidak mematahkan semangatnya. Lewat perjuangan panjang menembus kegelapan dan isolasi komunikasi, Salsa membuktikan bahwa mentalitas seorang mahasiswa sejati dibentuk bukan hanya di dalam ruang kelas yang nyaman, melainkan dari cara mereka bertahan dan bangkit saat krisis melanda.

    Reporter: Shafa Zahwah

    Editor: Afifa Khairiyah


  • Mie Bangladesh, Kuliner Legendaris dengan Cita Rasa Rempah yang Menggugah Selera

    Lhokseumawe, 17 Juni 2026– Mie Bangladesh menjadi salah satu kuliner yang cukup populer di Kota Lhokseumawe. Meski namanya mengandung unsur negara Bangladesh, hidangan ini bukan berasal langsung dari Bangladesh, melainkan merupakan kreasi kuliner yang terinspirasi dari penggunaan rempah-rempah khas Asia Selatan yang kaya rasa dan aroma.

    Keunikan Mie Bangladesh terletak pada kuah kental berwarna kuning kemerahan yang dipadukan dengan berbagai bumbu rempah, seperti kari, bawang putih, bawang merah, serta rempah pilihan lainnya. Perpaduan bumbu tersebut menghasilkan cita rasa gurih, pedas, dan sedikit manis yang memberikan sensasi berbeda dibandingkan olahan mie pada umumnya.

    Selain rasa yang khas, tekstur mie yang lembut menjadi salah satu daya tarik utama kuliner ini. Kuah rempah yang meresap sempurna membuat setiap suapan terasa semakin nikmat. Mie Bangladesh juga biasanya disajikan dengan tambahan telur, daging sapi, atau ayam sesuai selera pelanggan.

    Perpaduan berbagai bahan tersebut menjadikan Mie Bangladesh sebagai hidangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mampu memanjakan lidah para pecinta kuliner. Salah seorang pelanggan mengaku menyukai Mie Bangladesh karena cita rasanya yang kaya rempah dan cocok dinikmati kapan saja, terutama pada malam hari.

    “Kuahnya gurih dan rempahnya terasa kuat. Rasanya berbeda dari mie biasa dan bikin ingin makan lagi,” ujarnya.

    Dengan cita rasa yang unik, harga yang terjangkau, serta popularitas yang terus meningkat di kalangan masyarakat, Mie Bangladesh kini menjadi salah satu kuliner favorit di Lhokseumawe. Hidangan ini layak menjadi pilihan bagi pecinta makanan berbumbu kuat dan kaya rempah yang ingin menikmati sensasi rasa yang berbeda.

    Reporter: Natasya Salsabila

    Editor : Cut Dinda Risna Muly