
search by acehbesarkab.go
Lhokseumawe — Rabu, 3 Juni 2026 | Kalau kamu jalan-jalan di sekitaran Lhokseumawe, apalagi yang dekat dengan area kampus Universitas Malikussaleh (Unimal), pemandangan mahasiswa yang duduk di warkop sambil mantengin laptop sampai larut malam itu udah jadi hal yang biasa banget. Aroma kopi saring, suara ketikan keyboard, dan diskusi serius soal tugas kuliah udah jadi vibes harian kota ini.
Bagi anak kosan di Lhokseumawe, warkop itu bukan cuma tempat buat nongkrong atau mabar game online. Warkop udah bergeser fungsi jadi “co-working space” sekaligus penyelamat IPK. Tapi belakangan ini, suasana tenang itu agak terusik. Aturan jam malam yang makin ketat ditambah gencarnya patroli dari Satpol PP bikin banyak mahasiswa ketar-ketir. Di sinilah dilema itu muncul, di satu sisi ada aturan daerah yang harus dihormati, di sisi lain ada tumpukan tugas kuliah yang deadline-nya subuh!
Kenapa sih mahasiswa Unimal hobi banget ngerjain tugas di warkop sampai tengah malam? Jawabannya sederhana tapi nyata. Fasilitas Wi-Fi yang stabil, jujur aja, gak semua kos-kosan mahasiswa di Lhokseumawe punya fasilitas internet yang mumpuni buat download jurnal internasional atau submit tugas berukuran besar di portal kampus. Ruang kerja kelompok yang fleksibel, nyocokin jadwal kuliah yang padat itu susah banget. Alhasil, malam hari sering kali jadi satu-satunya waktu luang di mana semua anggota kelompok bisa ngumpul bareng tanpa keganggu jam kelas. Bayangin posisinya begini kamu lagi fokus-fokusnya coding, nyusun bab skripsi, atau bikin PPT buat presentasi besok pagi. Tiba-tiba, lampu sirene Satpol PP kelihatan dari kejauhan, siap menertibkan aturan jam malam. Suasana yang tadinya penuh konsentrasi langsung berubah jadi kepanikan. Laptop buru-buru ditutup, buku dimasukkan ke tas, dan mahasiswa terpaksa bubar sebelum tugasnya benar-benar selesai.
“Kami bukannya mau hura-hura atau keluyuran gak jelas. Kami cuma butuh space dan internet buat kelarin tugas kuliah. Kalau di kosan, jaringannya kadang bikin nangis,” curhat salah satu mahasiswa Unimal.”
Di sinilah letak dilemanya. Mahasiswa paham kalau Satpol PP cuma menjalankan tugas dan menegakkan aturan demi ketertiban serta keamanan Kota Lhokseumawe. Tapi di sisi lain, aturan ini terasa kurang fleksibel buat mereka yang beneran lagi berjuang demi akademis.
Menegakkan aturan itu penting, tapi melihat kondisi lapangan secara bijak juga gak kalah penting. Mahasiswa Unimal yang lagi ngerjain tugas itu bukan kriminal atau remaja yang lagi balapan liar. Mereka lagi investasi waktu buat masa depan.
Mungkin sudah saatnya ada jalan tengah atau solusi yang lebih solutif, misalnya pemberian dispensasi khusus, Satpol PP bisa melakukan pendekatan yang lebih humanis. Kalau pas patroli ngelihat mahasiswa yang beneran lagi buka laptop dan buku kuliah, mungkin bisa dikasih toleransi waktu atau teguran yang edukatif, bukan langsung didepak pulang. Penyediaan fasilitas publik 24 jam kalau memang warkop harus tutup cepat, mungkin pihak kampus atau Pemkot bisa menyediakan satu area khusus (seperti digital library atau student center) yang aman, punya Wi-Fi kencang, dan boleh diakses mahasiswa sampai larut malam dengan pengawasan keamanan yang ketat. Aturan jam malam dibikin pasti demi kebaikan kota ini. Tapi, jangan sampai aturan tersebut justru jadi batu sandungan buat mahasiswa yang lagi pusing dikejar deadline tugas kuliah. Semoga ke depannya ada titik temu yang enak buat Pemkot, Satpol PP, warkop, dan tentunya bagi para pejuang tugas di Lhokseumawe.
Penulis : Riska Saleha Tinambunan
Editor : Adilah Syahputri
Leave a Reply