
Lhokseumawe, 19 Juni 2026 – Tekanan akademik yang tinggi masih menjadi tantangan utama yang dihadapi mahasiswa dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Berbagai tuntutan, mulai dari tugas kuliah, kegiatan organisasi, hingga target prestasi akademik, kerap memicu stres dan burnout yang berdampak pada kesehatan mental mahasiswa.
Salah seorang mahasiswa Universitas Malikussaleh, Aulia Santika, mengungkapkan bahwa banyaknya tugas dan tenggat waktu yang datang secara bersamaan menjadi faktor utama yang menyebabkan dirinya mengalami stres. Menurutnya, tuntutan untuk memperoleh nilai yang baik serta kewajiban mengikuti berbagai kegiatan organisasi sering kali membuat mahasiswa merasa kelelahan secara fisik maupun mental.
Aulia Santika menjelaskan bahwa ketika menghadapi tekanan akademik, ia biasanya mencari dukungan dari orang-orang terdekat. Teman dekat menjadi tempat pertama untuk berbagi cerita karena dianggap lebih memahami kondisi yang sedang dihadapi. Selain itu, keluarga, khususnya orang tua, juga berperan penting dalam memberikan motivasi dan semangat saat dirinya menghadapi berbagai kesulitan selama perkuliahan.
Untuk mengurangi stres, Aulia Santika mengaku sering mencari suasana yang tenang, seperti berada di kamar kos, taman kampus, atau cafe yang nyaman untuk belajar. Menurutnya, lingkungan yang kondusif dapat membantu menenangkan pikiran dan mengembalikan fokus setelah menjalani aktivitas yang padat.
Ia juga menuturkan bahwa gejala stres biasanya mulai dirasakan saat memasuki masa ujian atau ketika harus menyelesaikan beberapa tugas besar dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi tersebut sering menyebabkan dirinya sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan kehilangan semangat untuk melakukan aktivitas yang biasanya disukai.
Lebih lanjut, Aulia Santika menilai bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena harus menghadapi berbagai tuntutan dalam waktu yang bersamaan. Selain kewajiban akademik, mahasiswa juga dituntut aktif dalam organisasi, menjaga hubungan sosial, serta mempersiapkan diri untuk dunia kerja setelah lulus. Perbedaan kemampuan dalam mengelola waktu dan tekanan juga menjadi faktor yang membuat tingkat stres setiap mahasiswa berbeda-beda.
By: Nazwa Fitri Andini
Editor: Joan Ayurahmadani
Leave a Reply