
Source Doc: jagoketik.com
Lhokseumawe, (09/06/2026). Suara ketikan keyboard terdengar pelan di kamar kos Rena (22) yang malam itu masih dipenuhi cahaya layar laptop. Jarum jam sudah melewati tengah malam, tetapi mahasiswi Teknik Informatika tersebut belum juga beranjak dari tempat duduknya. Tumpukan revisi skripsi membuat malam panjang menjadi hal yang biasa dalam hidupnya.
Bagi Rena, semester akhir bukan hanya soal menyelesaikan penelitian dan mengejar tanda tangan dosen pembimbing. Di balik lembar demi lembar skripsi yang harus diselesaikan, ada rasa lelah yang sering kali sulit dijelaskan kepada orang lain. Semakin dekat dengan kelulusan, semakin besar pula tekanan yang ia rasakan.
Kesibukan mengerjakan tugas akhir perlahan membuat hari-harinya terasa berbeda. Waktu yang dulu diisi dengan cerita bersama teman kini lebih banyak dihabiskan sendirian di depan laptop. Di tengah rutinitas itu, rasa sepi datang tanpa mengetuk pintu dan menetap lebih lama dari yang ia inginkan.
Ada hari ketika Rena merasa baik-baik saja, tetapi ada pula malam ketika pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan. Pertanyaan mengenai kapan lulus dan akan bekerja di mana sering kali muncul dari berbagai arah. Tanpa disadari, tekanan tersebut membuat kesehatan mentalnya ikut terdampak.
Saat keadaan terasa terlalu berat, Rena memilih mencari ruang untuk bernapas sejenak. Ia berjalan keluar kos, membeli minuman hangat, atau menelepon keluarganya di rumah hanya untuk mendengar suara yang menenangkan. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali menjadi penyelamat di tengah hari yang melelahkan.
Beruntung, Rena tidak benar-benar berjalan sendirian. Dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat menjadi tempatnya kembali ketika semangat mulai menurun. Dari perjalanan itu, ia belajar bahwa menyelesaikan kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang menjaga diri agar tetap kuat melewati masa-masa yang tidak mudah.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply