Senioritas di Dunia Pendidikan: Budaya yang Perlu Dijaga atau Ditinggalkan?

Source by news.unimal.ac.id

Lhokseumawe, 10 Juni 2026 | Di lingkungan pendidikan, khususnya di kalangan mahasiswa dan pelajar, istilah senioritas bukanlah hal yang asing. Hampir setiap tahun ajaran baru, budaya ini selalu muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang menganggap senioritas sebagai cara untuk menjaga tradisi dan mempererat hubungan antarangkatan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa senioritas sering kali menjadi alasan untuk menunjukkan kekuasaan dan menciptakan tekanan bagi mereka yang lebih muda.

Fenomena senioritas masih dapat ditemukan di berbagai lingkungan pendidikan, termasuk di Kota Lhokseumawe. Mulai dari kegiatan organisasi, kepanitiaan, hingga kehidupan kampus sehari-hari, hubungan antara senior dan junior menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Sayangnya, tidak semua praktik senioritas memberikan dampak positif.

Pada dasarnya, senioritas lahir dari budaya menghormati orang yang lebih dahulu bergabung dalam suatu lingkungan. Dalam konteks pendidikan, senior memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan junior. Oleh karena itu, mereka diharapkan dapat menjadi pembimbing, memberikan arahan, dan membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru.

Jika dijalankan dengan baik, budaya senioritas sebenarnya memiliki banyak manfaat. Senior dapat menjadi tempat bertanya mengenai perkuliahan, organisasi, hingga berbagai tantangan yang mungkin dihadapi mahasiswa baru. Kehadiran senior yang peduli juga mampu membantu junior merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam menjalani kehidupan akademik.

Selain itu, hubungan yang baik antara senior dan junior dapat memperkuat solidaritas di lingkungan pendidikan. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif serta mendukung perkembangan karakter mahasiswa. Dalam kondisi seperti ini, senioritas bukan lagi tentang siapa yang lebih berkuasa, melainkan tentang siapa yang lebih siap untuk membimbing.

Namun, permasalahan muncul ketika budaya senioritas disalahartikan sebagai hak untuk mengatur, memerintah, bahkan merendahkan junior. Tidak sedikit kasus yang menunjukkan bahwa senioritas dapat berubah menjadi tindakan intimidasi, perundungan, atau tekanan psikologis. Junior sering kali merasa takut untuk menyampaikan pendapat karena khawatir dianggap tidak sopan atau tidak menghormati senior.

Dampak negatif dari praktik seperti ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat berkembang justru berubah menjadi ruang yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Mahasiswa atau pelajar yang mengalami tekanan akibat senioritas berlebihan dapat kehilangan kepercayaan diri, mengalami stres, bahkan menarik diri dari kegiatan organisasi maupun sosial.

Lebih jauh lagi, budaya senioritas yang berlebihan juga berpotensi menghambat perkembangan pola pikir kritis. Junior menjadi terbiasa menerima semua pendapat senior tanpa berani memberikan pandangan yang berbeda. Padahal, dunia pendidikan seharusnya mendorong lahirnya diskusi, pertukaran gagasan, dan kebebasan berpikir secara sehat.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, sudah saatnya makna senioritas kembali diluruskan. Menghormati senior memang penting sebagai bagian dari etika dan budaya. Akan tetapi, rasa hormat tersebut tidak boleh dibangun atas dasar ketakutan. Hubungan antara senior dan junior seharusnya didasari oleh sikap saling menghargai, saling mendukung, dan saling belajar.

Lingkungan pendidikan yang sehat adalah lingkungan yang memberikan ruang bagi semua individu untuk berkembang tanpa tekanan. Senior dapat menjadi teladan melalui sikap, prestasi, dan kepedulian, bukan melalui kekuasaan atau ancaman. Dengan demikian, junior akan menghormati senior secara alami, bukan karena terpaksa.

Pada akhirnya, senioritas bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk maupun sepenuhnya baik. Semua bergantung pada bagaimana budaya tersebut diterapkan dalam lingkungan pendidikan. Jika digunakan sebagai sarana membimbing dan membangun solidaritas, senioritas dapat memberikan manfaat yang besar. Namun, jika dijadikan alat untuk menunjukkan kekuasaan, dampaknya justru dapat merusak tujuan utama pendidikan itu sendiri.

Sebagai mahasiswa, kita perlu menjaga budaya saling menghormati tanpa menciptakan jarak yang berlebihan. Sebab pendidikan bukan tentang siapa yang lebih senior, melainkan tentang bagaimana semua pihak dapat tumbuh dan belajar bersama menuju masa depan yang lebih baik.

Penulis: Riska Saleha Tinambunan
Editor: Adilah Syahputri

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *