Menurunnya Penggunaan Bahasa Aceh di Kalangan Anak Muda Picu Kekhawatiran Akan Kepunahan

Source: ANTARA News Aceh

Lhokseumawe ,03 JUNI 2026 — Menurunnya penggunaan bahasa Aceh di kalangan anak muda mulai menjadi perhatian masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat mengancam kelestarian bahasa daerah yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Aceh jika tidak segera mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Perkembangan teknologi dan media digital disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi berkurangnya penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari.

Anak muda kini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, baik dalam komunikasi langsung maupun di media sosial.Salah seorang pemuda Aceh, Teuku Rama, mengatakan bahwa pengaruh media digital sangat besar terhadap perubahan kebiasaan berbahasa generasi muda saat ini. Menurutnya, budaya luar yang banyak ditampilkan di media sosial sering kali dianggap lebih modern dan menarik dibandingkan budaya daerah sendiri, Karena pengaruh media digital seperti media sosial yang dimana budaya luar lebih dianggap keren.

Akibatnya muncul rasa malu ketika ingin menggunakan bahasa daerah sendiri, terutama bagi anak muda yang tinggal di daerah perkotaan,” ujar Teuku Rama, Selasa (2/6).Ia menilai kondisi tersebut membuat banyak generasi muda semakin jauh dari bahasa Aceh. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang hanya memahami beberapa kosakata bahasa Aceh tetapi tidak mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
“Bisa jadi karena sekarang banyak generasi muda yang bahkan tidak bisa berbahasa Aceh”. Ada yang paham, tetapi tidak bisa berbicara dalam bahasa Aceh karena sangat jarang mendengarnya. Sebagian juga merasa tidak masalah jika tidak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri,” katanya.

Menurut Teuku Rama, faktor utama yang menyebabkan menurunnya penggunaan bahasa Aceh justru berasal dari lingkungan keluarga. Ia menjelaskan bahwa banyak orang tua yang tidak lagi memperkenalkan atau membiasakan penggunaan bahasa Aceh kepada anak-anak sejak usia dini.
“Faktor yang paling utama yaitu dari orang tua yang memang tidak memperkenalkan bahasa Aceh sejak anak masih kecil. Seiring perkembangan zaman, kebiasaan berbicara menggunakan bahasa Aceh juga semakin berkurang. Banyak keluarga yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari,” jelasnya.

Selain keluarga, lingkungan sosial juga dinilai memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan bahasa Aceh. Kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan teman, tetangga, maupun masyarakat sekitar perlahan menjadi budaya baru di kalangan masyarakat Aceh. Teuku Rama menambahkan bahwa fenomena tersebut kini terjadi secara turun-temurun. Banyak anak muda yang fasih berbahasa Aceh, tetapi tidak mengajarkan bahasa tersebut kepada anak-anak mereka. “Banyak kalangan muda yang ketika sudah memiliki anak, walaupun fasih berbicara bahasa Aceh, anak mereka tidak pernah diajak berbicara atau diajari bahasa Aceh. Jika kondisi ini terus terjadi dari generasi ke generasi, bahasa Aceh bisa terancam punah,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah pemerhati budaya menilai pelestarian bahasa Aceh perlu dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari dianggap menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah tersebut.
Berbagai upaya juga mulai dilakukan melalui kegiatan budaya, pembelajaran muatan lokal di sekolah, hingga pembuatan konten digital berbahasa Aceh.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda untuk kembali menggunakan bahasa Aceh sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bahasa Aceh diharapkan tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Tanpa adanya kesadaran untuk menggunakan dan mengajarkannya sejak dini, bahasa Aceh dikhawatirkan akan semakin ditinggalkan dan berisiko kehilangan penuturnya di masa depan.
“Bahasa Aceh adalah bagian dari identitas masyarakat Aceh. Jika generasi muda tidak ikut menjaga dan menggunakannya, maka ancaman kepunahan bukan lagi sekadar kekhawatiran, tetapi bisa menjadi kenyataan,” tutup Teuku Rama.

Reporter: Nasa Aulia

Editor : Zulfiana

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *