
Source Doc: Magnific.com
Lhokseumawe, (10/06/2026). Bagi sebagian orang, dering telepon di tengah malam mungkin hanyalah gangguan tidur yang mengesalkan. Namun, bagi Laras, seorang anak rantau yang mengadu nasib di tanah orang, suara getar ponsel di jam-jam krusial adalah sebuah teror psikologis yang mampu menghentikan detak jantung.
Di balik topeng ketangguhan dan gemerlap perjuangan di kota besar, ada satu ruang gelap di sudut hati Laras yang selalu dicekam kecemasan parah. Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah tentang kegagalan akademis, kejamnya persaingan kerja, atau dompet yang mengering di ujung bulan.
Ketakutan terdalam yang paling tabu namun paling nyata bagi Laras adalah menerima kabar duka dari kampung halaman saat tubuh terpasung jarak ribuan kilometer. Kehidupan di perantauan memaksa Laras menguasai seni melipat rindu, menelan sepi bulat-bulat, dan menertawakan luka demi sebuah impian.
Namun, seluruh benteng pertahanan itu akan runtuh seketika, lebur menjadi rasa bersalah yang menghujam dada, saat sebuah panggilan suara masuk dan mengabarkan bahwa orang tercintanya telah tiada. Detik itu juga, bumi seolah runtuh di bawah kaki Laras, oksigen meraba keluar, dan dinding kamar kosnya yang sempit menjelma menjadi labirin yang menghimpit jiwa.
Hal yang membuat ketakutan ini begitu menyiksa adalah ketidakberdayaan mutlak melawan takdir, jarak, dan waktu. Ketika malaikat maut telah menunaikan tugasnya di kampung halaman, Laras hanya bisa melolong dalam senyap.
Ia tidak ada di sana untuk memeluk tubuh yang mulai mendingin, tidak bisa membasuh kaki yang lelah, bahkan sering kali terlambat hanya untuk sekadar mengecup kening rapuh itu untuk terakhir kalinya. Tiket yang tak terjangkau atau jadwal penerbangan yang egois kerap menjadi dinding besi yang memisahkan Laras dari ritual perpisahan. Penyesalan karena telah menukar waktu-waktu berharga demi mengejar mimpi di tanah asing berubah menjadi cambuk psikologis yang meninggalkan luka permanen dalam batinnya.
Pada akhirnya, Laras dipaksa sadar bahwa sementara ia mengejar masa depan, waktu di kampung halaman berjalan dengan sangat kejam. Rambut orang tua memutih, langkah mereka memendek, dan ajal mengintai tanpa permisi.
Setiap kali Laras melangkah keluar dari ambang pintu rumah untuk merantau, ada harga teramat mahal yang harus dibayar. Ketakutan akan kabar duka itu akan selalu hidup, bersemayam di balik senyum ketabahan Laras, menjadi pengingat berdarah bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, jiwanya telah digadaikan di rumah.
Reporter: Shafa Zahwah
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply