
Source Doc: lintasinforakyat.id
Lhokseumawe, (17/06/2026). Suara gemuruh air di pertengahan malam itu mengubah total jalannya perkuliahan Salsabilla Ayu. Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 ini tidak pernah membayangkan, statusnya sebagai anak rantau asal Kota Siantar akan membawanya pada ujian hidup yang sesungguhnya, tetap kuliah di zona bencana saat alam sedang tidak bersahabat.
Tahun lalu, banjir besar melanda Aceh Utara. Bagi Salsa, peristiwa ini menjadi simbol perjuangan nyata seorang mahasiswa yang dipaksa bertahan di tengah kelumpuhan total.
Terisolasi di Zona Bencana
Saat air merayap naik dan mengepung tempat kosnya, cobaan terberat Salsa dimulai ketika aliran listrik padam dan jaringan seluler tumbang seketika. Ponsel pintarnya mati total. Akses komunikasi ke kampung halaman di Siantar pun terputus selama dua minggu penuh.
“Berada di zona bencana tanpa bisa memberi kabar ke orang tua adalah ketakutan terbesar saya,” kenang Salsa.
Sebagai mahasiswa perantauan, ia harus memulai perjuangan harian di pengungsian dalam kondisi gelap gulita. Tidak ada sinyal, tidak ada lampu, hanya ada ketidakpastian kapan air akan surut.
Perjuangan Akademik dan Logistik
Fokus Salsa saat itu terbelah secara ekstrem. Di satu sisi ia harus mengamankan diri di tenda darurat, di sisi lain ia memikirkan tanggung jawabnya untuk tetap kuliah. Di tengah situasi serba terbatas ini, esensi dari perjuangan seorang mahasiswa benar-benar diuji.
Bagaimana mungkin memikirkan tugas akademis jika untuk makan dan mencari air bersih saja membutuhkan tenaga ekstra. Namun, atmosfer solidaritas sesama mahasiswa justru menguat di zona bencana ini. Tanpa adanya koordinasi digital, mereka bergerak manual dari mulut ke mulut demi membagikan bantuan logistik dan memastikan seluruh teman sejawatnya berhasil dievakuasi ke tempat aman.
Pelajaran dari Masa Krisis
Dua minggu bertahan di tengah banjir Aceh Utara meninggalkan bekas mendalam bagi psikologis Salsa. Setiap kali curah hujan meninggi, kecemasan itu kerap datang kembali. Namun, ia berhasil melewati masa-masa kritis tersebut dan kembali melanjutkan aktivitas kuliah seperti biasa.
Pengalaman pahit di zona bencana ini tidak mematahkan semangatnya. Lewat perjuangan panjang menembus kegelapan dan isolasi komunikasi, Salsa membuktikan bahwa mentalitas seorang mahasiswa sejati dibentuk bukan hanya di dalam ruang kelas yang nyaman, melainkan dari cara mereka bertahan dan bangkit saat krisis melanda.
Reporter: Shafa Zahwah
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply