Kisah Lidya Gusmita Belajar Berdamai dengan Gagal

Lhokseumawe, (13/06/2026). Lidya Gusmita (23), mahasiswa semester 8 Administrasi Publik Unimal, sedang sibuk mengerjakan skripsi. Setahun lalu ia aktif sebagai Duta Humas Unimal. Kini masa tugasnya sudah selesai, tapi satu pelajaran dari masa itu masih ia bawa sampai akhir kuliah, yaitu jangan sampai telat mencoba.

Kesempatan yang paling ia sesali adalah PMM (Pertukaran Mahasiswa Merdeka). Keinginan untuk ikut ada, tapi langkahnya datang terlambat. Saat teman-teman sudah berangkat, Lidya baru merasa siap. Momen itu lewat, dan meninggalkan rasa kecewa.

Awalnya kekecewaan itu ia simpan rapat. Tapi lama-lama Lidya belajar mengubah cara melihat gagal. Menurutnya, gagal bukan akhir. Gagal yang sebenarnya justru ketika seseorang tidak berani memulai. Selama sudah mencoba, masih ada ruang untuk belajar dan mengulang.

Cara Lidya bangkit pun sederhana. Ia menerima kekecewaan itu dengan ikhlas, lalu mengalihkan energi ke hal lain yang bisa dikembangkan. Skill bikin konten, public speaking, dan manajemen acara ia asah lebih serius. Dari mantan Duta Humas, ia beralih jadi orang yang sering dimintai junior untuk berbagai ilmu.

Pengalaman ini juga yang ia bagikan ke mahasiswa baru. Lidya sering bilang, wajar kalau IP jeblok di semester awal atau gagal masuk organisasi. Yang berbahaya adalah kalau setelah gagal, seseorang berhenti mencoba. Setiap orang punya warna dan potensi lain yang bisa diasah, asal mau mulai lagi.

Kini di penghujung kuliah, Lidya tidak lagi mengejar kesempurnaan. Targetnya lebih realistis, berani mencoba sebelum terlambat. Kalau boleh mengulang, ia ingin lebih cepat daftar PMM dan lebih banyak ikut lomba.

“Ruang untuk kecewa boleh ada. Tapi jangan menetap di sana. Gagal itu guru. Bangkit, belajar, lalu maju lagi,” pesan Lidya Gusmita.

Reporter: Salsabila Ayu

Editor: Afifa Khairiyah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *