Kisah Cut Syifa, Menanam Kebaikan di Balik Riuh Anak-anak TPA Nurussyabab

Lhokseumawe, (18/06/2026). Di sebuah sudut Dusun Barat, Desa Meunasah Drang, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara suara riuh rendah anak-anak yang berlarian perlahan berubah menjadi lantunan ayat-ayat suci. Suasana ini bukanlah di sekolah formal, melainkan di sebuah tempat yang disulap menjadi kelas dadakan. Di tempat tersebut, Cut Asyifa Ramadhani atau yang akrab disapa Cipa, duduk dengan sabar di antara anak-anak yang energinya seakan tak ada habisnya.

Cipa, seorang mahasiswi semester 4 jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Malikussaleh (Unimal), bukanlah guru biasa. Ia adalah seorang tutor di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Nurussyabab. Bagi Cipa, mengajar bukan sekadar menunaikan tugas, melainkan sebuah panggilan jiwa.

“Motivasi saya sederhana saja, saya ingin bermanfaat bagi orang lain,” ujar Cipa dengan rendah hati. Baginya, deretan prestasi akademis di bangku kuliah tidak ada artinya jika ia tidak bisa memberikan dampak nyata bagi lingkungannya.

Menjinakkan “Badai” Kecil dengan Kasih Sayang

Menjadi tutor di komunitas bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menghadapi karakter anak-anak yang kerap dianggap “bandel” atau sulit diatur. Cipa sering mendapati murid-muridnya yang begitu aktif hingga sulit untuk duduk tenang. Namun, ia menemukan sebuah kunci ketegasan yang dibalut kelembutan.

Di tempat itu, Cipa tidak hanya mengajarkan cara mengaji. Ia menjadi pendengar bagi anak-anak yang mungkin kurang mendapatkan kasih sayang di rumahnya. Banyak dari mereka yang hanya ingin didengarkan, dan Cipa dengan senang hati menyediakan telinganya. Kehadiran Cipa di sana perlahan mengubah suasana belajar, dari yang tadinya penuh tawa bercanda yang tak terarah, menjadi momen belajar yang lebih bermakna.

Transformasi Diri melalui Pengabdian

Menjadi mahasiswa yang aktif di komunitas telah memberikan Cipa pelajaran hidup yang tidak ia dapatkan di ruang kelas kampus. Ia belajar tentang kesabaran, cara memahami mental anak, dan pentingnya empati. Pengalaman berinteraksi dengan anak-anak Dusun Barat Desa Meunasah Drang membentuk Cipa menjadi pribadi yang lebih lembut, sopan, dan berusaha menjadi contoh yang baik.

Bagi Cipa, setiap sesi mengajar adalah proses untuk memproses dirinya sendiri. Ia percaya bahwa menjadi manusia yang baik bukan hanya soal pencapaian pribadi, melainkan seberapa besar ia bisa menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Tempat di Desa Meunasah Drang itu kini menjadi saksi bisu dedikasi seorang mahasiswa. Di sana, di antara buku-buku yang terbuka dan tawa polos anak-anak, Cipa menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri tentang arti sukses. Sukses, baginya, bukanlah tentang seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak materi, melainkan tentang jejak kebaikan yang ditinggalkan untuk orang lain.

Reporter: Salsabila Ayu

Editor: Afifa Khairiyah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *