Gaya Hidup Berantakan, Nestapa Lambung Mahasiswa

Lhokseumawe, (03/06/2026) — Jam dinding di sebuah warung kopi kawasan Bukit Indah sudah melewati pukul 01.00 WIB. Di saat sebagian besar warga Lhokseumawe telah terlelap, Zulfiana (21) masih terjaga. Sorot cahaya dari layar laptop menerangi wajahnya yang tampak lelah, berkejaran dengan tumpukan tugas analisis media yang belum usai.

Bagi mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (UNIMAL) angkatan 2023 ini, sunyinya malam adalah waktu terbaik untuk produktif. Namun, malam juga menjadi saksi bisu bagaimana ia perlahan menyiksa tubuhnya sendiri.

Di meja kayu itu, tidak ada sepiring nasi hangat atau makanan bergizi. Yang setia menemani hanyalah segelas es kopi saset yang mencair setengahnya dan bungkus camilan pedas yang sudah kosong.

Tiba-tiba, jemarinya berhenti mengetik. Wajahnya meringis menahan sakit. Tangan kirinya bergerak spontan, menekan kuat-kuat ulu hatinya yang mendadak terasa nyeri dan bergejolak.

Bagi anak muda seperti Zulfiana, mengejar mimpi di bangku kuliah sering kali menuntut pengorbanan yang tidak murah. Saat kepanikan akibat kejaran deadline melanda, sinyal lapar dari tubuhnya selalu menjadi hal pertama yang ia bungkam.

“Kalau sudah panik, saya lupa makan. Tahu-tahu sudah larut malam, perut rasanya seperti diaduk-aduk dan dada terasa terbakar,” ungkapnya lirih.

Sebagai calon sarjana komunikasi, dunianya tidak sebatas duduk manis di dalam ruang kelas. Hidupnya adalah rotasi tanpa henti antara produksi video, wawancara lapangan, hingga rapat organisasi yang kerap menyita waktu dari terbit fajar hingga larut malam.

Sayangnya, semangat yang membara itu tidak sejalan dengan perhatiannya pada tubuh. Sarapan pagi berulang kali dikorbankan demi selembar absensi kuliah agar tidak terlambat. Tubuhnya dipaksa bekerja ekstra dalam keadaan kosong.

“Seringnya baru makan siang atau sore sekaligus. Karena seharian kelaparan, saya langsung balas dendam makan porsi besar. Pilihannya pasti yang praktis dan merangsang lidah, seperti mi instan atau ayam geprek super pedas. Biar mata melek semalaman, langsung saya bilas dengan es kopi hitam,” ujar Zulfiana.

Kombinasi antara lambung yang kosong, hantaman cabai, tingginya kafein, serta beban stres akademis menjadi bom waktu. Cairan asam lambungnya melonjak, mengirimkan rasa sakit yang mengabaikan usianya yang masih muda.

Fenomena ini bukan lagi milik orang tua, melainkan potret pilu penyakit langganan mahasiswa masa kini. Di akhir malam itu, di tengah kepulan asap rokok pengunjung warung kopi dan dinginnya angin malam Bukit Indah, Zulfiana termenung.

Mengejar prestasi di Universitas Malikussaleh adalah impian besarnya, tetapi ia kini sadar, tidak ada artinya sebuah toga sarjana jika masa muda harus habis dirayakan di atas ranjang rumah sakit, meratapi lambung yang terlanjur ambyar.

Reporter: Shafa Zahwah

Editor: Afifa Khairiyah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *