
Source Doc: Eyebost.id
Lhokseumawe, (12/06/2026). Malam itu, Rangga (22) menutup laptopnya setelah menyelesaikan tugas kuliah yang menguras tenaga. Ia berharap bisa beristirahat dengan tenang, tetapi layar ponselnya justru memperlihatkan deretan unggahan teman-temannya yang sedang magang, aktif berorganisasi, mengikuti lomba, dan meraih berbagai prestasi.
Semakin lama menggulir media sosial, semakin sulit ia mengabaikan perasaan yang muncul. Di balik berbagai pencapaian yang memenuhi layar ponselnya, mahasiswa Ekonomi berusia 22 tahun itu justru merasa semakin tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri.
“Kadang saya merasa tidak cukup baik. Saat melihat teman-teman punya banyak pencapaian, saya jadi bertanya-tanya apa yang sudah saya lakukan selama ini,” ujar Rangga.
Perasaan bersalah paling sering datang saat ia sedang tidak sibuk. Ketika memilih beristirahat setelah kuliah, ia justru merasa seolah sedang menyia-nyiakan waktu, sementara orang lain terlihat terus bergerak mengejar kesempatan dan pengalaman baru.
Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri itu perlahan menggerus kepercayaan dirinya. Media sosial yang awalnya menjadi tempat mencari hiburan berubah menjadi ruang yang membuatnya merasa selalu tertinggal, seolah apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup.
Kini, Rangga mulai belajar menerima bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Meski masih sesekali merasa tertinggal, ia berusaha memahami bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, melainkan dari proses yang dijalani sesuai kemampuan masing-masing.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply