Antara Ekspresi Diri dan Kepatuhan: Mahasiswa Unimal Menyesuaikan Gaya Berpakaian Di Kampus

Lhokseumawe – Gaya berpakaian menjadi salah satu bentuk ekspresi diri yang banyak dilakukan mahasiswa di lingkungan kampus. Namun, di tengah kebebasan berekspresi, mahasiswa tetap dituntut untuk mematuhi aturan berpakaian yang berlaku. Bagi sebagian mahasiswa, menyesuaikan identitas diri dengan regulasi kampus menjadi tantangan tersendiri dalam kehidupan akademik sehari-hari. (05/06/26)

Mahasiswa Universitas Malikussaleh, Adilah Syahputri, mengungkapkan bahwa kenyamanan menjadi faktor utama yang ia pertimbangkan dalam memilih pakaian untuk dikenakan ke kampus. Menurutnya, aktivitas perkuliahan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari membuat pakaian yang nyaman menjadi kebutuhan penting.

“Kalau aku, yang paling utama itu kenyamanan. Di kampus kan bisa seharian, jadi aku lebih memilih pakaian yang nyaman dipakai dan tidak membuat gerah. Selain itu, aku juga mempertimbangkan apakah pakaian tersebut sopan dan sesuai dengan aturan kampus,” ujarnya.

Dalam menentukan gaya berpakaian, Adillah mengaku cukup terpengaruh oleh media sosial, terutama platform TikTok dan Pinterest. Berbagai referensi outfit kampus yang sederhana namun tetap menarik menjadi inspirasinya. Meski demikian, ia tidak selalu mengikuti tren yang sedang populer.

“Biasanya aku memilih yang sesuai dengan selera dan kepribadian aku sendiri. Jadi tidak semua tren aku ikuti,” katanya.

Adillah juga pernah mengalami pengalaman ditegur karena pakaian yang dikenakannya dianggap kurang sesuai dengan ketentuan kampus. Hal tersebut terjadi pada masa awal perkuliahannya ketika ia masih belum memahami aturan berpakaian yang berlaku.

“Waktu itu aku memakai celana yang dianggap terlalu kasual. Aku ditegur secara baik-baik oleh pihak kampus, dan dari situ aku jadi lebih memahami aturan yang ada,” jelasnya.

Menurut Adillah, kebebasan berekspresi melalui pakaian tetap memiliki batas yang harus dihormati. Ia menilai bahwa mahasiswa masih dapat menunjukkan identitas diri melalui gaya berpakaian tanpa harus melanggar regulasi kampus.

“Batasnya ketika cara kita berekspresi mulai bertentangan dengan aturan yang sudah ditetapkan kampus. Kita tetap bisa menunjukkan gaya dan identitas diri, tetapi harus menghormati lingkungan kampus sebagai tempat pendidikan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa pakaian merupakan salah satu cara seseorang menampilkan karakter dan kepribadiannya. Melalui cara berpakaian, seseorang dapat menunjukkan minat, gaya hidup, hingga tingkat kepercayaan dirinya.

Untuk menyeimbangkan antara identitas diri dan kepatuhan terhadap aturan kampus, Adillah memilih mencari jalan tengah. Ia tetap mengenakan pakaian yang mencerminkan gaya pribadinya, namun dengan menyesuaikan model dan penggunaannya sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan kampus.

“Menurut aku, kita tetap bisa tampil sesuai diri sendiri tanpa harus melanggar aturan. Yang penting, kita tahu bagaimana menyesuaikan gaya berpakaian dengan norma dan aturan kampus,” pungkasnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi mahasiswa, fashion bukan hanya soal penampilan, tetapi juga sarana untuk mengekspresikan identitas diri. Di sisi lain, kesadaran untuk mematuhi aturan kampus tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang tertib dan profesional.

Jurnalis: Nazwa Fitri Andini

Editor: Joan Ayurahmadani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *