
Source by Suara.com
Lhokseumawe, 27/6/2026 | Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan di media sosial maupun dunia kerja. Meskipun secara harfiah berarti “berhenti secara diam-diam”, quiet quitting sebenarnya bukan berarti seseorang mengundurkan diri dari pekerjaannya. Fenomena ini merujuk pada sikap pekerja yang memilih untuk bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang telah ditetapkan, tanpa memberikan usaha tambahan yang dianggap melampaui kewajibannya.
Fenomena quiet quitting banyak dikaitkan dengan generasi muda, khususnya generasi milenial dan generasi Z. Kelompok ini dinilai memiliki cara pandang yang berbeda terhadap dunia kerja dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu bekerja keras dan lembur sering dianggap sebagai bentuk loyalitas dan dedikasi, kini banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan apakah pengorbanan tersebut sebanding dengan kesejahteraan dan kualitas hidup yang mereka peroleh.
Menurut pandangan penulis, munculnya fenomena quiet quitting tidak dapat langsung dianggap sebagai bentuk kemalasan atau rendahnya etos kerja.
Sebaliknya, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak pekerja mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kesehatan mental, dan kehidupan sosial.
Salah satu faktor yang mendorong munculnya quiet quitting adalah tingginya tekanan kerja di berbagai sektor. Tidak sedikit pekerja yang merasa harus selalu tersedia, bekerja di luar jam kerja, atau menerima beban tambahan tanpa adanya penghargaan yang sepadan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun mental, sehingga sebagian pekerja memilih untuk menetapkan batas yang lebih jelas terhadap pekerjaannya.
Perkembangan media sosial juga turut mempercepat penyebaran fenomena ini. Berbagai pengalaman pekerja mengenai tekanan kerja, burnout, hingga pentingnya menjaga kesehatan mental banyak dibagikan melalui platform digital. Akibatnya, semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan budaya kerja yang mengutamakan produktivitas tanpa memperhatikan kesejahteraan pekerja.
Di sisi lain, fenomena quiet quitting juga memunculkan berbagai perdebatan. Sebagian pihak berpendapat bahwa sikap tersebut dapat menurunkan produktivitas dan mengurangi semangat kerja. Mereka beranggapan bahwa keberhasilan seseorang dalam karier membutuhkan dedikasi dan usaha yang lebih dari sekadar memenuhi kewajiban dasar.
Namun, ada pula yang melihat quiet quitting sebagai bentuk kesadaran pekerja untuk melindungi diri dari tekanan kerja yang berlebihan.
Fenomena ini sebenarnya menjadi cerminan perubahan nilai dalam dunia kerja modern. Generasi muda saat ini tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga lingkungan kerja yang sehat, penghargaan yang adil, serta kesempatan untuk berkembang. Mereka lebih mempertimbangkan keseimbangan hidup dibandingkan mengejar karier dengan mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi.
Perusahaan dan organisasi juga perlu memahami perubahan pola pikir tersebut.
Membangun lingkungan kerja yang suportif, memberikan penghargaan yang layak, serta memperhatikan kesejahteraan mental karyawan dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan kepuasan dan produktivitas kerja. Apabila pekerja merasa dihargai dan didukung, kemungkinan munculnya sikap quiet quitting dapat diminimalkan.
Bagi generasi muda, penting untuk memahami bahwa menjaga keseimbangan hidup bukan berarti mengabaikan tanggung jawab pekerjaan. Sebaliknya, kemampuan mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi justru dapat membantu seseorang bekerja secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Produktivitas yang baik tidak selalu diukur dari lamanya waktu bekerja, tetapi juga dari kualitas hasil kerja yang dihasilkan.
Pada akhirnya, fenomena quiet quitting menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi dari meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, kesejahteraan, dan kualitas hidup. Oleh karena itu, fenomena ini perlu dipahami secara lebih mendalam, bukan hanya dilihat sebagai bentuk penolakan terhadap budaya kerja.
Sebagai generasi yang akan mendominasi dunia kerja di masa depan, mahasiswa dan generasi muda perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan tersebut. Membangun etos kerja yang baik tetap penting, tetapi menjaga kesehatan fisik dan mental juga tidak boleh diabaikan. Dengan demikian, dunia kerja di masa depan diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara produktivitas, kesejahteraan, dan kualitas hidup para pekerjanya.
Penulis: Roito Simanjuntak
Editor: Adilah Syahputri
Leave a Reply