
search by baladena.id
Lhokseumawe, 4 Juni 2026 — Menjadi mahasiswa aktif di era saat ini tidak hanya dituntut untuk berprestasi di ruang kelas, tetapi juga mampu berkontribusi dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, isu kesehatan mental dan pentingnya self-care atau perawatan diri semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan mahasiswa yang rentan mengalami kelelahan akibat berbagai tuntutan akademik.
Salah satu mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal), Joan Ayu Ramadhani, menilai bahwa menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Menurutnya, mahasiswa sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat hingga lupa memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Joan mengaku selama ini berusaha mengatur waktunya dengan membuat jadwal mingguan agar setiap aktivitas dapat berjalan seimbang. Ia memprioritaskan perkuliahan dan tugas akademik pada hari kerja, sementara kegiatan organisasi dilakukan di luar jam kuliah.
“Saya umumnya menyusun jadwal mingguan untuk menentukan kegiatan mana yang harus diprioritaskan. Pada hari kerja, saya lebih fokus pada perkuliahan dan tugas akademik, sementara kegiatan organisasi saya rencanakan di luar jam kuliah,” ujarnya, Kamis (4/6).
Meski telah menerapkan manajemen waktu, Joan mengakui bahwa tekanan akademik tetap menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Kondisi tersebut biasanya terasa saat memasuki masa ujian atau ketika sejumlah tugas harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.
“Terutama saat menghadapi ujian atau batas waktu tugas yang bertumpuk. Sering kali, keadaan tersebut mengurangi waktu tidur dan menimbulkan stres,” katanya.
Fenomena ini bukan hanya dialami oleh Joan. Banyak mahasiswa menghadapi situasi serupa ketika tuntutan akademik, organisasi, dan tanggung jawab pribadi datang secara bersamaan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Karena itu, Joan menilai self-care menjadi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Baginya, meluangkan waktu untuk diri sendiri bukan berarti mengurangi produktivitas, melainkan upaya menjaga keseimbangan agar tetap mampu menjalankan berbagai aktivitas secara optimal.
Untuk mengurangi stres, Joan rutin melakukan beberapa kegiatan sederhana seperti mendengarkan musik, menonton film, berolahraga ringan, hingga berjalan-jalan santai. Selain itu, ia juga berusaha menjaga pola tidur yang teratur agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.
“Saya juga berusaha menjaga pola tidur yang konsisten karena istirahat yang memadai sangat membantu dalam mengurangi keletihan dan stres,” jelasnya.
Menurut Joan, manfaat self-care tidak hanya dirasakan pada kondisi fisik, tetapi juga berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam menjalani aktivitas akademik. Dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lebih sehat, mahasiswa dapat belajar dengan lebih fokus dan terhindar dari risiko burnout.
“Dengan merawat diri, mahasiswa bisa mempertahankan kesehatan fisik dan mental, meningkatkan konsentrasi dalam belajar, serta menurunkan kemungkinan mengalami kelelahan atau burnout,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Joan mengatakan bahwa tantangan terbesar yang sering dihadapi mahasiswa adalah menentukan prioritas ketika berbagai tanggung jawab hadir dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, kemampuan mengelola waktu dan mengenali batas kemampuan diri menjadi hal yang sangat penting.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang menyadari bahwa kesehatan tidak boleh dikorbankan demi memenuhi seluruh tuntutan yang ada. Menurutnya, pencapaian akademik dan produktivitas akan lebih mudah diraih ketika kondisi fisik dan mental tetap terjaga.
Di tengah budaya kampus yang sering mengidentikkan kesibukan dengan keberhasilan, pesan yang disampaikan Joan menjadi pengingat bahwa merawat diri bukanlah bentuk kemalasan. Sebaliknya, self-care merupakan langkah penting agar mahasiswa dapat terus berkembang, berprestasi, dan menjalani kehidupan kampus secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Reporter: Nia Amelia
Editor: Joan Ayurahmadani









