
Lhokseumawe, (16/07/2026). Menatap layar ponselnya yang berulang kali menampilkan surat penolakan beasiswa telah menjadi rutinitas pahit bagi Khairidha Windari Ramadayanti (20).
Namun, ia tidak membiarkan impian kuliahnya runtuh begitu saja akibat kegagalan yang datang.
Sebagai seorang mahasiswa yang harus mandiri secara finansial, tantangan membayar biaya semesteran kerap kali membayangi setiap harinya di kampus.
Setiap pengumuman yang tidak mencantumkan namanya menjadi ujian berat yang menguji ketahanan mental dan fisiknya.
Rasa kecewa dan lelah tentu sempat menghampiri ketika berkas pendaftaran yang disusun siang malam kembali berakhir pada penolakan berikutnya.
Meski demikian, Khairidha memilih menjadikan momen jatuh tersebut sebagai ruang evaluasi untuk terus memperbaiki kualitas dokumen aplikasinya.
Baginya, sebagai pejuang beasiswa bukan sekadar tentang memenangkan bantuan finansial, melainkan tentang komitmen menjaga asa pendidikannya tetap menyala.
Sikap pantang menyerah inilah yang mendorong dirinya untuk selalu bangkit berdiri setiap kali badai keputusasaan datang melanda.
Langkah nyata segera ia ambil dengan memperluas jaringan informasi serta aktif mengikuti berbagai bimbingan penulisan esai yang lebih persuasif.
Keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik meretas masa depan membuat Khairidha enggan menghentikan langkah di tengah jalan.
Perjalanan berliku penuh penolakan ini pada akhirnya menempa karakter Khairidha menjadi sosok yang jauh lebih tangguh dan dewasa.
Ia membuktikan bahwa kegagalan hanyalah jeda sementara, sedangkan keberanian untuk terus mencoba adalah kunci utama meraih kesuksesan.
Reporter: Salsabila Ayu
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply