
Search by Siaran-Berita
Lhokseumawe 2/6/2026 | Di era digital saat ini, kehidupan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari media sosial. Setiap hari kita disuguhi berbagai unggahan tentang pencapaian teman, tren terbaru, tempat nongkrong yang sedang populer, hingga aktivitas produktif yang tampak sempurna. Tanpa disadari, kondisi ini sering menimbulkan perasaan takut tertinggal atau yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).
FOMO menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa. Keinginan untuk selalu mengikuti tren dan mengetahui apa yang dilakukan orang lain sering kali memengaruhi pola pikir, keputusan, bahkan gaya hidup sehari-hari. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa harus selalu “hadir” dalam setiap tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
FOMO merupakan salah satu tantangan yang cukup serius bagi mahasiswa saat ini karena dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hidup. Banyak mahasiswa yang akhirnya mengukur keberhasilan dirinya berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial, bukan berdasarkan kemampuan dan tujuan pribadinya.
Fenomena ini terlihat dari kebiasaan mengikuti tren yang sedang viral, membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau memaksakan diri untuk hadir dalam berbagai kegiatan hanya agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan pertemanannya. Padahal, setiap individu memiliki kondisi ekonomi, kemampuan, dan prioritas yang berbeda.
Dalam kehidupan kampus, FOMO juga dapat muncul dalam bidang akademik. Misalnya, ketika melihat teman mengikuti banyak organisasi, seminar, pelatihan, atau kompetisi, seseorang bisa merasa tertekan untuk melakukan hal yang sama. Alih-alih termotivasi secara sehat, mereka justru merasa cemas dan khawatir jika dianggap kurang produktif dibandingkan orang lain.
Menurut pandangan penulis, masalah utama dari FOMO bukan terletak pada keinginan untuk berkembang, melainkan pada kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan. Ketika seseorang terlalu fokus pada kehidupan orang lain, ia akan kehilangan kesempatan untuk menghargai proses dan pencapaiannya sendiri.
Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor utama meningkatnya fenomena FOMO. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Threads memungkinkan pengguna melihat berbagai aktivitas orang lain secara real time. Konten yang ditampilkan umumnya merupakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, sehingga sering menciptakan persepsi bahwa orang lain selalu lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih produktif.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat kecemasan, stres, dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami FOMO karena memiliki intensitas penggunaan media sosial yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, budaya konsumtif yang berkembang di kalangan anak muda juga sering dipengaruhi oleh FOMO. Banyak orang membeli produk tertentu bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin mengikuti tren atau merasa tidak ingin tertinggal dari teman-temannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa FOMO tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga pada pola pengeluaran dan gaya hidup seseorang.
Mengatasi FOMO bukan berarti menghindari perkembangan zaman atau berhenti menggunakan media sosial. Yang terpenting adalah membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Fokus pada tujuan dan perkembangan pribadi akan membantu seseorang lebih menghargai proses yang sedang dijalani.
Menggunakan media sosial secara bijak. Membatasi waktu penggunaan media sosial dapat mengurangi tekanan untuk selalu mengikuti kehidupan orang lain.
Menentukan prioritas hidup. Tidak semua tren harus diikuti. Mahasiswa perlu memahami mana yang benar-benar bermanfaat bagi pengembangan diri dan mana yang hanya bersifat sementara.
Meningkatkan rasa syukur. Dengan menghargai apa yang telah dimiliki dan dicapai, seseorang akan lebih mudah merasa puas dan tidak terus-menerus mencari validasi dari lingkungan sekitar.
Memperbanyak aktivitas nyata. Berinteraksi langsung dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dunia digital.
FOMO merupakan fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa di era digital. Perasaan takut tertinggal sering kali mendorong seseorang untuk mengikuti berbagai tren dan gaya hidup tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kemampuannya. Jika tidak dikendalikan, FOMO dapat menimbulkan kecemasan, tekanan sosial, hingga perilaku konsumtif.
Sebagai mahasiswa, penting untuk memahami bahwa kesuksesan tidak harus diukur dari apa yang terlihat di media sosial. Setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing. Solusi terbaik untuk menghadapi FOMO adalah dengan membangun kepercayaan diri, menetapkan prioritas yang jelas, serta menggunakan media sosial secara lebih bijak. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjalani gaya hidup yang lebih sehat, produktif, dan sesuai dengan tujuan hidup yang ingin dicapai.
Reporter: Fadilla
Editor: Adilah Syahputri
Leave a Reply