
Source Doc: purwokerto.inews.id
Lhokseumawe, (10/07/2026). Aroma mi instan memenuhi kamar kos berukuran sempit milik Nanda (21) mahasiswa rantau Universitas Malikussaleh.
Ia bersama dua temannya membagi satu bungkus Indomie ke tiga piring dan menyantapnya dengan nasi sisa semalam yang dipanaskan kembali lalu ditaburi sedikit bumbu penyedap agar lebih terasa.
Pemandangan sederhana itu menjadi rutinitas yang lahir dari keterbatasan, bukan pilihan.
“Kalau kiriman uang belum masuk, kami makan apa yang masih ada di kos. Satu bungkus Indomie dibagi bertiga yang penting tidak ada yang kelaparan sendirian,” ujar Nanda.
Bagi sebagian mahasiswa rantau, akhir bulan menjadi waktu yang paling berat karena kebutuhan kuliah dan biaya hidup terus berjalan tanpa bisa ditunda.
Dalam kondisi itu, berbagi makanan menjadi cara paling sederhana agar semua tetap bisa mengisi perut.
Tak ada yang menghitung siapa yang paling sering membeli atau siapa yang paling banyak menerima bantuan.
Hari ini satu orang membawa mi instan, esok temannya datang dengan beras atau telur, lalu mereka memasaknya dan menikmati semuanya bersama.
Keterbatasan perlahan mengubah teman kos menjadi keluarga kedua yang saling menjaga di tanah rantau.
Kebersamaan kecil saat duduk mengelilingi satu piring makanan justru menjadi penguat untuk tetap bertahan mengejar mimpi.
Satu bungkus Indomie mungkin hanya makanan sederhana bagi sebagian orang.
Namun, bagi mahasiswa rantau, semangkuk mi yang dibagi bersama menyimpan kisah tentang solidaritas, pengorbanan, dan harapan yang tetap hidup meski keadaan tidak selalu berpihak.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply