
Search by zero carbon analytics
Lhokseumawe, 7 Juli 2026 | Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan semakin meningkat. Banyak orang mulai memilih produk yang diklaim ramah lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi. Melihat tren tersebut, berbagai perusahaan berlomba-lomba menggunakan label eco-friendly. Namun, tidak semua klaim itu benar-benar mencerminkan praktik yang peduli terhadap lingkungan. Fenomena ini dikenal sebagai greenwashing.
Greenwashing terjadi ketika perusahaan membangun citra seolah-olah produknya ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak demikian. Misalnya, produk menggunakan kemasan bernuansa hijau atau mencantumkan istilah seperti “alami” dan “eco-friendly”, tetapi proses produksinya masih menghasilkan limbah atau menggunakan bahan yang sulit didaur ulang. Akibatnya, konsumen mudah percaya bahwa mereka telah berkontribusi menjaga lingkungan.
Menurut penulis, tren gaya hidup ramah lingkungan tidak seharusnya dimanfaatkan hanya sebagai strategi pemasaran. Perusahaan perlu menyampaikan informasi yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, konsumen juga harus lebih kritis dengan mencari tahu bahan baku, proses produksi, dan sertifikasi lingkungan sebelum membeli suatu produk.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Produk ramah lingkungan hanya akan memberi manfaat jika komitmennya benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan. Dengan menjadi konsumen yang lebih cermat, masyarakat dapat mendorong perusahaan untuk lebih transparan dan bertanggung jawab.
Penulis: Fadilla
Editor: Adilah Syahputri
Leave a Reply