
Source Doc: Magnific.com
Lhokseumawe, (04/07/2026). Bagi sebagian mahasiswa, kotak amal di sudut masjid bukan hanya tempat menyisihkan uang receh mereka.
Bagi Mawar, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang tertatih-tatih menyelesaikan skripsinya, kotak kayu kecil itu adalah kotak tempat ia menitipkan doa dan harapan terbesarnya.
Dari siang setelah penat menghadapi revisi dari dosen pembimbing, Mawar selalu menyempatkan diri mengisi kotak tersebut dengan selembar uang kertasnya.
Uang ia yang masukkan ke dalam kotak berjalan beriringan dengan bisikan doa agar jalannya menuju kelulusan segera dimudahkan oleh Sang Pencipta.
Kegiatan ini bagai cara ia merasakan sedikit ketenangan untuk Mawar yang kerap merasa tertekan di masa-masa akhir perkuliahannya.
Ia menganggap bahwa sedekah yang ia bagukan melalui kotak amal tersebut merupakan bentuk pembantu baginya agar segala urusan dunianya yang sedang buntu bisa lancar kembali.
Menurut penuturan Mawar, ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata setiap kali ia berhasil menyisihkan sebagian rezekinya yang terbatas sebagai anak kos.
Kotak amal itu seolah berubah menjadi jembatan yang menghubungkan keringat usahanya di dunia nyata dengan doa yang ia harapkan jatuh dari langit.
Teman-temannya mungkin melihat aktivitas Mawar sebagai rutinitas ibadah biasa.
Namun bagi dirinya sendiri, kebiasaan kecil ini adalah strategi bertahan hidup paling ampuh untuk menjaga kewarasan di tengah gempuran stres akademik.
Kini, kotak amal tersebut tetap setia berdiri di pojok selasar masjid, menunggu tangan-tangan mahasiswa lain yang ingin menitipkan harapan serupa.
Mawar membuktikan bahwa di balik fungsi sosialnya untuk membantu sesama, kotak kayu itu juga menyimpan sejuta berbagai doa dari mereka yang sedang berjuang demi selembar ijazah.
Reporter: Salsabila Ayu
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply