
Source : visit Aceh
Lhokseumawe, 04/07/2026 – Seni ukir Aceh masih bertahan sebagai salah satu warisan budaya daerah di tengah arus modernisasi. Namun, keberadaannya kini menghadapi tantangan akibat berkurangnya jumlah pengrajin serta minimnya minat generasi muda untuk mempelajari seni ukir tradisional.
Seni ukir Aceh dikenal memiliki berbagai motif khas, seperti bungong jeumpa, sulur-suluran, awan meucanek, dan kaligrafi Islami. Motif-motif tersebut banyak diterapkan pada Rumoh Aceh, meunasah, masjid, hingga berbagai perabot rumah tangga.
Selain memiliki nilai estetika, setiap ukiran juga mengandung filosofi yang mencerminkan adat istiadat dan nilai-nilai Islam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.
Salah seorang pengrajin ukir di Lhokseumawe, M. Yusuf (58), mengatakan seni ukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga.
“Ukiran Aceh nyoe hana sekadar hiasan. Nyoe warisan indatu geutanyoe. Jeut ta jaga, bek ta peulupa,” ujarnya.
(“Ukiran Aceh ini bukan sekadar hiasan. Ini adalah warisan leluhur kita. Mari kita jaga, jangan kita lupakan.”)
Menurut Yusuf, proses pembuatan satu ukiran membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang tidak singkat. Untuk menghasilkan satu panel ukiran berukuran besar, pengerjaannya dapat memakan waktu hingga beberapa minggu, tergantung tingkat kerumitannya.
Ia juga mengaku prihatin karena semakin sedikit generasi muda yang tertarik mempelajari seni ukir. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menghambat upaya pelestarian warisan budaya Aceh di masa mendatang.
Selain menjadi identitas budaya, seni ukir Aceh juga memiliki nilai ekonomi. Berbagai hasil ukiran dipasarkan sebagai suvenir, hiasan rumah, hingga ornamen bangunan yang masih diminati masyarakat maupun wisatawan.
Pelestarian seni ukir memerlukan dukungan berbagai pihak melalui pelatihan, pameran budaya, dan promosi digital. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan seni ukir sebagai salah satu warisan budaya Aceh.
Reporter : Nana Afriani
Editor : Zulfiana
Leave a Reply