
Suasana prosesi tradisi meugang di Aceh. (search by Tourism Travel)
Lhokseumawe – Masyarakat Aceh kembali disibukkan dengan tradisi Meugang (atau Makmeugang) menjelang Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh ini bukan hanya menjadi momen memasak dan menikmati daging bersama keluarga, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, serta kepedulian sosial yang diwariskan secara turun-temurun.
Ditilik dari sisi sejarahnya, tradisi Meugang telah ada di Aceh sejak abad ke-14 M dan mulai dilembagakan pada masa puncak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M). Pada masa itu, Sultan menyembelih hewan ternak dalam jumlah besar dan membagikannya secara gratis kepada seluruh rakyat, terutama fakir miskin dan anak yatim. Kegiatan tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus simbol kemakmuran masyarakat Aceh.
Tradisi Meugang sempat mengalami hambatan akibat penjajahan Belanda. Setelah Kesultanan Aceh ditaklukkan pada tahun 1873, tradisi pembagian daging oleh kerajaan terhenti. Namun, hal tersebut tidak membuat Meugang hilang begitu saja. Nilai-nilai budaya dan ajaran Islam yang terkandung di dalamnya membuat masyarakat tetap melestarikannya secara swadaya dan bergotong royong.
Pada masa perang, daging Meugang bahkan diawetkan oleh para pejuang dan dijadikan sebagai bahan logistik saat bergerilya melawan penjajah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga pernah berperan dalam perjuangan masyarakat Aceh.
Meugang yang digelar pada H-1 Lebaran menjadi momen istimewa bagi masyarakat Aceh. Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan memadati pasar untuk membeli daging sapi, kerbau, maupun kambing yang nantinya akan diolah menjadi berbagai hidangan khas keluarga, salah satunya sie reuboh, makanan tradisional khas Aceh. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar kegiatan memasak dan menikmati daging bersama keluarga. Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Meugang yang dilaksanakan menjelang Idulfitri maupun Iduladha selalu dirayakan dengan penuh suka cita. Terlebih pada Meugang Iduladha, masyarakat turut merasakan melimpahnya daging dari pelaksanaan ibadah kurban sehingga suasana kebahagiaan semakin terasa.
Keramaian terlihat di berbagai pasar tradisional. Para pedagang daging tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Meskipun harga daging cenderung meningkat menjelang Lebaran, antusiasme masyarakat tidak surut. Banyak warga mengaku tetap berusaha menjalankan tradisi tersebut sesuai kemampuan karena nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya jauh lebih penting dibandingkan jumlah daging yang dibeli.
Di sejumlah daerah, Meugang juga menjadi sarana berbagi rezeki. Sebagian masyarakat membagikan daging kepada kerabat, tetangga, maupun keluarga yang membutuhkan. Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Selain memiliki nilai budaya dan religius, Meugang turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Meningkatnya permintaan daging menjelang Lebaran membawa keuntungan bagi peternak, pedagang, hingga pelaku usaha kecil yang menggantungkan pendapatan pada aktivitas pasar musiman tersebut.
Menjelang malam takbiran, suasana hangat semakin terasa di setiap rumah. Anggota keluarga berkumpul, memasak bersama, dan menikmati hidangan hasil tradisi Meugang. Di balik setiap masakan yang tersaji, tersimpan harapan, doa, serta rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan selama Ramadan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Meugang tetap menjadi identitas yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga terus dirawat sebagai pengikat hubungan antargenerasi. Melalui Meugang, masyarakat Aceh tidak hanya menyambut datangnya Hari Raya, tetapi juga merayakan kebersamaan, cinta keluarga, dan rasa syukur yang menjadi inti dari hari kemenangan.
Reporter : Raisa Salsabila
Editor : Zulfiana
Leave a Reply