
Source Doc: signsolutions.uk.com
Lhokseumawe, (19/06/2026). Di tengah hiruk-pikuk kampus yang dipenuhi tawa dan percakapan mahasiswa, Nadira (21) hanya bisa menyaksikan semuanya dalam diam. Dunia yang didengar orang lain setiap hari tak pernah benar-benar sampai kepadanya. Dari kesunyian itulah lahir perjuangan yang kelak menginspirasi banyak orang.
Menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa tuna rungu bukanlah perkara mudah bagi Nadira. Berbagai hambatan kerap menghadangnya, mulai dari sulit memahami penjelasan di kelas hingga terbatasnya komunikasi dengan lingkungan sekitar. Meski begitu, ia memilih bertahan ketika banyak alasan datang untuk menyerah.
Ada hari-hari ketika Nadira merasa lelah dan tertinggal dari teman-temannya. Ia harus belajar lebih keras, membaca lebih banyak, dan berusaha memahami hal-hal yang bagi orang lain terasa sederhana. Namun setiap kesulitan justru membuatnya semakin kuat untuk melangkah.
Di balik senyumnya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak semua orang lihat. Ia terus membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukan penghalang untuk meraih prestasi dan mimpi. Keteguhannya perlahan mengubah cara pandang banyak orang di sekitarnya.
Seiring waktu, Nadira mulai mengajak teman-temannya mengenal bahasa isyarat dan memahami pentingnya akses yang setara bagi mahasiswa difabel. Langkah kecil itu menumbuhkan kepedulian di lingkungan kampus dan membuka ruang yang lebih inklusif bagi semua. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk dipisahkan.
Kini, Nadira masih berjalan di koridor kampus yang sama dengan semangat yang tak pernah padam. Ia mungkin tidak dapat mendengar tepuk tangan yang diberikan untuknya. Namun jejak yang ditinggalkannya telah membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari suara yang keras, melainkan dari keberanian yang tetap bergema dalam sunyi.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply