
Source Doc: Ilustrasi AI
Lhokseumawe, (16/06/2026). Tangan Sofia (21) tampak sibuk merapikan peralatan praktikum di Laboratorium Teknik Mesin. Di tengah suara mesin yang terus berdengung, ia sudah terbiasa menjadi salah satu dari sedikit perempuan di ruangan itu. Namun, yang paling berat bukanlah praktikum atau tugas yang menumpuk, melainkan tatapan ragu yang sering mengiringi langkahnya sejak pertama kali memilih jurusan teknik.
Saat mahasiswa lain fokus menyelesaikan pekerjaan mereka, Sofia masih mengingat bagaimana dirinya pernah merasa tidak benar-benar diterima. Komentar seperti “yakin kuat di teknik?” atau “kenapa tidak pilih jurusan lain saja?” pernah terdengar begitu dekat. Kalimat sederhana bagi sebagian orang, tetapi cukup untuk membuatnya mempertanyakan kemampuannya sendiri.
Meski begitu, Sofia tidak pergi. Ia memilih bertahan. Hari demi hari dilaluinya dengan belajar lebih keras, datang lebih awal ke laboratorium, dan berusaha membuktikan bahwa kemampuannya tidak kalah dari siapa pun. Baginya, perjuangan terbesar bukan melawan tugas kuliah, melainkan melawan keraguan yang terus muncul di dalam diri.
Laboratorium yang dulu terasa asing perlahan berubah menjadi tempat ia tumbuh. Dari ruang yang membuatnya gugup, menjadi ruang yang mengajarkannya keberanian. Setiap proyek yang berhasil diselesaikan dan setiap tantangan yang berhasil dilewati menjadi bukti bahwa perempuan juga memiliki tempat di dunia teknik.
Di balik seragam praktikum dan wajah yang terlihat tenang, ada cerita tentang seseorang yang terus berusaha bertahan di tengah budaya yang belum sepenuhnya ramah. Beruntung, dukungan dari teman dan dosen membuat langkah Sofia terasa lebih ringan. Mereka melihat dirinya bukan sebagai perempuan di jurusan teknik, tetapi sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar.
Kini, Sofia tidak lagi datang ke laboratorium dengan perasaan takut seperti dulu. Ia datang dengan keyakinan bahwa setiap perempuan berhak berada di mana pun mereka ingin berkembang. Di antara deru mesin dan pekerjaan yang tak pernah berhenti, Sofia telah membuktikan satu hal, yaitu kemampuan tidak mengenal gender, dan mimpi tidak seharusnya dibatasi oleh siapa diri kita.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply