Boh Gaca, Tradisi Pengantin Aceh yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Lhokseumawe – Di tengah perkembangan tren pernikahan modern, tradisi memakai boh gaca atau inai masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Aceh sebagai bagian dari rangkaian adat pernikahan yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam budaya Aceh, boh gaca digunakan untuk menghiasi tangan dan kaki pengantin sebelum hari resepsi. Selain mempercantik penampilan, penggunaan inai juga memiliki makna budaya yang mendalam. Bagi sebagian masyarakat Aceh, boh gaca menjadi simbol kesiapan pengantin memasuki kehidupan rumah tangga sekaligus bagian dari identitas budaya yang terus dijaga keberadaannya.

Salah seorang pengukir henna pengantin di Lhokseumawe, Wirdatul Ahya (23), mengatakan bahwa penggunaan boh gaca masih banyak diminati oleh calon pengantin hingga saat ini. Menurutnya, tradisi tersebut masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi perkawinan masyarakat Aceh.

“Boh gaca atau henna sudah menjadi adat dan tradisi sejak dulu. Karena itu, menurut saya penting bagi masyarakat Aceh untuk tetap mempertahankannya dalam prosesi pernikahan,” ujar Wirdatul saat diwawancarai, Sabtu (13/6/2026).

Ia menjelaskan, model ukiran inai yang dipilih pengantin kini semakin beragam mengikuti perkembangan zaman. Meski demikian, unsur keindahan dan nilai budaya tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap desain yang dibuat.

Menurut Wirdatul, perkembangan media sosial turut membantu memperkenalkan berbagai motif boh gaca kepada masyarakat. Banyak calon pengantin mencari referensi desain melalui platform digital sebelum menentukan model yang akan digunakan pada hari pernikahan.

“Biasanya calon pengantin melihat contoh-contoh desain dari media sosial. Dari situ mereka memilih motif yang sesuai dengan keinginan mereka,” katanya.

Wirdatul menilai keberadaan para pengukir henna memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya tersebut. Melalui berbagai motif yang terus berkembang tanpa meninggalkan unsur tradisi, boh gaca tetap diminati oleh generasi muda.

“Saya berharap generasi muda tetap melestarikan tradisi memakai boh gaca dalam pernikahan. Karena ini bukan hanya hiasan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh,” tutupnya.

Keberadaan para pengukir henna seperti Wirdatul menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga eksistensi boh gaca di tengah perubahan zaman. Melalui sentuhan kreativitas tanpa meninggalkan nilai budaya yang diwariskan leluhur, tradisi tersebut terus hidup dan menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh.

Reporter: Risna Maulina

Editor: Zulfiana

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *