
source: infopublik.id
Lhokseumawe, 12 juni 2026 — Tradisi Peumulia Jamee atau memuliakan tamu masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Di tengah perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi yang mengajarkan sikap ramah serta menghormati tamu tersebut masih terus dipertahankan sebagai salah satu identitas budaya Aceh.
Masyarakat Aceh dikenal memiliki kebiasaan menyambut tamu dengan penuh keramahan. Mulai dari mempersilakan tamu masuk ke rumah hingga menyuguhkan makanan dan minuman, semua dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang berkunjung.
Salah seorang warga Lhokseumawe, Firman, mengatakan bahwa tradisi Peumulia Jamee telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh sejak lama. Menurutnya, nilai utama dari tradisi tersebut adalah menghargai setiap tamu yang datang.
“Menurut saya, tradisi Peumulia Jamee itu penting karena memang dari dulu orang Aceh diajarkan untuk menghormati tamu. Tamu yang datang harus disambut dengan baik, diperlakukan dengan ramah, dan dibuat merasa nyaman. Itu sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh sampai sekarang,” ujar Firman.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Aceh memiliki berbagai cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada tamu. Meski bentuk penyambutannya sederhana, nilai penghargaan dan keramahan tetap menjadi hal yang utama.
“Biasanya kalau ada tamu datang, masyarakat Aceh langsung menyambut dengan ramah, mengajak masuk ke rumah, lalu menyuguhkan minuman atau makanan yang ada. Walaupun sederhana, yang penting tamu merasa dihargai dan tidak merasa diabaikan selama berkunjung,” katanya.
Selain melalui jamuan makanan dan minuman, masyarakat Aceh juga memiliki cara khusus dalam menyambut tamu pada acara-acara tertentu. Tradisi tersebut biasanya terlihat dalam kegiatan adat, acara pemerintahan, maupun penyambutan tamu kehormatan yang datang ke suatu daerah.
Menurut Firman, masyarakat Aceh sering mempersembahkan tarian tradisional sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang berkunjung. Tarian tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan keramahan dan penghargaan masyarakat Aceh terhadap para tamu.
“Kalau dalam acara tertentu, terutama acara adat atau penyambutan tamu penting, masyarakat Aceh biasanya menyambut tamu dengan mempersembahkan tarian tradisional Aceh. Selain sebagai hiburan, tarian itu juga menjadi bentuk penghormatan dan ungkapan selamat datang kepada tamu yang berkunjung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tradisi penyambutan melalui pertunjukan seni budaya masih sering dilakukan hingga saat ini. Selain memuliakan tamu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Aceh kepada masyarakat luas.
Peumulia Jamee tidak hanya dipandang sebagai tradisi menyambut tamu, tetapi juga sebagai simbol keramahan masyarakat Aceh. Nilai tersebut menjadi salah satu warisan budaya yang membedakan Aceh dengan daerah lainnya di Indonesia.
Melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat berharap generasi muda dapat terus mengenal dan menerapkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Dengan demikian, tradisi Peumulia Jamee dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh di masa mendatang.
“Budaya ini harus tetap dijaga karena merupakan salah satu ciri khas masyarakat Aceh. Kalau generasi muda terus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tradisi Peumulia Jamee akan tetap lestari meskipun zaman terus berubah,” tutup Firman.
Reporter: Nasa Aulia
Editor : Zulfiana
Leave a Reply