MENGENALI PERTEMANAN TOXIC DI KALANGAN MAHASISWA

Search by : suarausu.or.id

Lhokseumawe,– Fenomena pertemanan toxic masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa di lingkungan kampus. Hubungan pertemanan yang tidak sehat dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental, kenyamanan, hingga kepercayaan diri mahasiswa dalam menjalani aktivitas perkuliahan.

Salah satu mahasiswa Universitas Malikussaleh, Amanda Nuri, mengatakan bahwa pertemanan toxic sering kali ditandai dengan sikap yang membuat seseorang merasa tidak dihargai dan tertekan.

“Menurut saya, pertemanan toxic itu ketika kita sering merasa tidak dihargai, selalu disalahkan, atau merasa tertekan setiap kali bergaul dengan orang-orang tertentu. Pertemanan seharusnya membuat kita berkembang, bukan justru membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri,” ujarnya.

Menurut Amanda, lingkungan pertemanan memiliki peran penting dalam kehidupan mahasiswa karena menjadi tempat berbagi pengalaman, dukungan, serta motivasi selama menjalani masa perkuliahan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu lebih selektif dalam memilih lingkungan pergaulan agar terhindar dari hubungan yang tidak sehat.

Pertemanan toxic dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kebiasaan merendahkan teman, tidak menghargai pendapat orang lain, memanfaatkan seseorang demi kepentingan pribadi, hingga menciptakan persaingan yang tidak sehat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami tekanan emosional.

Selain terjadi secara langsung, perilaku toxic juga dapat ditemukan melalui media sosial. Tekanan untuk mengikuti gaya hidup tertentu, membandingkan pencapaian akademik, maupun memberikan komentar negatif secara berlebihan menjadi beberapa faktor yang dapat memicu hubungan pertemanan yang tidak sehat di kalangan mahasiswa.

Amanda menambahkan bahwa pertemanan yang sehat seharusnya mampu memberikan rasa nyaman dan saling mendukung satu sama lain.

“Teman yang baik bukan hanya hadir ketika membutuhkan bantuan, tetapi juga menghargai perasaan, pendapat, dan batasan yang dimiliki orang lain,” katanya.

Untuk menghindari dampak negatif dari pertemanan toxic, mahasiswa perlu membangun hubungan dengan individu yang memiliki sikap saling menghargai, mendukung, dan memberikan pengaruh positif. Kemampuan menetapkan batasan dalam pertemanan juga dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental dan kenyamanan dalam berinteraksi.

Di tengah dinamika kehidupan kampus yang semakin kompleks, kesadaran mahasiswa dalam mengenali ciri-ciri pertemanan toxic menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan mendukung perkembangan diri, baik dalam bidang akademik maupun kehidupan pribadi.

Jurnalis: Fitri Yani Napitupulu

Editor: Joan Ayurahmadani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *