Diabaikan di Grup Tugas, Beban Mental yang Tak Terlihat di Dunia Kampus

Lhokseumawe, (11/06/2026). Yuni Hidayana (19), mahasiswa semester 2 Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, merasakan kecemasan setiap kali tugas kelompok tiba. Bagi sebagian orang, dua centang biru di ruang obrolan WhatsApp mungkin hanya tanda pesan terbaca namun bagi Yuni, itu perlahan mengikis rasa percaya diri. Di balik riuhnya ruang perkuliahan, ada ruang gelap di sudut hatinya yang menunggu saat kelompok mulai berkomunikasi.

Kecemasan terdalamnya bukan soal teori mata kuliah atau tumpukan referensi, melainkan menghadapi silent treatment dan pengabaian dari rekan kelompok. Kehidupan akademik memaksanya tampil proaktif, menurunkan ego demi nilai bersama, dan berusaha mencairkan suasana di ruang siber.

Namun seluruh benteng pertahanan itu runtuh ketika pesan penawaran bantuan yang ia kirim sejak pagi dibiarkan tanpa respons hingga larut malam. Ruang digital yang seharusnya menyatukan ide berubah menjadi medan tempur emosional yang sepi.

“Rasanya kayak transparan, ada tapi nggak dianggap,” ujarnya.

Yang membuatnya semakin tersiksa adalah ketidakberdayaan melawan keheningan dan keputusan sepihak. Saat beberapa anggota dominan mengambil alih tugas tanpa diskusi, Yuni terasingkan.

Ide-idenya dilewati tanpa apresiasi, suaranya dianggap transparan, dan aksesnya untuk berkontribusi ditutup rapat. Ia sering merasa berada di pinggir proses yang menentukan nilai dan pengalaman akademiknya, melihat hasil kerja kelompok dari jauh tanpa pernah merasakan kehangatan kerja sama yang setara.

“Aku udah usaha nawarin bantuan dan tanya soal pembagian tugas tapi nggak di-respon. Dan yang paling bikin kesel itu mereka bisa buat story di WA atau IG tapi nggak balas chat aku di grup,” tambahnya.

Pengabaian ini bukan sekadar masalah teknis pembagian kerja, melainkan cambuk psikologis yang meninggalkan luka, memicu lonjakan stres, menurunkan motivasi belajar, dan melahirkan krisis kepercayaan diri. Dampaknya terasa di keseharian, malam-malam yang dihabiskan meragukan kemampuan diri, ketakutan untuk mengajukan pendapat di kelas, dan rasa jengkel yang sulit diungkapkan kepada teman dekat. Pada akhirnya Yuni menyadari bahwa di dunia perkuliahan mahasiswa dituntut mampu bekerja sama, namun sering abai terhadap etika komunikasi yang memanusiakan.

Setiap kali membuka ponsel untuk mengecek grup tugas, ada beban mental yang harus ia tanggung sendiri ketakutan akan diabaikan yang terus mengintai di balik senyum ketabahannya. Ia berharap ada perubahan kecil, respons yang ramah, pembagian tugas yang adil, dan ruang diskusi yang benar-benar inklusif, agar pengalaman akademik tidak lagi menimbulkan luka yang lama.

Reporter: Salsabila Ayu

Editor: Afifa Khairiyah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *