
Lhokseumawe, (06/06/2026) — Bagi mayoritas mahasiswa tingkat akhir, semester delapan adalah fase krusial yang dipenuhi kecemasan, tumpukan revisi, dan tekanan masa depan. Namun, di sela-sela helaan napas berat sebagai mahasiswa akhir Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal), Rijal Arrasyid (22) memilih jalan yang berbeda.
Ia menolak membiarkan waktu luangnya menguap sia-sia. Di ruang tajam antara idealisme kuliah dan realita hidup, ia melangkah berani menghidupkan mimpi lamanya, sebuah bisnis fotografi yang ia beri nama Rijal Photograph.
Jika ditarik benang merahnya, rahim dari bisnis ini bukanlah modal instan yang turun dari langit, melainkan aroma minyak goreng dan gurihnya tusukan sempol di masa SMA.
Ya, jauh sebelum jemarinya akrab dengan tombol shutter kamera, Rijal adalah seorang petarung. Demi sebuah mimpi bernama fotografi, ia rela berjualan sempol saat masih berseragam sekolah. Uang-uang receh hasil keringatnya itu ia selipkan satu demi satu ke dalam tabungan.
Saat itu, ketertarikannya pada dunia visual terbentur dinding tebal, ia tidak memiliki alat yang memadai. Kamera adalah kemewahan yang belum mampu ia jangkau. Namun, Rijal menolak menyerah pada keadaan.
Penantian Panjang yang Pecah di Semester 7
Waktu bergulir, dari bangku sekolah hingga menembus bangku kuliah. Konsistensi menabung itu akhirnya berbuah manis saat Rijal menginjak semester 7. Celengan mimpi yang ia rawat bertahun-tahun akhirnya pecah, menyisakan dana yang cukup untuk membeli sebuah kamera impian.
Di sinilah letak keberanian sesungguhnya. Begitu fisik kamera berada di genggaman, Rijal tidak menunggu sampai dirinya menjadi “ahli”. Ia langsung melempar diri ke pasar, berani menerima pesanan bookingan jasa fotografi dari luar.
Sambil menyelam minum air, sembari mencari nafkah lewat statusnya sebagai fotografer freelance, ia terus memutar otak untuk meningkatkan keterampilan (skill) fotografinya dan perlahan melakukan upgrade pada alat-alat tempurnya. Baginya, status mahasiswa akhir bukanlah alasan untuk berdiam diri, melainkan momentum emas untuk pandai membagi waktu antara kewajiban akademis dan hasrat berbisnis.
Menjinakkan Monster Internal dan Drama Ghosting
Namun, layar berekspresi tidak selamanya menampilkan gambar yang indah. Rijal harus bertarung di dua medan perang yang menguras energi.
Secara internal, ia kerap kali dihantam badai insecurity. Monster di dalam kepalanya sering berbisik, meragukan apakah kemampuannya sudah cukup layak disandingkan dengan fotografer lain.
Sementara dari luar, ia harus menelan pil pahit dunia bisnis, menghadapi calon konsumen yang tidak jelas. Ujian mental terberatnya adalah saat drama di “ghosting” terjadi ketika calon klien sudah berkata sepakat untuk melakukan booking, namun tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi tanpa kepastian.
Dari seluruh asam garam yang ia telan di usia muda, Rijal menitipkan sebuah pesan mendalam. Sebuah refleksi tamparan bagi siapa saja yang baru ingin melangkah.
“Siapkan mental gagal. Kadang seseorang memulai bisnis hanya membayangkan profit atau bisnis yang terus berkembang, padahal ada kegagalan yang kadang enggak siap diterima. Semua pebisnis siap berhasil, tapi tidak siap untuk gagal.” Ujar Rijal Arrasyid
Kisah Rijal Arrasyid adalah sebuah romansa tentang perjuangan seorang mahasiswa. Ia mengajarkan kita bahwa dari sebungkus sempol dan kamera pertama di semester tujuh, sebuah keberanian bisa mengubah ketidakpastian mahasiswa tingkat akhir menjadi sebuah karya yang abadi.
Reporter: Salsabila Ayu
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply