
Source: acehTrend.com
Lhokseumawe, 6 Juni 2026 – Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti sebuah keluarga saat prosesi Peusijuek Aneuk Agam (tepung tawar anak laki-laki) dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian adat khitanan. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Aceh ini menjadi simbol doa, rasa syukur, serta harapan agar anak yang dikhitan tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan berguna bagi agama, keluarga, serta masyarakat.
Dalam prosesi tersebut, Muhammad Haris, yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), duduk dengan tenang di hadapan keluarga dan para tetua adat. Secara bergantian, mereka memercikkan air peusijuek sambil melantunkan doa-doa keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi Haris yang tengah memasuki salah satu tahapan penting dalam kehidupannya.
Peralatan adat yang digunakan dalam peusijuek tampak lengkap, di antaranya daun seuneujuk, daun cocor bebek, naleung samboe, dan daun manek manoe yang dirangkai menjadi satu ikatan sebagai alat pemercik air peusijuek. Selain itu, turut disediakan beras padi, air tepung tawar, serta ketan kuning yang melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, dan harapan akan masa depan yang baik.
Muhammad Haris mengaku senang dapat menjalani prosesi adat yang menjadi bagian dari budaya Aceh tersebut. Ia juga merasa bangga karena dapat melaksanakan khitanan yang disertai dengan doa dan restu dari keluarga besar, dan acara ini sudah lama ditunggu – tunggu.
“Saya senang karena keluarga dan saudara saya yang jauh maupun yang dekat datang memberikan doa. Semoga saya menjadi anak yang baik, rajin belajar, dan bisa membanggakan orang tua,” ujar Muhammad Haris.
Masyarakat yang hadir menilai bahwa tradisi peusijuek bukan sekadar ritual adat, melainkan sarana untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Kehadiran keluarga besar dan para tetangga dalam acara tersebut menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi peusijuek masih terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Aceh yang kaya akan nilai religius dan sosial. Prosesi khitanan yang dipadukan dengan peusijuek menjadi bukti bahwa adat istiadat dan ajaran agama tetap berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan jamuan makan yang dihadiri keluarga serta para tamu undangan, menambah kehangatan suasana dan memperkuat semangat kebersamaan yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat Aceh.
Reporter : Nana Afriani
Editor : Zulfiana
Leave a Reply