
Source Doc: JawaPost.com
Lhokseumawe, (05/06/2026). Malam itu, Zahra (22) masih duduk di warung tempat ia bekerja sambil menunggu pembeli datang. Di sela-sela waktunya, ia membuka media sosial dan melihat berbagai unggahan teman-temannya. Ada yang baru wisuda, mendapat pekerjaan, hingga membagikan pencapaian yang membuatnya merasa tertinggal.
“Kadang saya merasa insecure kalau melihat teman-teman sudah wisuda atau punya pekerjaan yang lebih baik. Sementara saya masih bekerja di sini dan belum tahu kapan bisa sampai seperti mereka,” ujar Zahra. Perempuan 22 tahun itu kini bekerja menjaga warung untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Perasaan yang dialami Zahra ternyata juga dirasakan banyak anak muda. Media sosial membuat seseorang dapat dengan mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari. Tanpa disadari, hal tersebut sering memunculkan kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan kehidupan yang terlihat di layar ponsel.
Namun, apa yang tampak di media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan sepenuhnya. Di balik setiap pencapaian, ada proses panjang yang jarang diketahui banyak orang. Perjuangan, kegagalan, dan berbagai kesulitan sering kali tidak ikut terlihat dalam sebuah unggahan.
Seiring berjalannya waktu, Zahra mulai belajar menghargai proses yang sedang ia jalani. Baginya, bekerja dengan jujur dan membantu keluarga juga merupakan sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan hidup yang berbeda.
Kini, Zahra memilih untuk lebih fokus pada dirinya sendiri daripada terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Meski belum berada di titik yang diimpikan, ia percaya setiap usaha akan membawa hasil pada waktunya. Baginya, tidak masalah jika berjalan lebih lambat, selama ia terus melangkah dan tidak berhenti berproses.
Reporter: Rahma Annisa Siregar
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply