Memaknai Idul Adha Lewat Kisah Sansan Melalui Jarak dan Menempuh Ikhlas

Lhokseumawe, (04/06/2026) – Bagi sebagian orang, Idul Adha adalah momen berkumpulnya keluarga besar di meja makan, menikmati aroma gulai kambing atau ketupat hangat buatan ibu. Namun, bagi Sauzan Salsabila Riad (21) atau yang akrab disapa Sansan , suasana riuh itu kini digantikan oleh heningnya kamar kos.

Sudah 2,5 tahun gadis asal Bogor, Jawa Barat ini menjalani kehidupan sebagai anak rantau di Aceh. Tahun ini menjadi kali kedua bagi mahasiswa semester 6 Jurusan Ilmu Komunikasi tersebut merayakan lebaran haji jauh dari pelukan hangat orang tua.

“Di rumah sebenarnya tidak ada tradisi yang muluk-muluk, hanya masak dan makan bersama keluarga seperti pada umumnya. Tapi justru hal sederhana itulah yang paling dirindukan selama di perantauan” ungkap Sansan, mengenang rumahnya di Bogor.

Berbelok Arah Demi Harapan Keluarga

Perjalanan Sansan menginjakkan kaki di Aceh sebenarnya bukanlah rencana awal yang ia susun. Setamat dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sansan yang sudah mengantongi sertifikasi profesi sebenarnya berniat langsung terjun ke dunia kerja. Namun, takdir dan restu orang tua membawanya ke arah yang berbeda.

Keluarga besarnya meminta Sansan untuk tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Setelah melihat realita betapa ketat dan sulitnya persaingan mencari kerja tanpa gelar sarjana, Sansan akhirnya memantapkan hati.

Atas saran keluarga, ia memilih Aceh sebagai tempat menimba ilmu, sementara jurusan komunikasi ia pilih sesuai minat pribadinya. Namun, kuliah di tanah orang tidak selamanya berjalan mulus. Badai keraguan sempat mengguncangnya ketika ia menginjak semester 3 dan 4.

“Waktu itu rasanya ingin berhenti kuliah saja. Ada keinginan yang kuat untuk langsung kerja supaya bisa bantu ekonomi keluarga,” kenang Sansan.

Keinginan itu terpaksa ia pendam dalam-dalam karena pihak keluarga melarangnya berhenti di tengah jalan. Orang tuanya meyakinkan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik.

Hakikat Pengorbanan Sang Anak Sulung

Sebagai anak pertama, Sansan memikul pundak yang cukup berat. Ia sadar, keberhasilannya di bangku kuliah akan menjadi kompas dan contoh bagi sang adik di masa depan. Namun, alih-alih merasa terbebani, Sansan justru melihat makna pengorbanan dari sudut pandang yang lebih dalam.

Bagi Sansan, pengorbanan terbesar dalam hidupnya saat ini bukanlah rasa rindu atau rasa sunyi yang ia rasakan di kamar kosnya saat takbiran menggema. Pengorbanan terbesar adalah apa yang telah diberikan oleh orang tuanya.

Meninggalkan zona nyaman di Bogor dan belajar beradaptasi dengan budaya baru di Aceh adalah kurban perasaan yang harus ia bayar. Sansan percaya penuh bahwa setiap peluh, air mata, dan rasa sepi yang ia lalui sebagai anak rantau tidak akan mengkhianati hasil akhir.

Di akhir wawancara Sansan menutup ceritanya dengan keyakinan kuat bahwa setiap pengorbanan di tanah perantauan ini kelak akan membuahkan hasil yang memuaskan dan membanggakan orang-orang yang ia cintai di rumah.

Reporter: Salsabila Ayu

Editor: Afifa Khairiyah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *