
Blang Pulo, 3 Juli 2026 – Kebiasaan doomscrolling atau menggulir media sosial secara terus-menerus kini semakin banyal dialami oleh mahasiswa. Awalnya dilakukan untuk mencari hiburan atau memperoleh informasi terbaru, namun tanpa disadari kebiasaan tersebut justru menghabiskan banyak waktu dan berdampak pada produktivitas serta aktivitas akademik.
Salah seorang mahasiswa program studi ilmu komunikasi, Nadia Putri Ramadhani, mengaku sering mengalami doomscrolling, terutama saat memiliki waktu luang atau sebelum tidur. Menurutnya, kebiasaan tersebut sering kai membuat waktu belajar menjadi berkurang karena tanpa sadar ia menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.
“Saya biasa Cuma niat buka media sosial sebentar buat lihat informasi atau hiburan, tapi akhirnya malah keterusan sampai satu atau dua jam. Akibatnya tugas sering tertunda dan wakktu belajar jadi berkurang,” ujar Nadia.
Ia menjelaskan bahwa dampak doomscrolling tidak hanya dirasakan pada produktivitas, tetapi juga terhadap konsentrasi saat mengikuti perkuliahan. Informasi yang terus bermunculan di media sosial membuat pikirannya sulit fokus sehingga proses belajar menjadi kurang maksimal.
Menurut nadia, kebiasaan tersebut mulai terasa mengganggu ketika jadwal kuliah sedang padat atau menjelang pengumpulan tugas, Keinginan untuk membuka media sosial hanya beberapa menit sering kali berubah menjadi aktivitas yang berlangsung lebih jauh lebih lama dari yang direncanakan.
“Biasanya saya bilang ke diri sendiri cuma lima menit saja, tapi ternyata jadi lama. Akhirnya, tugas dikerjakan mendekati batas waktu pengumpulan karena waktu sudah banyak terpakai untuk scrolling,” katanya.
Mahasiswa semester enam itu juga menilai bahwa algoritma media sosial, tren digital yang sedang viral, serta konten dari para influencer menjadi faktor yang paling memengaruhi kebiasaan mahasiswa menggunakan media sosial. Selain itu, diskusi dengan teman mengenai konten yang sedang ramai membuat rasa penasaran semakin meningkat sehingga sulit menghentikan kebiasaan tersebut.
Ia mengaku paling sering melakukan doomscrolling ketika berada di kos atau di rumah, terutama pada saat malam hari sebelum tidur. Namun, kebiasaan itu juga kerap terjadi saat menunggu dosen datang ke kelas atau ketika sedang beristirahat dilingkungan kampus.
Menurutnya, meningkatnya fenomena doomscrolling tidak terlepas dari kemudahan akses informasi melalui media sosial. Berbagai konten yang terus muncul di beranda membuat pengguna terdorong untuk terus menggulir layar tanpa menyadari waktu yang telah dihabiskan.
Untuk mengurangi kebiasaan tersebut, Nadia mulai menerapkan beberapa langkah sederhana, seperti memanfaatkan fitur pembatas waktu (screen time) pada telepon genggam, mengaktifkan mode fokus saat belajar, serta meletakkan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau ketika mengerjakan tugas.
“Sekarang saya mencoba membatasi waktu bermain media sosial. Kalau lagi belajar, saya aktifkan mode fokus supaya tidak terganggu notifikasi. Cara itu lumayan membantu saya lebih konsentrasi menyelesaikan tugas,” ungkapnya.
Fenomena doomscrolling menjadi pengingat bahwa penggunaan media sosial perlu dilakukan secara bijak. Di tengah derasnya arus informasi digital, mahasiswa dituntut mampu mengelola waktu dan mengendalikan kebiasaan menggunakan gawai agar aktivitas akademik tetap berjalan optimal. Dengan membangun kesadaran dalam menggunakan media sosial secara seimbang, mahasiswa diharapkan dapat tetap memperoleh manfaat dari teknologi tanpa mengorbankan produktivitas maupun kualitas belajar.
By: Nazwa Fitri Andini
Editor: Joan Ayurahadani
Leave a Reply