Sudut Kos 3×4 yang Menjelma Jadi Ruang Pulih bagi Mahasiswa yang Patah Arah

Source Doc: istockphoto.com

Lhokseumawe, (01/07/2026). Di balik pintu kamar nomor 12 sebuah kos padat dekat kampus, lampu meja kuning temaram menyala.

Di bawahnya, papan tulis kecil bertuliskan “Pintu Terbuka, Telinga Tersedia. Sini Cerita” menyambut hangat siapa saja yang datang berkunjung.

Bagi mahasiswa perantau, kos biasanya hanya tempat transit untuk melepas penat setelah kuliah.

Namun, Rian (22) mahasiswa semester akhir jurusan Psikologi, sengaja menyulap kamar 3×4 meter miliknya menjadi suaka emosional informal bagi teman-temannya yang sedang kehilangan arah.

beban mental rekan sesama mahasiswa, mulai dari tekanan akademik hingga kecemasan masa depan.

Isu-isu berat tersebut sering kali dipendam sendiri oleh mereka karena terkendala mahalnya biaya konsultasi ke tenaga profesional.

“Banyak teman yang sebenarnya tidak butuh solusi instan atau obat-obatan medis. Mereka hanya butuh didengar tanpa langsung dihakimi atau dibanding-bandingkan masalahnya dengan orang lain,” ujar Rian sambil menyeduh cangkir teh hangat malam itu.

Setiap akhir pekan atau malam selepas kuliah, Rian menggelar tikar gratis dengan komitmen penuh untuk menyimak.

Sebagai mahasiswa psikologi, ia sadar batasan etika ruang ini murni sebagai dukungan sebaya (peer support), dan ia akan langsung merujuk kasus depresi berat ke psikolog profesional atau biro resmi kampus.

Deni (21), salah satu mahasiswa yang sering berkunjung, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran bilik curhat informal ini.

“Curhat di sini rasanya lepas tanpa jarak formal, duduk di lantai sambil minum teh membuat pundak yang penuh beban terasa jauh lebih ringan,” ungkapnya.

Di tengah padatnya ritme kehidupan mahasiswa dan meningkatnya tekanan kesehatan mental, kamar kos berukuran 3×4 meter itu membuktikan bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan ruang yang megah.

Terkadang, secangkir teh hangat, sepasang telinga yang mau mendengar, dan kalimat sederhana “ceritakan saja, aku mendengarkan” sudah cukup.

Reporter: Shafa Zahwah

Editor: Afifa Khairiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *