Tak Semua Rindu Bisa Pulang, Namun Ponsel Sederhana Ini Berhasil Mengabadikannya

Source Doc: Unplash.com

Lhokseumawe, (30/06/2026). Di tengah ramainya jalanan Kota Lhokseumawe, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh memilih menyusuri sudut-sudut kota dengan ponsel sederhana di tangannya untuk mengabadikan wajah-wajah para perantau.

Bukan demi konten viral atau foto yang sempurna, tetapi untuk merekam kisah tentang rindu, perjuangan, dan harapan yang tumbuh jauh dari rumah.

Setiap langkah mempertemukannya dengan cerita yang berbeda ada senyum yang menyembunyikan rasa lelah, tatapan yang memendam kerinduan, serta harapan yang tetap menyala meski jarak memisahkan mereka dari keluarga.

Di balik hiruk-pikuk kota, ia menyadari bahwa setiap orang membawa beban dan cerita yang tak selalu mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Salah satu kisah datang dari Nuri (21), mahasiswa perantau yang meninggalkan kampung halamannya demi melanjutkan pendidikan.

“Merantau mengajarkan saya untuk mandiri, tetapi juga membuat saya semakin memahami arti rumah. Setiap kali menelepon orang tua, saya selalu mengatakan baik-baik saja, padahal yang paling saya rindukan adalah bisa berkumpul bersama mereka,” ungkapnya.

Baginya, setiap wajah yang dipotret adalah pengingat bahwa perjuangan sering kali berjalan berdampingan dengan kerinduan.

Potret-potret itu kemudian menjadi lebih dari sekadar gambar karena setiap bingkai menyimpan kisah tentang keberanian meninggalkan rumah, proses beradaptasi di lingkungan baru, serta mimpi yang terus diperjuangkan meski harus hidup jauh dari keluarga.

Melalui lensa ponsel sederhana, kisah-kisah para perantau akhirnya menemukan ruang untuk didengar, sebab tidak semua rindu dapat segera dipeluk oleh kepulangan, tetapi setiap perjuangan akan selalu memiliki cerita yang layak untuk diabadikan.

Reporter: Rahma Annisa Siregar

Editor: Afifa Khairiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *